Loven Draft

Loven Draft
Chaka Dan Belko



Yana merasa senang, namun juga sedih. Jika antusias penonton dihilangkan, namun bisa mengembalikan suaminya dia pun rela. Ada rasa rindu menjelma, padahal ingin menonton bersama Chaka.


”Suamiku, apa benar kamu sudah mati? Namun, pengawal Belko saja masih hidup, memilih bersembunyi.” Berbicara dalam batin.


Detektif Melvi menghampiri Chaka, yang sedang duduk-duduk santai. Namun tidak sesantai isi hatinya, yang berusaha menguak kasus misterius.


"Tuan Chaka, aku ingin menyelidiki seseorang di luar kota." ucap detektif Melvi.


"Iya silakan, namun kamu harus berhati-hati." jawab Chaka.


"Tenang saja, aku menaiki kereta siang ini. Lusa juga sudah sampai kok." jawab detektif Melvi.


"Baiklah, aku hanya bisa bilang selamat jalan." Chaka melambaikan tangan.


Detektif Melvi sudah pergi bersama beberapa pengawal, sedangkan Belko menemani Chaka di villa. Chaka akan menggerutu, dibiarkan jenuh tanpa teman berbicara.


"Eh, waktu itu nona Yana menabrak ayam Bangkok, mengapa tidak tuan Chaka saja yang menyelamatkannya. Hitung-hitung, aku bisa melihat drama romantis gratis." Belko mengedipkan mata ke arahnya.


"Kamu ingin rencana kita berantakan? Aku sengaja tidak muncul, agar Yana tidak mengetahui aku masih hidup." Chaka menjawab dengan cepat.


"Setidaknya, yang menyuruh aku menyelamatkan nona Yana adalah tuan. Iya sudah, anggap saja tuan tetap pahlawan seorang istri ." Memasang raut wajah sedih, dengan memajukan bibirnya.


Chaka mendorong pipi Belko, bagian sebelah kiri. "Pengawal, kelihatannya kamu sudah pandai bercanda. Apa akhir-akhir ini, kamu menjadi lajang yang kesepian."


"Mana mungkin, aku saja naksir sama Bibi baru." Menutup mulut sendiri, karena Belko keceplosan.


"Tuan, bibirku akhir-akhir ini tidak sehat. Jadi, bicara sudah tidak bisa beraturan." Masih saja beralasan pengawal Belko ini, malu untuk mengakui perasaan.


"Aneh juga, namun aku mempunyai firasat lain." jawab Chaka.


"Apa itu tuan Chaka?" Belko serius, mengira firasat tentang penyelidikan kematian orangtuanya.


Chaka mendekatkan wajahnya ke arah wajah Belko, membuat yang ditatap memundurkan sedikit kepalanya. "Kamu mengawasi Yana, karena mau melihat Bibi Een. Aciee...!" Tersenyum menyebalkan.


Belko mengalihkan pandangan ke arah buku resep, lalu membukanya sambil terbalik lagi. "Tidak, aku hanya ingin menjalankan tugas dengan baik."


"Malu-malu, sampai bukunya terbalik." Chaka sengaja usil, membuat Belko tambah malu.


Chaka menjadi tertawa melihat pipi Belko bersemu merah, jarang-jarang bisa menggoda balik pengawal setianya.


Di kelas, Kaila dan Kaihan mendengarkan berita Olimpiade Matematika akan digelar. Kabarnya negara London, yang akan jadi tempat acaranya.


"Eh Kaila, kamu 'kan sekarang ketua OSIS. Yakin tidak, kalau bisa berpartisipasi?" tanya teman perempuan, yang sekelas dengannya.


"Mana bisa, dia 'kan cuma anak konglomerat manja. Selama ini berbuat semena-mena, menyuruh kita mengenakan topi ember." sindir orang di sebelahnya.


"Aku bersalah pada kalian di masa lalu, aku minta maaf dan sudah memperbaiki perilaku. Buktinya, sekarang aku tidak usil lagi 'kan? Nah dengan begitu aku ingin memberitahu kalian, bahwa kupu-kupu pun memiliki proses. Sekarang nilai tugasku mulai meningkat, aku yakin suatu hari aku bisa jadi orang hebat." Kaila tersenyum ke arah mereka.


"Buktikan pada kami, bahwa kamu bisa memenangkan Olimpiade London ini. Kami ingin kamu mengikutinya, sampai membawa nama harum sekolah." jawab salah satu orang, yang menantang Kaila.