Loven Draft

Loven Draft
Di Tempat Meeting



Pengawal masuk ke kantor Chaka, untuk menyerahkan hasil pemeriksaan introgasi. Pelayan cafe yang tertangkap itu, tidak mengatakan dengan sejujurnya.


Plok!


Plok!


Chaka bertepuk tangan. "Pintar sekali, bagaimana mungkin bisa memberikan keterangan dengan sederhana. Dia berani sekali berbicara dusta, belum tahu siapa aku." Chaka membenarkan dasinya.


"Benar, tidak masuk akal. Dia meracuni karena unsur dengki, melihat dirimu seperti orang kaya. Bukankah di negeri ini, yang berpenampilan sepertimu banyak, yang menggunakan mobil mewah juga tidak sedikit." jawab pengawal.


Chaka diantar pengawalnya menuju sebuah hotel, untuk melaksanakan meeting dengan investor. Di sana sungguh tidak terduga, melihat Ronal datang bersama Yana. Ronal dengan tidak tahu malunya, sengaja menggandeng tangan Yana di depan Bayoli.


"Dia siapa kamu?"


"Rekan kerja, tetapi juga calon istriku." jawab Ronal, dengan percaya diri.


Semua orang yang hadir di tempat tersebut, bertepuk tangan sambil tersenyum ke arah Ronal. Yana ingin melepaskan, namun Ronal tetap menahannya. Chaka meremas kepalan tangannya sendiri, ingin rasanya menonjok Ronal jika tidak ingat posisinya sekarang.


”Aku akan meresmikan hubunganku dengan Yana secepatnya. Kami sudah menikah, semua orang harus tahu itu.” batin Chaka.


Yana berbisik. "Apa maksudmu mengaku begitu, aku tidak suka tindakanmu ini."


Ronal berbisik kembali. "Maaf Yana, memintamu bersandiwara tanpa persetujuan. Sekarang, aku benar-benar terdesak. Aku akan menceritakannya, setelah selesai meeting."


Ronal duduk di kursi. "Yana, kamu tolong bacakan proposal kerjasama kita."


"Baik tuan Ronal." jawab Yana.


Esok harinya berkumpul di ruang makan, untuk sarapan pagi bersama. Tasya dan Devin mempunyai sebuah rencana, untuk mengajak mereka ke sebuah tempat.


"Yana, Chaka, bila kalian ada waktu senggang kita pergi ke studio foto." ajak Tasya.


"Buat apa ke sana? Seperti mau foto pernikahan saja." Yana menyendok nasi dan lauk pauk, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Bukan, kami mau membuat foto keluarga." ujar Devin.


"Baiklah, aku ikut saja tak dapat membantah." Yana tidak mau ribet, dengan membuat alasan bertele-tele.


Malam hari baru Chaka pulang, setelah seharian kaki di bawa berlabuh keliling. Mulai dari mencari detektif Melvi, berkutat dengan laptop, mempersiapkan pergantian alat kerja lama dengan yang baru, wajar jika benar-benar sangat lelah.


Chaka melihat Yana tertidur pulas, di kursi sofa ruang tamu. Sepertinya dia menunggu Chaka sampai pulang, dan tidak sengaja tertidur karena sangat mengantuk. Chaka mengangkat tubuh Yana, membawanya ke dalam kamar.


"Kamu tidur pun tampak cantik, sulit menjelaskannya dengan kata-kata." Wajah dingin itu kini tersenyum sendiri, menatap tubuh Yana dari atas sampai bawah. "Aku akan menjagamu, dari orang-orang yang berniat jahat." Mengusap lembut rambut Yana.


Keesokan harinya, Yana memasak sendiri. Dia menyiapkan bekal lumayan banyak, agar bisa menawari Ronal juga.


Chaka memeluknya dari belakang, sambil mengambil makanan dengan tangan. "Ini sangat enak, tolong buatkan untuk aku juga."


"Ada bibi, kamu bisa minta dia buatkan. Aku buru-buru, dan ini untuk bekal makan siang." Yana memelototi Chaka, yang terus menyerbu makanan di dalam wadah.


Yana sibuk merebutnya, namun Chaka tidak mau mengalah. Dia terus saja makan, karena takut Yana berduaan dengan Ronal.