Loven Draft

Loven Draft
Adik Manja



Semua siswa dan siswi berkumpul di lapangan, karena ada beberapa manusia yang belum kembali.


"Ada yang melihat Ana, Kristin, dan Meraf tidak?" tanya bapak kepala sekolah.


"Tidak tahu Pak. Kami tidak sekelompok dengannya." jawab Kaihan.


"Mereka belum kembali, jadi kita harus mencari." ucapnya lagi.


"Sudah sore Pak, mana belum mandi." jawab Kaihan.


Malam harinya Kaila rewel, karena tubuhnya pegal semua. Yana juga yang menjadi korban, harus siap sedia jadi tukang urut. Kaila tersenyum manja, sambil terus memandangi wajah kakaknya.


"Ah kamu ini, manja sekali. Harusnya tahu dong, tindakan seperti ini menyebalkan." gerutu Yana.


"Aku tahu, tapi tidak mau peduli. Anggap saja aku ratunya, dan kakak asisten pribadiku." jawab Kaila.


Yana semakin mempercepat gerakan menggosok tangan Kaila, dengan berdecak kesal sesekali. "Widih, enak sekali tuh bibir bicara. Aku ini Kakak kamu kali, bukan pembantu. Bayar sekalian orang buat memijat kamu di sini."


Kaila nyengir. "Oh iya, kita 'kan nona muda."


Shht!


Tiba-tiba ada suara hewan melata, yang menghampiri tenda mereka. Yana dan Kaila terkejut mendengar desis yang keras.


"Suara apaan tuh?" Keduanya saling bertanya.


"Jangan-jangan suara ular Kak." jawab Kaila.


"Aaa!" Yana menjerit saat melihat ular, yang keluar dari dalam tasnya.


Kaila dan Yana membuka resleting tenda, lalu berlari keluar dengan tunggang langgang. Tidak lupa pula, mereka berteriak minta tolong.


"Aduh, ada apa ini?" tanya bapak kepala sekolah.


"Ada ular, ada ular." Kaila menghentakkan kakinya, dengan rasa takut.


"Di mana?" tanyanya lagi.


"Ada di sana Pak, di dalam tas saya." jawab Yana.


Bapak kepala sekolah berjalan menuju tenda, lalu memeriksa tas Yana. Namun yang anehnya, tidak ada ular.


"Mana ularnya, di sini tidak ada apapun juga." ujar bapak Karib.


"Iya Pak, aku melihatnya sendiri." timpal Yana.


"Mungkin adikmu halusinasi, dia 'kan biasa jail." jawab bapak Karib.


Pak Karib segera pergi, karena tidak menemukan apapun. Dia kira akan menemukan bentuk panjang, yang menakutkan dengan bisanya.


"Mana ketiga bocah belum ketemu lagi. Padahal sudah dicari kemana-mana." monolog pak Karib.


Keesokan harinya, barulah ketiga anak remaja yang hilang ditemukan. Bapak kepala sekolah menanyakan, apa yang telah terjadi.


"Mengapa kalian bisa masuk ke dalam lubang?" tanya pak Karib.


"Karena ada yang sengaja membuat jebakan." jawab Kristin.


"Iya Pak, parah sekali yang melakukannya." timpal Meraf.


"Kami akan berusaha mencari, siapa pelaku usil yang telah melakukan tindakan tersebut." ujar pak Karib.


"Iya Pak." jawab mereka.


Ronal mendekati Yana, yang menyaksikan permainan tarik tambang. Kaila dan Kaihan memusuhi Kristin, Meraf, dan Ana. Mereka ingin lebih banyak bergerak, daripada menjadi penonton saja.


"Eh Kaila, mengapa tambahan satu orang bocah cilik." ujar Kaihan.


"Biar adil tiga sama." jawab Kaila.


"Adil apanya? Dia kecil pun." Kaihan protes.


"Sudah, sudah, terima saja kenyataan." jawab laki-laki, yang dijadikan pembahasan.


"Hei 2K, pasti kalian berdua yang menjebak kami." Meraf menebak-nebaknya.


"Jangan asal menuduh." jawab Kaihan.


Cukup lama tarik tambang terjadi, sampai mereka ngos-ngosan. Masih juga bibir sempat adu argumen, saling memberi dorongan satu sama lain.


"Yes, kita berdua menang." Kaila melompat-lompat.


"Iya dong, kekuatan super namanya." jawab Kaihan, dengan begitu bangganya.