Loven Draft

Loven Draft
Yana Pingsan



Yana dan Kaila pergi ke sebuah toko buku. Yana tersenyum-senyum sendiri, saat melihat sebuah buku cetak.


"Kakak seperti orang kasmaran." ujar Kaila.


"Aku mau membelikan ini untuk seseorang." Yana tersenyum-senyum dengan mata berbinar.


Kaila menduga-duga sambil senyum juga. "Pasti untuk Kak Ronal iya."


"Ini untuk yang spesial, jadi siapapun tidak boleh tahu." Sengaja merahasiakannya, takut diketahui bahwa ia mulai kagum.


Kaila sibuk bergelayut. "Aaa... kasih tahu aku dong, aku tidak akan ember." Merayu-rayu, agar sedikit mendapat bocoran.


"No, kamu tidak boleh tahu." jawab Yana, cepat serta tegas.


Bus sudah datang saat lusa, waktunya bumi perkemahan dikosongkan. Tubuh para manusia digusur waktu, segera beringsut merapikan barang-barang yang dibawa. Awan tampak memetik sekuntum cahaya mentari, di separuh ketinggian yang belum menjulang di puncak.


"Kak Yana, pesta permen romantis bagaimana? Pasti tidak bisa melupakannya bukan?" tanya Kaila, dengan meledek.


"Iya, tentu saja tidak dapat melupakannya. Malam itu aku diberi terompet cinta." jawab Yana, yang hatinya berbunga-bunga.


"Hmmm... seperti dalam drama idola." Tangan kanannya bergerak ke sana-sini, mengekspresikan perasaan turut bahagianya.


Ronal mengetuk pintu sambil tersenyum, menatap rantang makanan canggih yang dibawanya. Dia sengaja mempersiapkan untuk Yana, memasak sendiri tanpa bantuan pembantunya.


Yana sudah membuka pintu. "Eh Ronal, kamu ngapain ke sini?"


"Ini, aku mengantar makanan untuk kamu." jawab Ronal, seraya menyerahkan rantang ke tangan Yana.


Tiba-tiba Chaka muncul, menyahut lebih cepat dari tangan Yana. "Wah, kamu begitu repot-repot. Sayang sekali, aku harus cepat memakannya."


Chaka masuk ke dalam rumah, tanpa membiarkan Ronal menjawab. Begitu kesal si Chaka, karena Ronal terus saja datang. Tidak tahu mengapa, Chaka tidak suka dengannya. Sejak awal pertemuan, bahkan hingga kini.


"Ronal, ayo masuk ke dalam rumah." ajak Yana.


Sampai di ruang tamu, Chaka menyilangkan kakinya. "Suapi aku makan." pintanya dengan santai.


"Eh, kita siapa? Aku merasa, hubungan ini hanya karena darurat saja." jawab Yana.


"Tidak boleh menolak rezeki, jarang-jarang dibawakan makanan." Membuka rantang, lalu menyuapi ke mulut sendiri.


"Eh, kenapa kamu makan. Itu 'kan punyaku, kenapa kamu begitu tidak tahu diri." Yana protes sambil tunjuk-tunjuk.


"Sudahlah, nanti aku buatkan lagi." Ronal sangat tidak suka dengan Chaka, wajahnya terlihat cemberut.


"Tidak boleh mengalah, aku harus merebut milikku."


Yana mendekat ke arah Chaka, berusaha menarik rantang. Chaka tidak mau mengalah, hingga Yana terpeleset dan jatuh ke dalam pelukan Chaka. Yana kaku seketika, tubuhnya menjadi berkeringat dingin.


”Eh, kenapa mata Ronal berkedip seperti terkejut. Bukankah dia buta, mana mungkin bisa melihat adegan ini.” batin Chaka bergumam.


"Istriku, kamu cantik sekali." Memang sengaja memanasi Ronal.


Yana mendorong pundak Chaka, segera berdiri tegak menjauh darinya. "Kamu ini kenapa si, tidak jelas sekali." Yana malah marah, tidak berselera merebut rantang lagi.


Tanpa terduga Yana pingsan seketika, dan membuat Chaka panik. Dia merasa bersalah, karena menyentuh tubuh Yana. Ronal meraba sekeliling dengan tongkatnya, lalu Chaka menyentuh tangan Ronal yang hampir menyentuh tubuh istrinya.


"Lebih baik kamu pergi saja, cukup aku yang menemani dia." Mengusir tanpa bahasa halus.


Tersinggung, namun tidak mau pergi. "Tidak, aku ingin tetap di sini. Aku ingin menunggu sampai Yana sadarkan diri."


Tiba-tiba saja, Yana terbangun dari pingsannya. Dia membuang muka, tatkala pandangan matanya jatuh ke arah Chaka. Melihat dengan rasa malas, teringat kejadian sebelum pingsan.


"Ronal, kita pergi ke taman belakang saja yuk." ajak Yana, seraya berdiri.


"Baiklah, boleh-boleh saja. Sekalian kita tangkap capung yang banyak." jawab Ronal dengan biasa saja.