Loven Draft

Loven Draft
Tidur Satu Ranjang



Chaka naik ke atas ranjang tidur, dan mulai mendekap tubuh istrinya. Bersamaan dengan itu Tasya membuka pintu, lalu Chaka berpura-pura menari kuda lumping. Dia jingkrak-jingkrak di atas ranjang tidur.


"Eh, Mama baru tahu kamu bisa menari." Tasya merasa lucu, menutup mulut mungilnya.


"Iya Ma, makanya kaki perlu alas yang empuk. Jadi aku bergerak di atas ranjang tidur." jawabnya.


"Iya, terserah kamu saja. Mama hanya menawari kalian makan malam." ujar Tasya.


"Heheh... maaf Ma, kami berdua sudah makan di luar. Sekalian pulang dari kantor polisi tadi sore." jawab Chaka ramah.


"Kasus kriminal kamu sudah beres?" Tasya sedikit ingin tahu.


"Sudah Ma." jawab Chaka.


Tasya ikut senang mendengarnya, segera menutup pintu kamar. Baru saja Chaka mau naik ke atas ranjang tidur, tiba-tiba pintu terbuka lagi.


Tasya melambaikan tangan." Maaf, sudah mengganggu waktu kalian."


"Iya Ma, tidak apa-apa." Menjawab serentak, sambil malu-malu.


Yana mau makan coklat malah keliru menggigit bungkusnya. Chaka tertawa-tawa, setelah kepergian Tasya. Meledek Yana dengan sebutan tikus, berulang kali dilakukannya.


"Sini, biar aku suapi. Daripada kamu tidak bisa fokus begitu." Chaka mengambil coklat di tangan Yana, lalu mengigit separuh.


"Mengapa hanya tinggalkan separuh? Kalau kamu memang berselera, habiskan saja." Memasang raut wajah cemberut.


"Tidak ingin makan sendiri, aku berniat menyuapi." Chaka menjulurkan coklatnya ke arah Yana.


Chaka langsung memasukkan coklat ke mulut Yana yang terbuka. Chaka menggigitnya dengan cepat, saat melihat Yana melahap coklat dengan perlahan.


"Eh, apaan kamu kok jadi begini. Katanya tadi cuma mau menyuapi." Yana protes.


"Yana, aku itu mau melakukan dua-duanya. Ibaratnya, sekali melangkah dua pulau terlampaui." jawab Chaka.


Bibir mereka saling bertautan, lalu setelahnya berhenti sejenak. Memberi kesempatan masing-masing, untuk menghirup udara bebas. Baru mereka mulai melakukan yang seharusnya, ke tahap ini dan itu sesuai kesukaan. Tentu saja, berdasarkan minat masing-masing. Kedua nafas mereka saling memburu, bagaikan sedang lomba lari maraton. Mereka bermesraan sampai pagi hari tiba.


Keesokan harinya, bangun dengan badan yang begitu pegal-pegal. Yana menutupi tubuh sambil menendang-nendang selimut, memperhatikan sekelilingnya tidak ada orang. Terdengar gemericik air di kamar mandi, sepertinya Chaka yang sedang mandi.


"Apa yang sudah aku lakukan dengannya. Hmmm... kenapa menyerahkan diri sebelum waktunya. Kok bisa si, aku malah lupa mencegah." Yana geleng-geleng kepala, dengan perasaan tak karuan. Melihat Chaka keluar dari kamar mandi, sambil mengusap rambutnya yang basah.


Kaila mengamati kebun wartel Yana, untuk mengerjakan tugas pengamatan. Hari besok harus sudah dikumpulkan, dan sekarang hari libur kesempatan mengerjakannya. Kaihan sudah muncul dengan membawa buku, dan menggandeng keranjang cemilan yang terselip di antara jari jemarinya.


"Kaila, kalau kamu lapar makan roti yang aku bawa saja." ujar Kaihan.


Kaila membuka keranjang yang setengah tertutup. "Eh, rumah aku itu tidak jauh Beb. Kamu tidak usah khawatir, kalau lapar atau haus tinggal lari." Tertawa dengan cara Kaihan mempersiapkan semuanya.


Tiba-tiba saja, Yana muncul menyapa mereka. Kaila dan Kaihan tertawa terbahak-bahak bersama. Melihat mereka seperti itu, merasa dirinya ada yang aneh. Yana mencium bajunya, namun tidak bau busuk.


"Apa yang kalian tertawakan?" Bertanya, karena menyimpan rasa penasaran.


"Baju Kakak terbalik." Menutup mulut bersamaan, lalu setelahnya tertawa cekikikan kuat.