
Dayu memberikan separuh bukunya ke Binazir. "Ambil saja untukmu."
"Apaan, buku sobek seperti ini. Aku sudah tidak selera membacanya. Aku berikan saja padamu, untuk membalas budi." Binazir memberikan separuh buku dalam genggaman tangannya.
Binazir duduk di kursi perpustakaan, sambil membuka bungkus permen karamel. Dayu duduk di kursi yang lumayan jauh dari Binazir. Keduanya sama-sama memandang foto masa kecil.
"Bina, kamu di mana sekarang?" Dayu memegang kalung bayi hiu.
"Dayu, kamu lagi ngapain sekarang?" Binazir memandang foto masa kecil.
Whika sengaja mengejutkan Binazir. "Duar, kamu lagi ngapain?"
"Aku hanya duduk santai, niatnya ingin membaca buku." jawab Binazir.
"Mana bukunya?" tanya Belty.
"Tidak ada, sudah aku berikan pada seseorang yang lebih membutuhkan." jawab Binazir.
"Binazir memang baik hati hahah..." Memuji tidak sungguhan, masih ada candaan.
"Jangan banyak bicara, aku merasa lapar." Binazir merampas sate berukuran jumbo, yang ada di genggaman tangan Aurin.
"Ini enak sekali!" Binazir mengunyah dengan terburu-buru, karena terlalu bersemangat.
"Pelan-pelan, nanti kamu bisa tersedak." Aurin menepuk punggung Binazir.
Belty memperlihatkan tiket terjun payung, sampai Whika terpesona. Sibuk merampas barang yang ada di tangan Belty.
"Bagaimana mungkin tiket konser didesain sebagus ini." Whika membolak-balik tiket tebal tersebut.
"Iya dong, ini 'kan pertunjukan istimewa." jawab Belty.
"Aku tidak suka melihat terjun payung, kalian saja yang ikut." ucap Binazir.
"Tidak bisa, pokoknya Bina harus ikut." Aurin merayunya.
Pulang ke asrama terlebih dulu, baru mereka pergi. Hari sudah mendekati sore, namun rencana menonton itu dapat untuk menghilangkan suntuk.
"Eh, yang jadi pemain profesional namanya Dayu Anjasranu Rahardian."
"Siapa? Kok aku tidak kenal." jawab Binazir.
"Kamu tidak tahu iya, dia mahasiswa baru di kampus kita. Baru saja pindah dari luar kota, sekarang mengikuti ayahnya ke sini." Dhisa memberitahunya.
Binazir tersenyum. "Aku tidak tahu, kalau ada orang pindahan. Aku terlalu sibuk, mengurus skripsi." jawabnya.
Binazir hendak menyeberang jalan bersama Aurin, bersamaan dengan motor yang mengebut dari arah berlawanan. Dayu berlari secepat mungkin, menarik Binazir ke samping jalan. Kalung bayi hiu terlempar ke arah batu, karena cengkeraman tangan Dayu yang kasar.
Dayu mendekat lalu terkejut, karena kalung Binazir mirip dengan miliknya. "Maaf, aku tidak bermaksud merusaknya."
Binazir yang duduk berjongkok, segera beranjak dari posisinya. Binazir menatap Dayu dengan penuh kemarahan, lalu mendorong kedua pundaknya.
"Kamu tidak perlu repot-repot menyelamatkan aku. Kalung ini tidak akan bisa kamu ganti, walaupun kamu bekerja keras, menguras air laut terbesar di dunia." Binazir berbicara dengan lantang.
Dayu melihat Binazir yang sudah berlalu dari hadapannya. "Sekali lagi aku minta maaf!" Berbicara setengah berteriak.
Dayu mengeluarkan kalung bayi hiu, yang disembunyikan di balik bajunya. "Aku sudah menemukan seseorang, yang aku cari bayi hiu."
Binazir dan Aurin menonton dengan berdiri, karena kursi penonton sudah penuh. Dhisa melihat raut wajah kesal Binazir, namun sudah tahu kalung itu sangat berarti baginya.
"Bina, sepertinya dia tidak sengaja." ucap Aurin.
"Aku tidak peduli." jawabnya ketus.
"Sekarang ini, pemain profesional yang kamu tonton adalah pria muda tadi." Dhisa memberitahunya.
"Jadi, dia yang bernama Dayu si atlet terjun payung? Hah, selera menonton langsung menghilang. Aku ingin pulang ke asrama saja." Binazir berjalan dengan cepat.
"Binazir, bagaimana pun juga sudah membeli tiket. Sayang 'kan kalau tidak dipakai, lebih baik kamu ikut saja." rayu Aurin.
"Iya sudah, aku hanya ikut nimbrung. Ingat baik-baik di telinga kalian, aku tidak menyukai Dayu." jawab Binazir.
"Tidak apa-apa, Dayu untukku saja." Dhisa tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar genit!" ledek Binazir.
Mereka berjalan ke arah depan, lebih maju akan terlihat jelas. Menonton dari belakang, hanya tampak pemandangan buram. Sedangkan di sana, Binazir bisa leluasa mengambil gambar diri sendiri.
"Kok kamu asyik selfi si Bina?"
"Aku 'kan sudah hilang selera, seperti ini bila terpaksa." jawab Binazir.
"Bina, kamu jangan bergerak terus. Aku terhalangi tubuhmu, mau lihat Dayu saat terjun." Dhisa menatap Binazir.
"Apa hebatnya dia, sudah menghancurkan kalung bayi hiu." Binazir mengingat pertemuan pertama memang baik, pertemuan di perpustakaan cukup menyebalkan, dan sekarang lebih membuat emosi.
Dayu mengenakan pengaman sebelum melakukan terjun payung. Semua orang memperhatikan sambil tepuk-tepuk tangan. Ada yang lambai-lambai, karena keahlian Dayu dalam mengitari tiang besi.
"Yuhu, keren sekali dia!" Dhisa tepuk-tepuk tangan.
Binazir melihat Dhisa yang heboh. "Kalau dilatih, aku juga bisa melakukannya." Tidak suka melihat Dayu, yang tersenyum seakan tebar pesona.