Loven Draft

Loven Draft
Pemenang Olimpiade London



Pada malam harinya, makan malam keluarga Yana dan Chaka. Bibi Een juga disuruh ikut makan, karena dianggap seperti keluarga sendiri.


"Bibi Een, sudah beli garam belum?" tanya Tasya.


"Aku tidak perlu beli garam lagi, karena aku sudah memborong gudangnya." Bibi Een tersenyum.


"Ah yang benar saja Bi, masa mau mandi garam malam-malam begini." canda Tasya.


"Serius, aku sudah membeli gudangnya. Ini dia!" Bibi Een memperlihatkan sebungkus rokok, dengan merek GUDANG GARAM.


"Aduh Bibi, itu namanya rokok. Mana mungkin untuk dicampurkan masakan." Tasya menepuk jidatnya.


"Heheh... aku hanya bercanda Nyonya. Aku beli satu kardus garam kok." Bibi Een tersenyum lebar.


"Aduh Bi, ada-ada saja." Yana ikut tersenyum.


"Iya Nona, semuanya bisa jadi cerita dunia." jawab bibi Een.


"Bibi, lain kali kalau mau gombal, ajarkan aku caranya. Aku ingin membacakan puisi untuk istriku." sahut Chaka.


"Tuan Chaka romantis sekali, semoga besok punya suami seperti ini."


Yana ikut nimbrung. "Bibi, sebaiknya jangan seperti suamiku. Spesifikasi harus berbeda, tidak boleh mirip." Yana cemburu.


Chaka mengeluarkan selembar kertas dari kantong. "Ini surat dari calon suami Bibi."


Bibi Een mengambilnya, lalu membuka dengan perlahan-lahan. Bibi Een tersenyum saat membacanya, bahkan menutup setengah wajah malu-malu. Tasya dan Yana memandang ke arah tujuan serupa.


"Cie... ditembak sama pengawal Belko." ucap Yana dan Tasya bersamaan.


"Aduh, nyonya dan nona membuat Bibi malu saja." Menundukkan kepala, masih dengan tatapan berbinar-binar.


Sementara di sisi lain, penyelenggaraan pengumuman siswa dan siswi berprestasi sedunia dirayakan. Ada berbagai jenis makanan khas London, yang siap memanjakan lidah semua orang.


"Olimpiade London matematika kali ini dimenangkan oleh SMP, perwakilan dari indonesia. Kita sambut Kaila dan Kaihan, yang menjawab soal matematika 50 berdurasi 34 menit. Dipersilakan untuk naik ke atas panggung." ucap pembawa acara.


"Aku mau ucapkan terima kasih kepada Tuhan. Lalu pada kedua orangtua, guru, dan teman-teman yang sudah mendukungku. Piala yang kami pegang sekarang, tidak lebih karena perjuangan dan pengorbanan semuanya. Tanpa kebersamaan dan ketulusan mengajari ilmu, kami tidak akan bisa ditahap seperti sekarang. Intinya kami bangga, atas kerja keras dari banyak pihak. Sekali lagi terima kasih, telah memberikan kesempatan." Kaila tersenyum, karena berhasil membuktikan.


Plok!


Plok!


Suara tepuk tangan riuh dari penonton, bersamaan dengan lampu kamera yang membidik. Yana dan Chaka melihat acara tersebut, di salah satu aplikasi pusat pendidikan sekolah London.


"Sungguh mengharukan sekali." ucap Yana.


"Iya, Kaila bisa berprestasi." Chaka hampir tak percaya.


Tasya mengambil cemilan dari bungkus, yang masih digenggam tangan Yana. "Mama mau lihat adikmu, cepat putar ulang." Heboh sendiri.


Devin ikut nimbrung. "Papa juga ketinggalan, tidak tahu yang sebenarnya. Cepat geser Yana, ayo ulang lagi dari awal."


Yana nyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mana bisa Pa, ini siaran langsung."


"Huaa... kami kehilangan harapan. Sungguh tega tidak memberitahu." Devin memperlihatkan raut wajah sedih dibuat-buat, diikuti dengan Tasya juga.


"Kalian para orangtua, bisa-bisanya akting." Yana geleng-geleng kepala.


Bibi Een tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar. Bahkan sampai menghentakkan kaki di atas ranjang tidur. Terdengar suaranya, hingga mengejutkan seseorang yang memanjat balkon.


"Cuit... cuit..." pengawal Belko bersiul.


Bibi Een membuka jendela. "Eh Pengawal Belko, ngapain di sini?"


"Aku lagi mencari bidadari ku yang hilang." ujar Belko, dengan rayuan.


"Ah... bisa saja pengawal Belko ini." jawabnya, dengan malu-malu.