Loven Draft

Loven Draft
Melarang Pergi



Kaila dan Kaihan yang sejak tadi ada di pojokan, tertawa cekikikan melihat respon Yana pada Chaka.


"Ngapain kalian tertawa." Chaka memasang raut wajah dingin, meskipun tidak disertai bentakan.


"Tidak, kami hanya menertawakan tingkah kami yang konyol." jawab Kaihan.


Chaka beringsut dari posisi jongkoknya, menuju pintu belakang rumah. Dia melihat Yana berbincang dengan Ronal begitu akrab. Chaka dengan cepat berlari, tatkala melihat Yana mengarahkan ponselnya pada Ronal.


"Eh Ronal, kita foto bersama yuk." ajak Yana.


"Boleh, boleh, ayo." Ronal sudah membuat gaya ciri khasnya.


Saat kamera mulai membidik, Chaka sengaja lewat mondar-mandir. Dia menikmati secangkir kopi, sambil memperhatikan kedekatan mereka berdua.


"Hih Chaka, kamu mengganggu saja. Cepat awas, aku ingin foto dengan Ronal." celetuk Yana, mengusir seraya mendorong tubuh Chaka.


"Apaan, aku hanya sedang bersantai. Aku merasa jenuh saja, dari tadi tidak diajak mengobrol." jawab Chaka dengan entengnya.


"Eh, mengapa kamu ambil kopi untuk Ronal." Yana protes, merasa tidak terima.


"Ini 'kan buatanmu, jadi aku berhak meminumnya." jawab Chaka.


"Tidak tahu diri!" Yana berkacak pinggang, sambil menjulurkan lidahnya juga.


"Biarin." Chaka membalas mengulurkan lidahnya juga.


Yana dan Ronal pergi ke tempat lain, namun Chaka masih membuntuti dengan tidak tahu malunya. Yana merasa Chaka hanya mencari cara, untuk menghalang-halangi kebahagiaannya.


"Eh, nanti malam kita jalan yuk. Ada yang ingin aku bicarakan." ajak Ronal.


"Oh iya boleh, lagipula aku tidak ada acara." jawab Yana.


Malam hari pun tiba, Yana berdandan secantik mungkin. Dia sudah mengenakan sepatu, bersiap untuk pergi sendirian.


"Untuk apa kamu berdandan secantik ini?" Chaka ingin tahu saja.


"Iya tidak apa-apa, aku tidak ingin terlihat jelek." jawab Yana.


"Percuma, lagipula dia tidak bisa melihatmu. Meski kamu memakai baju compang-camping, dia tidak akan berkomentar apapun. Kecuali, hanya mendengar cekikikan orang-orang sepanjang jalan." jelas Chaka, menunjukkan tidak suka.


"Biarkan saja, selalu tampil cantik itu tetap penting." jawab Yana.


Saat Yana berdiri, Chaka sengaja menginjak tali sepatunya. Yana hampir terjatuh, dan beruntung Chaka menggenggam tangannya. Seketika Yana pingsan, dan Chaka menggendongnya ke tempat tidur.


"Please, aku tidak ingin kamu bangun. Pasti nanti kamu bakalan ketemu Ronal." Chaka lumayan khawatir, sambil memandangi Yana yang belum sadar juga.


Ronal menunggu di tempat yang sudah disepakati, sambil memperhatikan jarum jam yang terus berputar. Detik demi detik berlalu, tetap juga tidak tampak si Yana.


"Kenapa Yana belum datang juga iya?" Bertanya-tanya sendiri.


Tiga jam kemudian, Yana baru tersadar dari pingsannya. Dia buru-buru bangun, keliru mengenakan sepatu. Sebelah kanan dipakai di kiri, begitupun sebaliknya.


"Yana, kamu ngapain buru-buru. Sudahlah, palingan juga dia pulang ke rumah. Jenuh, kelamaan menunggu kamu." Chaka sengaja mencegah Yana untuk pergi.


"Tidak mau, aku harus datang ke tempat janjian." jawab Yana.


"Tidak boleh, ini sudah mendekati larut malam." Melarang dengan tegas.


Yana tetap saja ngotot ingin bertemu Ronal. "Pokoknya, aku tidak mau diatur sama kamu."


Yana segera berlari keluar kamar, setelah berhasil membuka pintu. Dalam perjalanan pandangannya masih kabur, karena kepalanya sedikit pusing. Dia pingsan lumayan lama, jadi ada rasa tidak nyaman saat sadarkan diri.