
Chaka mengunjungi tempat kedai kopi khusus, bersama dengan pengawal Belko. Dia tahu, sudah lama istrinya ingin mempelajari membuat kopi lezat. Seorang barista mengantarkan kopi, yang telah dipesan oleh Chaka.
"Tuan Chaka, kamu tidak akan menjadikan aku manusia percobaan 'kan?" Belko khawatir kembung, makanya bertanya lebih dulu.
"Kamu tenang saja, aku tidak gila. Aku hanya ingin minum sedikit." Chaka meminum kopi, setelah didiamkan beberapa menit. Dibiarkan asap panas mengepul di atas udara, dan sekarang meletakkannya di meja.
Belko meneguk air kopi sedikit saja. "Kalau sampai kekenyangan, aku tidak akan keren lagi depan Bibi Een." Bergumam lirih.
"Sejak awal memang tidak keren, hanya mirip marmut yang obesitas." Menyahut dengan sewot, mana kalimatnya kejam.
"Beruntung tuan Chaka orang yang aku hormati, kalau tidak sudah aku cincang." ujar Belko.
Chaka mendelik sambil tersenyum devil. "Lakukan kalau berani, maka lehermu yang akan ditarik duluan."
Chaka mencatat rasa dari kopi, membuat buku resep sendiri. Seandainya sudah bertemu Yana, dia akan memberikan hadiah ini. Chaka sudah senyum-senyum sendiri, berharap cepat kembali ke rumah. Dia sangat rindu, dengan masakan istri tercinta.
"Aku merasa hampa sekali, sekarang tidak ada yang aku ajak bermain. Biasanya lidah ini bisa makan lezat, tangan ini bisa berpegangan dengannya, mata ini bisa langsung terbuka lebar melihat wajahnya." Bergumam sambil memeluk buku, kaki di bawah meja terdengar bergeser di lantai berulang kali.
Pengawal Belko tersenyum, karena berhasil mengabadikan momen tersebut. "Lucu juga, jarang-jarang melihat tuan Chaka seperti ini." Menghentikan aksi merekam dengan kamera, saat Chaka menoleh ke arahnya.
"Pasti kamu merekamnya, cepat berikan padaku." Chaka sibuk merebut ponsel di tangan Belko.
Belko tetap berusaha merebutnya, sampai video tadi terkirim ke bibi Een. "Hah gawat, sudah terkirim videonya."
"Kamu ini tidak berhati-hati, sudah aku katakan sejak awal jangan usil. Cepat hapus, sebelum Bibi Een mengadu." Chaka cemas, tidak bisa berpikir jernih.
Yana sedang pergi ke dapur, lalu melihat ponsel bibi Een terus berdering. Yana memanggil si pemiliknya, namun tidak kunjung datang.
"Aku sedang di toilet nona, aku tidak enak perut. Nanti aku akan segera datang, dan siap melayani nona cantik." ujar bibi Een.
"Bukan gitu Bi, ini telepon dari pengawal Belko. Sepertinya ada penting, karena berulang kali." jawab Yana, setengah berteriak.
"Tolong nona angkat terlebih dulu, kode kunci ponselnya 432566." teriak bibi Een.
"Baik Bi." Yana segera menggeser layar kunci, dan memasukkan kodenya seraya bergumam.
Yana membuka pesan video, dan kedua matanya membulat. Yana menggelengkan kepala tidak percaya, lalu mengangkat panggilan suara pengawal Belko.
"Een, kamu hapus video yang aku kirim iya. Jangan sampai nona Yana melihatnya." ujar Belko.
"Dasar pembohong, aku ini nona Yana." jawabnya ketus.
Belko menepuk jidatnya. "Aduh, ketahuan tuan." Berbisik pada Chaka, setelah menjauhkan ponsel.
"Ini salahmu, lakukanlah sesuatu untuk mengatasinya." Chaka menepuk kepala Belko.
"Hei, mengapa kamu diam pengawal Belko! Cepat suruh suamiku pulang, akan aku beri dia hukuman." Suaranya lantang, marah besar.
"Nona Yana, video itu sudah lama. Aku masih menyimpannya, namun baru terkirim sekarang. Tidak sengaja ponselku direbut teman, jadi sembarang memencet menu." Belko Beralasan.