Loven Draft

Loven Draft
Penyelidikan Berencana



Kaila melihat Yana yang tertawa-tawa sendiri. Dia menepuk perut dengan lirih, menatap kolam yang bahkan tidak ada ikannya. Yana masih berbicara kemana-mana, membicarakan tentang ketampanan Chaka.


"Berbicara dengan perut, seperti orang tidak waras." Kaila bergumam, namun terdengar oleh Yana.


"Siapa yang kamu katakan tidak waras? Sembarangan bicara saja, aku sedang berkomunikasi dengan anakku." jawab Yana.


Febby dan Artha bergerak-gerak, karena badannya digantung di langit-langit. Artha menyempatkan merogoh saku celana, sekadar melakukan panggilan video dengan Chaka.


"Hahah... kamu ngapain menggantung diri sendiri? Sudah bosan hidup?" tanya Chaka.


"Woy, kamu sepupu laknat. Aku melakukan panggilan video, hanya untuk bercerita sebuah kesedihan. Menghubungimu, bukan berarti bersedia ditertawakan." jelas Artha.


"Hei, pria dewasa tidak boleh sering ngambek." Chaka masih menutup mulutnya sendiri, dengan mata yang terlihat hanya sebelah.


"Dih, masih saja tertawa seperti anak kecil." jawab Artha.


"Eh, kok kamu dan Chaka komunikasi?" Febby heran, yang dia tahu Chaka sudah mati.


"Maaf sayang, ini rahasia kami berdua. Aku juga baru tahu hari terakhir sebelum kita pergi, memergoki Chaka di jalanan." jawab Artha.


"Kamu tetap saja pengkhianat. Bagiamana mungkin, hal sebesar ini dirahasiakan dari aku dan Yana." Febby cemberut.


"Maaf calon istriku, ini memang salahku. Lain kali, aku lebih jujur padamu."


"Tidak ada lain kali, namun mulai detik ini."


"Baiklah." jawabnya.


Beberapa Minggu kemudian, Yana mengantar Kaila ke bandara. Hari ini dia akan pergi bersama Kaihan, untuk mengikuti Olimpiade London. Tasya memeluk Kaila, masih merasa berat melepasnya.


"Jaga diri baik-baik." ujar Tasya.


"Iya Ma, aku tidak pergi lama kok." jawab Kaila.


"Maaf, seharusnya tidak pergi."


"Tidak perlu merasa bersalah, Papa merestui kepergian kamu. Jarang-jarang, anak bungsu Papa berprestasi."


"Dia sedang ditabrak hidayah." Tasya mengusap punggung Devin.


"Hahah..." Yana tertawa kuat, dengan penuturan papanya.


Kaila lambai-lambai tangan, sebelum dia pergi. Pintu pesawat sudah terbuka, kaki Kaihan melangkah terlebih dulu. Kaihan mengajak Kaila mencari tempat duduk, karena pesawat akan cepat lepas landas.


Detektif Melvi menemui Chaka, melaporkan bahwa Ronal sudah ada di rumahnya. "Tuan Chaka, istri Ronal juga ikut ke sini." ujarnya.


"Baguslah, tidak perlu repot-repot menunggu villa ini lagi. Aku harus bebas secepatnya, agar bisa bersama istriku." jawab Chaka.


"Aku pernah mengikuti dia, dan mendengar pembicaraan mereka. Lalu, aku melihat Isruni datang menemui perempuan tersebut." ujar detektif Melvi.


"Kalau terlihat akrab, Isruni bukan sekadar kenalan. Aku yakin, dia juga kerabat dekat." Dugaan Chaka benar adanya.


"Isruni ini bukankah orang yang sakit waktu itu, dan nona Kaila menjenguknya." sahut Belko.


"Iya, dia masih gadis remaja yang belum bisa berpikir dewasa. Wajar saja bila tidak menyadari, bahwa dia sedang dibodohi." jawab Chaka.


"Lalu, langkah selanjutnya apa tuan Chaka?" tanya Belko.


"Meminta bantuan nona Kaila, untuk menyadarkan Isruni." jawab Chaka santai.


"Bukankah, sekarang nona Kaila ikut Olimpiade London. Tadi pagi sudah pergi ke bandara, diantar oleh nona Yana dan orangtuanya." jelas Belko.


"Dia sudah pergi ke London, namun Isruni juga ikut. Kalau kamu tidak percaya, silakan periksa akun pribadinya." Chaka tersenyum.


Belko memeriksa akun Instagram Isruni, yang sedang berada di pesawat. "Tuan Chaka memang pintar, dalam memperhitungkan segala sesuatu."