Loven Draft

Loven Draft
Sengaja Pamer



Chaka merebahkan kepalanya di atas paha Yana, lalu memulai pembicaraan terlebih dulu. "Yana, apa maksud Ronal waktu meeting? Aku tidak suka, melihat dia menyatakan kamu calon istrinya."


"Dia hanya menyuruhku sandiwara saja. Itu juga demi kerjasama berjalan lancar. Meskipun tuan Bayoli kenalan lama, dia orang yang begitu pelit tidak tahu balas budi. Ronal juga bercerita, merayunya memerlukan persyaratan." jelas Yana.


"Tidak boleh berpura-pura sebagai calon istri, kamu cuma boleh sandiwara denganku seorang." Chaka memeluk erat pinggang Yana.


"Iya sayang, tapi ini sementara. Kamu menurut iya, besok aku belikan permen." Yana mengusap lembut kepala Chaka, seperti seorang ibu merayu anaknya.


"Aku tidak butuh permen, aku sudah punya yang lebih enak dinikmati." Chaka segera beringsut duduk, lalu mencium bibir Yana.


Yana memejamkan matanya, saat tautan semakin melekat. Kelembaban bertambah di area bibirnya, saat Chaka liar bertindak. Setelah beberapa menit baru ada jeda, dan Yana bisa bernafas lega.


"Chaka, kamu sangat rakus hahah..." Berbicara, lalu tertawa kuat.


Mereka akhirnya melakukan kedua kali, sebuah tindakan terlewat batas. Siap tidak siap, selalu saja lolos dirayu suami sendiri. Yana hanya bisa menepuk lutut, pagi harinya menggerutu pada diri sendiri.


"Kamu muka tembok sekali Yana, tidak tahu malu lagi pada laki-laki. Apakah aku masih mengenalmu, sebagai Yana Ananta?" Menepuk-nepuk pipi di depan cermin.


Mereka keluar dari kamar, saat selesai bersiap-siap. Tasya dan Devin bersahutan lirih, sambil senggol lengan.


"Hmmm... mereka sepertinya sudah menjadi suami istri sungguhan." ujar Tasya.


"Pastinya dong." bisik Devin.


Kaila sendirian saja di ruang makan, menunggu yang lain duduk. Tasya melihat Kaila beberapa hari ini murung. Kaihan juga tidak terlihat datang ke rumahnya.


"Kamu berantem sama Kaihan?" tanya Tasya.


"Tidak Ma." jawab Kaila, dengan datar.


"Aku tidak apa-apa." jawab Kaila.


Devin menuang lauk ayam ke dalam piring. "Papa lebih suka kamu tidak terlalu dekat dengan Kaihan. Prestasi kamu tidak meningkat, bahkan sangat buruk. Sungguh memalukan sekali, tiap hari pecicilan. Tidak mencerminkan siswi teladan, membuat orangtua siswa menegur Papa." Berterus terang saja, tidak ingin menutupi.


"Sebegitu dendamnya teman sekelas ku, hanya karena mengenakan topi ember. Dengan cara orangtuanya mengadu, pasti karena permintaan mereka." Kaila membanting sendok, hilang seleranya untuk makan.


"Kaila, kamu harus punya sopan santun. Perhatikan tingkah lakumu sebelum bertindak." tegur Devin, dengan lantang.


Kaila beranjak dari kursi. "Papa juga harus menghargai perasaanku." Segera melangkahkan kaki tanpa menoleh lagi.


Saat Ronal memasuki perusahaan Alexander, tanpa sengaja didorong oleh seorang perempuan. Ronal mencium pipi Yana, yang menoleh ke belakang. Yana tidak sengaja ingin melihatnya, namun karena mendengar namanya dipanggil. Chaka menoleh dengan tatapan, yang ingin membunuh Ronal.


Karyawati perempuan lompat-lompat bawa perasaan. "Romantis sekali, mereka pasangan serasi."


"Hmmm... mereka berciuman." perempuan yang bersandar di tembok senyum.


Semua orang menjadikan mereka tontonan, lalu Chaka menarik tubuh yana. Dia memaksa Yana yang menolak dipeluk. "Kalian semua lihat, ciuman itu seperti ini." Memperlihatkan di depan umum, saat menautkan bibir dengan istrinya.


Setelah membuat kehebohan, Yana menarik Chaka menuju ke ruang kerja Chaka. Dia ingin berbicara, tanpa ada orang lain yang mendengarkan.


"Kamu cemburu saja sampai segitunya, mencium aku di depan umum. Sungguh kekanak-kanakan!" Yana cemberut.


"Yana Ananta, ini bukan soal kekanak-kanakan. Demi memperjelas statusmu sebagai istri sah, dari Chaka Alexander." jawabnya, sambil senyum-senyum ceria.


Yana berpangku tangan. "Kalau sudah begini, aku tidak bisa membantu Ronal sandiwara."


"Sudahlah, lebih baik membantuku menyiapkan resepsi pernikahan." Chaka tersenyum.