Loven Draft

Loven Draft
Menciptakan Suasana Romantis



Keesokan harinya Chaka baru keluar dari kamar mandi, sengaja menggoda Yana dengan tubuh indahnya. Yana melihat ke arahnya, lalu menutup mata.


"Sudahlah, jangan malu-malu. Kamu diam-diam mengintip dari sela ruas jarimu." Chaka tersenyum percaya diri.


Pipi Yana memerah mendengarnya. "Hih, siapa juga. Kamu sungguh percaya diri." Melemparkan boneka, yang berada di pangkuannya.


Menangkap boneka dengan mata berbinar-binar. "Eh, ternyata kamu masih suka boneka. Padahal, kamu sudah tua loh." Meledek Yana dan tertawa sendiri, lalu memukul tembok tidak jelas.


"Sepertinya, kamu mulai punya penyakit sinting." Beranjak dari ranjang tidur, meraih handuk yang tergantung.


Chaka menghalangi langkah Yana, sambil membenarkan rambutnya yang basah. Dia sedikit berharap, Yana akan melihat ketampanannya tanpa berkedip. Yana tersenyum, sambil memiringkan bibirnya.


"Kamu mau menggodaku? Tidak akan mempan." Yana berkacak pinggang, sudah geram dengan tingkah laku Chaka.


"Yakin? Aku serius ingin menguji coba." Chaka mulai mengendurkan tali handuk di pinggangnya.


Yana segera mendorong Chaka dengan kuat, hingga laki-laki itu jatuh tersungkur kesakitan. Yana masuk ke kamar mandi, dengan jantung berdegup kencang.


"Apaan si dia, sengaja membuatku kaku." Yana menghidupkan air shower, lalu menatap wajah sendiri di cermin.


Kedua pipinya sudah terlihat segar, tidak tampak merah juga. Begini juga sangat bagus, bisa keluar dengan keadaan tidak memalukan. Beberapa menit muncul dari pintu kamar mandi, matanya sudah melihat Chaka mengenakan jas.


Chaka menghadang langkah Yana, tidak dijelaskan maksud melakukan itu. Yana menarik jaket Chaka, dan hampir saja terjatuh. Chaka tidak protes sama sekali, hendak berdiri tegap namun malah sesuatu tersangkut. Ada benang handuk Yana, yang tidak sengaja terikat rantai jamnya.


"Eh, aku mau ganti baju." ujar Yana.


"Iya sudah, aku tinggal menutup mata." jawab Chaka.


"Siapa yang bisa menjamin, kalau kamu tidak akan melihatku." protes Yana.


"Diriku sendiri adalah jaminannya, boleh dimasukkan sel jeruji bila melanggar."


"Temani aku ke acara pelelangan saja yuk." ajak Chaka.


"Tidak mau." jawab Yana, menolak mentah-mentah.


"Lah, kamu tidak ada kegiatan juga 'kan? Nanti sore aku tunggu di kantor, tidak terima alasan apapun." ucap Chaka, dengan seenaknya saja.


Yana menggunting benang yang tersangkut pada jam tangan Chaka. "Aku tidak mengiyakan, jadi tidak dapat dipastikan ikut menghadiri."


Pada sore harinya Yana datang ke kantor Chaka sendirian, karena Febby tidak ikut ke rumah Yana Creator. Dia sedang sibuk dengan urusannya bersama Artha. Chaka tersenyum melihat kedatangan Yana, tidak disangka dia akan datang.


"Eh Yana, ayo kita pergi ke salon." ajak Chaka.


"Eh, untuk apa mengajakku ke sana. Bukannya, kamu bilang mau ke acara pelelangan." jawab Yana.


"Biar kamu tampil cantik, menjadi teman ke pesta." Chaka saling menepis telapak tangan sendiri.


"Baiklah, asal kamu yang bayarin." Yana berjalan dengan santai.


Chaka dan Yana sudah sampai di salon beberapa menit kemudian. Yana diajak ke ruang perawatan, dan Chaka duduk di kursi tunggu. Saat Yana keluar dari ruangan, Chaka sangat terpesona dengan kecantikannya.


"Kamu benar-benar ....."


"Ummm... apa?" Menatap bola mata Chaka dengan serius.


"Sungguh cocok bergandengan tangan denganku." Chaka meletakkan tangan Yana agar menggandeng tangannya.


"Seperti tidak ada teman lain." jawab Yana, mencibir dengan mengerutkan bibir.