Loven Draft

Loven Draft
Pabrik Gas



Kaila sudah sampai di tujuan, lalu menghadap kepala sekolah. Dia memberikan surat, yang ditulis oleh papanya.


"Ini surat permohonan tuan Devin Sebastian, selaku penanam saham terbesar di sekolah ini. Mohon ikut bekerjasama, untuk menuruti keinginannya." ujar Kaila.


"Baik, aku tidak akan protes. Keluarga kaya seperti kalian bisa melakukan apapun, termasuk menendang ku yang kecil ini." jawabnya takut.


Isruni membulatkan kedua mata, saat kepala sekolah mengumumkan penurunan jabatannya. Tanpa bermusyawarah, sudah mengangkat Kaila sebagai pengganti. Itu sama saja, mempermalukannya di depan umum.


”Apa-apaan ini, pasti ulah Kaila berbuat curang. Dia tidak peduli dengan kegiatan organisasi sekolah, sekarang malah ikut-ikutan mau merebut hal ini.” batin Isruni geram.


Setelah selesai apel pagi, Isruni menghadang Kaila. Kaihan menghentikan Isruni, yang langsung menjambak rambut Kaila. Tangannya juga menghalangi tangan Kaila, yang ingin melakukan penyerangan.


"Kamu licik sekali, menggunakan kekuasaan untuk mengambil milik orang lain." ungkap Isruni.


"Apa bedanya aku sama kamu? Bukankah, kamu juga dengan cara begini?" jawab Kaila, tidak mau kalah.


"Aku pastikan merebut Kaihan darimu, sebagai balas dendam terindah." ujar Isruni, sambil berbisik.


"Silakan, kalau dia bersedia. Disentuh denganmu pun sudah gerah duluan, tidak seperti denganku pasti dia betah." Tanpa aba-aba, langsung cium pipi Kaihan.


Isruni melihat dengan tatapan tidak suka. "Nona konglomerat sejagat, ternyata kelakuannya seperti ini. Contoh yang tidak baik, apalagi ini lingkungan sekolah. Jika orang tahu, akan langsung ilfeel." ujar Isruni.


"Kamu iri 'kan? Kasian kali si jomblo genit." Tersenyum menyebalkan.


Kaila segera pergi bersama Kaihan, lalu berjalan menuju kelas. Kaila mengeluarkan sebungkus cokelat, untuk diberikan pada Kaihan.


"Happy anniversary, untuk hari jadian kita." ujar Kaila.


"Sepertinya kamu lupa ingatan, sekarang tanggal 12 bulan 5. Sedangkan hari jadi kita tanggal 12 bulan 12, bukan hari ini." jawab Kaihan.


"Tentu saja, aku selalu mengingatmu sayang." jawab Kaihan.


"Ini bau apaan si?" Kaila mencium bau tidak sedap."


"Bukan aku sumbernya, jangan menuduhku buang angin." Kaihan melihat tatapan curiga Kaila.


Hewan sigung nyasar lewat di depan kelas, sengaja membuang angin sembarangan. Hewan itu mengeluarkan cairan bau, kalau merasa ada musuh.


Yana memikirkan isi pesan singkat yang diterimanya, haruskah dia datang ke hutan Mongonola? Atau mengabaikan saja dan menganggap tidak penting. Tiba-tiba masuk lagi pesan mengancam, kali ini ada gambar darah dan kayu.


"Aku harus pergi secepatnya, untuk melihat apakah Chaka atau bukan." Yana segera berlari.


Yana berlari secepatnya, lalu mencari gudang bertuliskan nomor 6. Tiba-tiba saja, pintu terkunci dari luar. Pengawal Belko dan para polisi menggerebek gudang nomor 9. Mereka semua ditangkap, termasuk seorang laki-laki yang tengah bersantai.


"Cepat katakan, siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?" tanya pengawal Belko.


"Ini hanya inisiatif diri sendiri, yang ingin meraih keuntungan." jawab ketua penjahat.


"Jangan berbohong, aku tahu kalian memiliki bos di atas lagi."


"Aku hanya bisa mengatakan, apa yang harus aku katakan." jawabnya, dengan santai.


Para penjahat dibawa ke kantor polisi, dan ditahan dalam sel jeruji besi. Yana sibuk berteriak minta tolong, lalu pengawal Belko membuka pintu. Setelah itu berlari dan bersembunyi di balik pohon.


"Halo, siapa di sini?" Yana menjadi bingung, karena tidak ada siapa-siapa.


"Maafkan tuan Chaka nona, untuk sementara waktu tidak bisa muncul." Pengawal Belko, memperhatikan dari sela ranting.