
Sudah makan, masih berbicara saja. Kaila sedang asyik-asyiknya, karena Yana sudah tidak sedih lagi.
"Kak, dedek bayi sekarang senang tidak iya makan tanpa papanya?" tanya Kaila.
"Senang kok, setidaknya punya Bibi cerewet sepertimu." Yana tersenyum, ke arah adiknya.
"Kalau tidak ada yang heboh, kurang seru ya Kak?" Kaila merasa paling berperan.
"Iya, kamu pemeran cerita paling hebat." jawab Yana, memujinya untuk menguji sifat bangganya.
Devin menyahut dadakan. "Kaila, ada yang ingin Papa katakan."
"Silakan." Kaila mengigit usus ayam, dengan perlahan-lahan.
"Kaila, Papa menyadari bahwa Kaihan baik untukmu. Dia pantas berada di posisi sekarang, karena telah membuatmu semangat mengikuti Olimpiade London. Kalian dekat juga bukan hal buruk." jelas Devin.
Belum selesai menjelaskan, sudah terdengar suara tepuk tangan riuh. Kaila sangat antusias, mendengarkan kalimat yang sudah terasa satu abad tidak terwujud.
Plok!
Plok!
"Aku berhak bangga, untuk pertama kalinya Papa tidak mengatakan hal buruk. Bukankah sejak awal, Papa selalu menentang hubungan kami?" Kaila tersenyum ceria.
"Ini tidak termasuk aturan keluarga menjadi bebas. Kamu harus tetap menjaga jarak, karena bagaimanapun dia laki-laki." jawab Devin tegas.
Yana ikut nimbrung, sambil menggerakkan jari telunjuk di udara. "Ingat iya Dik, dia tetap laki-laki. Sengaja menekankan kalimat yang diucapkan. "Meskipun dia merubah tampilan menggunakan rok." ucapnya.
"Dih, bahagia sekali jika aku tersudut." Kaila mengerucutkan bibir miring. "Sudah lama menantikan, tidak tahunya masih ada aturan. Apa tidak cukup tiga hari membuat otakku berlari." Kaila mengelap bibirnya dengan tisu.
"Iya Papa, aku tidak akan berkhianat pada kepercayaan. Aku akan menjaga jarak, demi menjaga nama baik keluarga." jawab Kaila, yang mengalah juga.
Chaka menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, dia bagai sang putri menunggu pangeran. Pengawal Belko ikut resah melihat tuan mudanya, yang seperti rumput layu karena tidak disiram.
"Sebentar lagi, sabarlah menunggu. Nona Yana juga tidak akan berpaling."
"Kepalamu besar, baru tidak berpaling! Sebentar saja tidak muncul, beredar kabar dia akan menikah dengan lelaki lain." Menjawab, dengan intonasi cemburu.
Sementara di sisi lain, Yana bersantai di depan kolam renang. Kakinya diluruskan ke atas penyangga besi, sambil mengelus perutnya yang rata. Yana mengetuk perut sendiri, sambil tertawa kuat.
Febby dan Artha sampai rumah dijewer, membuat para tetangga heboh di emperan. Alhasil, Febby sangat malu sepanjang perjalanan. Dia sampai ingin menutup lubang udara, supaya nyamuk dan lalat tidak ikut menertawakan musibah yang menimpanya.
"Kalian tadi mau stempel hak milik 'kan?" Bertanya dengan serius, sampai mamanya ikut keluar dari dapur.
"Ayah, kami memang berniat melakukannya kalau Ayah tidak ada. Namun berniat mengurungkan, bila Ayah melihat." jawab Artha, dengan entengnya.
"Menantu tengil, tidak tahu untung."
"Aku bukan barang dagangan, mana bisa menyebabkan keuntungan." Artha menjawab dengan santai.
"Lihatlah, dia belum menjadi menantu sudah seperti ini." Ayah Febby melirik istrinya.
"Iya sudah, jangan beri dia kesempatan." jawab mama Febby.
Artha dan Febby membuka mulut sangat lebar, lalu melompat bersamaan. Menggerakkan telapak tangan mengatup, lalu sedikit membungkukkan badan.
"Terimalah permintaan maaf kami tuan dan nyonya." ucap Febby dan Artha serentak.