
Kaihan belajar di perpustakaan dengan Isruni, dan Kaila mengikuti sambil membaca buku. Kaila tertawa sendiri, karena bukunya terbalik. Sampai segitu khawatirnya, Kaihan berdekatan dengan perempuan lain.
"Eh, kamu bisa tidak mengerjakan soal nomor 25?" tanya Isruni.
"Kamu kerjakan sendiri saja, aku tidak suka belajar di ruangan. Rasanya terlalu membosankan." jawab Kaihan.
Isruni memaksa menggeser buku ke arah Kaihan, dan lama-kelamaan menjadi kesal. Kaihan membanting buku, lalu melemparkannya ke lantai.
"Aku sudah katakan, aku tidak suka dikekang. Kalau mau belajar, kamu sendiri saja." ujar Kaihan.
"Ini perintah kepala sekolah, kamu harus mengikuti peraturan." jawab Isruni.
Kaihan hendak mengambil buku, bersamaan dengan Isruni juga. Tangan Isruni berada di bawah tangan Kaihan. Kaila menatap tidak suka, tapi tidak bisa menghentikannya.
Kaihan segera menyingkirkan tangannya. "Aku akan mencoba mengikuti hal yang tidak aku suka."
"Bagus, seharusnya memang begitu." jawab Isruni, seraya menepuk pundak Kaihan.
Febby melihat Yana yang cemberut, sengaja mengagetkan dengan membunyikan peluit. Yana menggerakkan kepalanya, yang dari tadi tak bergeming.
"Kenapa raut wajahmu hari ini tidak bagus?" tanya Febby, yang ingin tahu.
"Kesal dengan Chaka, dia menghabisi bekal makan siang. Padahal, aku ingin makan bersama Ronal." jawab Yana.
"Jangan-jangan, dia tidak membiarkan kamu bermesraan. Perilakunya manis sekali, membuatku ikut terbawa perasaan." Malu-malu sendiri saat mengutarakannya.
"Aku satu rekan dengan Ronal, bukankah ini keterlaluan." jawab Yana.
"Tentu tidak, dia 'kan suamimu." Febby mengingatkan status Chaka, di dalam kehidupan sahabatnya.
"Iya, iya, suami memang kedudukannya tinggi dalam keluarga." jawab Yana, dengan mengalah saja.
Cekrak!
Bunyi suara jepretan pada studio foto, saat berbagai macam gaya sudah diperagakan. Yana dan Chaka foto mesra, dengan gaya yang diatur oleh Tasya dan Devin.
"Eh, kenapa bawa-bawa bebek?" Yana melihat mamanya yang mengangkut keranjang bebek. "Apa mereka akan menjadi saksi kekonyolan keluarga ini?" Protes tapi tetap suka, sudah menunjukkan senyum mengembang.
"Ini hanya kumpulan boneka bebek, kamu tidak perlu lari dari studio foto ini." Tasya menyentil hidung putrinya.
Kaila tegak pinggang sebelah, sambil melihat kehebohan mereka. Hari ini dia benar-benar gelisah, karena ada tangan perempuan lain yang menyentuh pacarnya. Dekat sekali, bahkan tak sulit dihindari oleh mata.
"Kaila, kenapa masih begitu murung. Ini sudah pagi buta, bahkan hari libur sekolah." ujar Tasya.
Kaila memeluk mamanya. "Aku merasa hari mendung, meski matahari bersinar cerah."
"Bertengkar dengan Kaihan iya?" Tasya mencubit pipinya, memberikan perhatian lebih.
"Tidak, kami baik-baik saja." jawab Kaila.
Yana dan Chaka keluar dari studio foto, dengan raut wajah senang. Sudah banyak gambar yang disimpan fotografer, tinggal menunggu selesai dicuci dan diberi bingkai. Tiba-tiba seseorang yang bersembunyi, mengarahkan pistol dari kejauhan. Chaka mendorong Yana, hingga terjauh ke lantai. Punggung Chaka terkena peluru, lalu pengawal membantu menembak orang-orang tersebut.
Duar!
Duar!
Suara tembakan membuat pelanggan berlari tunggang langgang. Mengurungkan niat untuk memasuki studio foto. Lebih baik menyelamatkan nyawa, daripada memikirkan pemotretan lebih dulu.
"Yana, cepat kita pergi dari sini." Chaka membantu istrinya berdiri.
"Iya Chaka." Yana kesusahan berdiri, karena memakai sepatu tinggi.
Devin membantu pengawal menembak, sedangkan Kaila berada di depan tubuh Tasya. Punggungnya berusaha menghalangi penjahat, yang mengarahkan pistol dari jarak jauh.