Loven Draft

Loven Draft
Mengantar Makan Siang Suami



"Jangan menilai seseorang, dari tampilan luarnya yang baik. Apa lagi, Papa tahu kamu baru kenal juga." ujar Devin lirih.


"Iya Pa, dia ini memang benar-benar baik kok." Yana tetap saja, berusaha meyakinkan sang papa.


Yana membantu Tasya memasak daging di dapur. Sesudah selesai, Yana mencicipi dulu. Takut kalau tidak terasa bumbunya, tentu tidak enak rasanya.


"Yana, suami kamu 'kan lagi kerja. Coba sesekali untuk antar makanan ke kantornya." titah Tasya.


"Ma, aku juga 'kan sibuk." jawab Yana.


"Meskipun sibuk, bisa ditinggal. Kamu 'kan hanya pembuat konten kreatif." ujar Tasya lagi.


"Iya, iya, nanti aku antar bersama Febby." jawab Yana.


"Jangan nanti-nanti, tapi sekarang juga." titah Tasya.


"Iya, iya Ma." Yana terpaksa menuruti akhirnya.


Beberapa menit dalam perjalanan, Yana akhirnya sampai. Bukannya tangan sendiri yang memberikan, malah tangan Febby yang menjadi perantara.


"Mengapa kamu repot-repot bawa makanan?" tanya Chaka.


"Aku disuruh sama Tante Tasya." Febby tersenyum, sambil menggaruk kepalanya.


Dua bola mata Chaka menoleh ke arah pintu ruangan, bahkan memeriksa sela-sela belakang tubuhnya.


"Kok tidak ada?" tanya Chaka.


"Memangnya apa yang kamu cari." Febby menatap heran, mencoba membaca gerak-gerik Chaka.


"Aku mencari istriku, upps...." Chaka malah keceplosan, langsung gerak cepat menutup mulut agar tidak berkata-kata sembarangan.


"Ciee... mulai mengakui Yana." Febby sok akrab sekali, dengan menarik lembut lengan baju Chaka.


"Lupakan saja, pikiran ku sedang kacau." Chaka menatap dingin.


Febby menjadi enggan. "Baik, baik, aku pergi dulu."


Febby dan Yana pergi ke kantor Ronal. Mereka sengaja ingin syuting drama anime. Ronal tersenyum, saat Yana salah mengucapkan dialog.


"Iya, karena tidak terbiasa." jawab Yana.


"Coba lagi deh, kamu jadi tampak lucu." ujar Ronal.


"Iya, semangat mencoba." Yana tersenyum ceria, seraya mengangkat kedua tangan.


"Eh, mengapa tidak kamu saja." sahut Febby.


"Dia 'kan kartun perempuan, masa iya suara laki-laki." jawab Ronal.


"Hahah... cepat tanggap ternyata dia." Febby tertawa lepas.


"Iya dong, 'kan sudah terbiasa. Perusahaan yang aku dirikan ini, mengelola berbagai macam manusia. Intinya, yang mempunyai jiwa kreatif." jelas Ronal.


Malam harinya Yana membaca buku majalah, berpura-pura tidak tahu suami pulang. Padahal, sudah wanti-wanti mengintip di jendela kaca. Cuma sekarang lagi berlagak cuek di depannya.


Drrt!


Ponsel Yana berbunyi, ternyata panggilan video dari Febby.


"Ada apa, tumben video call?" tanya Yana.


"Aku ingin bercerita sebuah hal yang gawat." jawab Febby.


"Hal apaan?" tanya Yana lagi.


"Sepupu si Chaka yang bernama Artha itu, telah memergoki aku yang menjemur pakaian dalam. Sungguh memalukan sekali, mana jamuran bin kusam. Huaa...." Febby menjerit kuat, sampai membuat telinga Yana tidak nyaman.


"Oh, cuma hal itu. Aku kira hal gawat apa." ujar Yana.


"Hih, kok respon kamu gitu si. Kamu tidak tahu saja, aku merasa malu 180 derajat Celcius. Belum lagi temperatur kelembaban bumi, menjadi berkisar tinggi. Terus gaya gravitasi, yang menyebabkan iklim tropis...." celoteh Febby yang belum selesai, sudah dipotong saja.


"Hih lebay deh, seperti guru Ilmu Pengetahuan Alam saja." Yana geleng-geleng kepala.


Febby mengerucutkan bibir sebal, karena yang dikatakan itu sungguhan. Terlihat lebay, tapi sebenarnya dia sungguhan malu.