
Sudah kembali lagi ke sekolah, setelah dirawat di rumah sakit lumayan lama. Beberapa hari membuat satu laki-laki remaja kesepian, duduk di kantin seorang diri. Tiba-tiba Kaila muncul menutup mata Kaihan dari belakang, sengaja diam-diam saja.
"Kaihan, maafin sikap Papa aku iya. Dia memang suka begitu, namun sebenarnya baik." ucap Kaila.
"Iya, tidak apa-apa kok." jawab Kaihan.
Artha sibuk menyuruh Febby mendorong meja, lalu protes lagi saat sudah dipindahkan. Febby menatap ke arahnya dengan sinis, karena merasa seperti dikerjai.
"Kamu sengaja iya, dari tadi suruh hal yang sama." Melihat lawan bicaranya.
Artha nyengir menunjukkan deretan giginya, lalu berpangku tangan hanya sebelah kiri. "Tidak, bukan sengaja. Awalnya ingin diletakkan di sana, namun merasa kurang tepat. Kencan langgeng ini harus berjalan lancar, saat malam nanti banyak pejabat negara yang hadir."
"Maksudnya, kamu merubah konsep karena kencan beberapa hari ini gagal?" tanya Febby.
"Bukan gagal, testimoni dua anak kecil belum puas." jawab Artha.
Chaka menunggu di depan gerbang, karena Yana tidak muncul-muncul. Bergerak lompat-lompat, bahkan senam jari. Setelahnya bergerak pinguin, sambil memperhatikan arah jalan. Sudah dari pukul 20.00 menunggu, dan sekarang telah pukul 23.00.
”Lama sekali mereka pergi, ngapain aja si di luar. Benar-benar tidak tahu waktu mereka ini.” Chaka menggerutu di dalam hati.
Ada dua orang yang intip-intip dari balik jendela. Siapa lagi bila bukan Tasya dan Devin, yang tertawa geli dengan cara mereka.
"Eh, aku ini pintar 'kan? Sengaja aku suruh Ronal dan Yana pergi, ke tempat toko antik yang paling langka di negeri ini."
"Aduh Papa Devin, ini juga ada campur tangan ku. Lihatlah, bagaimana aku merayu Yana yang menolak." Tasya tersenyum-senyum sendiri.
Yana melihat Chaka yang berlari-lari kecil di depan gerbang. Biasanya tengah malam tidak pernah olahraga, itu merupakan suatu hal berbeda. Yana tanpa terasa tersenyum sendiri, dengan tingkah suami palsunya.
"Hah? aneh sekali." jawab Ronal.
Yana sudah mendekat ke arah Chaka. "Kamu tidak sedang menunggu aku 'kan?" candanya sambil tertawa lirih.
Chaka salah tingkah, sambil menggaruk kepalanya. "Pasti tidak dong, untuk apa juga menunggumu." Mulai pasang wajah jual mahal.
"Oh, baguslah kalau gitu. Aku tidak akan merasa khawatir, bisa bebas pergi dengan Ronal." Yana merentangkan kedua tangan di udara.
"Tidak, besok kalau pergi harus ajak aku. Kalau terjadi sesuatu padamu, pasti aku akan disalahkan orangtuamu." Sedang mencari alasan yang logis.
Masuk ke rumah, lalu teleponan sebentar dengan Febby.
"Kamu tahu tidak Febby, kalau kencan ku dengan Ronal diganggu Chaka terus." Yana menopang dagu dengan telapak tangannya.
"Mungkin, dia tidak ingin kalian berhasil dekat. Bisa jadi dia mulai menyukai kamu." Febby senyum, dengan mata berbinar-binar.
"Kamu terdengar senang sekali, padahal temanmu ini tidak akan setuju dengannya." Yana mengatakan dengan tegas, padahal awalnya masih bercanda.
Chaka baru saja masuk ke dalam kamar, padahal tadi menguping sebentar. Cukup tahu saja, bahwa Yana tidak menyukainya. Dia masih memasang siasat, supaya bisa dekat.
"Eh, aku matikan dulu iya." Yana langsung berpamitan.
"Sangat buru-buru bicara saat melihatku." Chaka membenarkan rambutnya, sambil berdiri depan cermin.