Loven Draft

Loven Draft
Istri Selalu Benar



Chaka segera menggendong Yana, lalu pergi menggunakan mobil. Dibiarkan pengawal Belko mengatasi Ronal, bersama dengan detektif Melvi.


"Sayang, kenapa tidak membantu pengawal Belko?" tanya Yana.


"Tenang saja, di rumah villa banyak pengawal. Aku akan menyuruh mereka datang membantu." jawab Chaka. "Yana, aku punya hadiah buku resep membuat kopi untukmu." Memberikannya barang yang dimaksud.


"Terima kasih sayang." jawab Yana.


Olimpiade Matematika London telah resmi dimulai, begitulah kira-kira pembawa acara antusias dalam mengatakannya.


"Isruni tidak berprestasi dalam bidang olahraga, harusnya dia tidak ikut."


"Seharusnya gitu, tapi aku harus melempar pertanyaan padanya." jawab Kaila.


"Pertanyaan apa?" Kaihan penasaran.


"Pertanyaan seputar kehidupan keluarga Isruni dan Kak Ronal. Kak Chaka yang menyuruhku, untuk melakukan tugas ini." jawab Kaila.


"Memangnya Kak Ronal bagian kerabat Isruni?" Kaihan heran, karena baru mengetahui hal ini.


"Tentu saja, aku melihat mereka berada di satu rumah. Di depan kita saja bersandiwara, sengaja menggunakan rumah yang terpisah. Sejak awal, dia mendekatimu untuk membunuh Kak Chaka." jelas Kaila.


"Yang benar saja, jahat sekali beb." Kaihan ngeri-ngeri sedap mendengarnya.


"Makanya itu beb, aku jadi takut dengan keselamatan keluarga." Kaila mengerucutkan bibirnya.


"Sudah lama kita tidak memanggil Bebeb, ada yang canggung dengan sebutan tersebut." ungkap Kaihan.


"Itu karena Mama dan Papa tidak boleh. Terlalu alay, pacaran sesudah menikah saja." Kaila sebal mengingat nasehat mamanya, namun harus menghargai rasa sayang.


Sudah sampai di rumah, Yana membuka buku resep kopi. Ingin mempraktikannya, namun tidak punya mesin kopi. Dia duduk termangu sebentar, teringat akan marmut kesayangan.


"Nah, gawat! Aku lupa untuk memberinya makan." Berlari kekuatan petir gila.


Yana menggunakan tangkai sekop penggali tanah, untuk memanen tumbuhan wartel. Dia sedang terburu-buru, jadi butuh alat yang mempercepat pekerjaannya.


"Kenapa tidak menggunakan tangan saja, malah lebih praktis." Chaka ikut mencabuti tumbuhan wartel segar itu.


"Kelamaan, setelah ini aku harus mencoba resep membuat kopi latte. Masih harus pesan lewat online, karena tidak punya alat mesin kopinya." Yana menjelaskan hal yang mengganggu pikirannya, sehingga berusaha cepat mengerjakan yang seharusnya.


"Tenang saja, aku sudah memesan mesin kopi." ucap Chaka, dengan serius.


"Baiklah, aku bisa sedikit lega sekarang." jawab Yana.


Yana masuk ke dalam rumah, lalu berjalan menuju kamar. Padahal kakinya sangat kotor, baru saja dari kebun.


"Mau protes tapi istri." Chaka mengurungkan niat.


"Apa? Ini cuma tanah juga kali." Yana melotot ke arah Chaka, agar dia mengerti istri selalu benar. "Pepatah mengatakan istri adalah ratu, yang tidak pernah salah." Mengomel sambil meraih handuk Chaka.


"Sayang, ini namanya penindasan terhadap suami. Dalam rumahtangga harus ada peraturan yang seimbang." Chaka sedikit protes.


Yana masuk ke kamar mandi, saat Chaka masih mengejar langkahnya. Chaka bersandar di depan pintu kamar mandi, lalu Yana keluar dua menit kemudian. Chaka hendak ambruk, lalu Yana menangkapnya.


"Aduh..." Yana memegangi perutnya, yang mulai keram.


Chaka segera berdiri dengan tegap, lalu menggendong tubuh Yana ke atas ranjang kasur. "Beristirahatlah, biar kehamilan kamu terjaga."


"Ambil baju di lemari suamiku." pinta Yana dengan manja.


"Baiklah, aku akan membantumu memasangkannya juga." jawab Chaka.


Yana menggelengkan kepalanya. "Aku bisa sendiri, jangan melawan padaku. Istri selalu benar, patuh iya."


"Baiklah." Chaka menunduk, membiarkan Yana mengusap kepalanya.