
Chaka melemparkan bola-bola di kolam renang, hingga Ronal merasa terganggu saat berdekatan dengan Yana. Risih, tapi tetap harus menerima.
"Chaka, kamu tampak kesulitan iya, kalau melihat aku bahagia." tegur Yana dengan suara lantang.
"Aku bukan tidak suka kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu." jawab Chaka.
"Apa hubungannya? Kamu siapa hingga bicara seperti itu." Ketus suaranya, bahkan tak melihat lawan bicara sedikit pun.
"Ada kaitannya, aku ini suami sah kamu." jawab Chaka.
"Suami sah? Tapi, kok seperti hubungan gelap. Aku tidak pernah melihat berita publikasi pernikahan, dari keturunan keluarga Devin Sebastian." sahut Ronal.
"Ini bukan urusan kamu, jika kamu tetap sibuk artinya tidak punya pekerjaan. Letak harga diri lelaki, terlihat dari caranya menjalani kehidupan mandiri." Sindir tipis-tipis lagi.
Malam hari waktunya makan malam, Yana malah menyendiri di pojokan jendela. Dia menatap terompet cinta, yang cantik tersebut. Tidak tahu mengapa, rasanya dia jatuh cinta dengan pria yang ada di pesta permen.
"Aku ingin membunyikannya, sungguh indah sekali." Yana meniup terompet tersebut.
Tiba-tiba Kaila muncul tanpa dugaan. "Cie, tetap memikirkan Kak Ronal. Dia ada kok, tidak akan menghilang."
"Iya aku tahu dia ada. Tapi, aku kok merasa tidak sesenang waktu pergi di pesta permen. Cuma sekadar percaya sebagai rekan kerjasama saja." Yana kebingungan memikirkannya.
Pipuit....
Bunyi terompet yang Yana bunyikan menggema di ruangan. Terdengar begitu indah, membuat Kaila ingin bernyanyi. Diam-diam Chaka memotoi Yana, yang sejak tadi tertawa bersama Kaila.
Tiba-tiba ada orang yang berdiri di sampingnya. "Siapa yang cantik?"
Suara familiar yang tidak asing di telinga Chaka. "Eh Papa, tadi aku membuka barang di online shopping. Semuanya cantik-cantik, tapi untuk apa aku membelinya. Anting-anting lebih dominan dipakai perempuan, lagi pula tidak pernah serasi dengan telinga pria." jelas Chaka, dengan alasannya yang membual.
Devin manggut-manggut, pura-pura tidak tahu saja. Padahal, dia lebih dulu berpengalaman dalam hal ini. Dulu juga dia tidak mengakui, kalau dia mulai menyukai Tasya istrinya.
Keesokan harinya, Chaka melihat Yana yang tertidur cantik. Dia senang sekali, sejak kamar mereka menjadi bersama. Biasanya, kamar itu hanya diisi oleh dirinya seorang.
"Yana, tidak tahu mengapa aku selalu memikirkan mu." Chaka mendekat ke wajah Yana, namun tiba-tiba kepalanya ditarik oleh kedua telapak tangan Yana.
"Aku sayang sekali sama kamu, muach." Yana mencium bibir Chaka secara mendadak.
Eh, ini apaan? Mengapa memberi umpan, padahal aku tidak memintanya. Begitu kira-kira naluri Chaka ingin mengutarakannya. Kedua bola mata Yana terbuka, dia terkejut dengan kehadiran Chaka. Dia segera mendorong Chaka hingga terjerembab ke lantai.
"Kamu ngapain naik-naik ke atas ranjang tidurku? Kamu mau berbuat macam-macam iya." Menuduh, sambil tunjuk-tunjuk.
"Siapa juga, aku hanya membantu kulitmu selamat dari gigitan nyamuk besar." jawab Chaka.
"Kamu pasti bohong, buktinya aku merangkul pundak mu." Mata Yana mulai menyipit, menunjukkan tanda-tanda curiga.
"Itu bukan aku, kamu yang melanggar kesepakatan dalam pernikahan." jawab Chaka.
Chaka segera berlari ke kamar mandi, dan Yana mendobrak-dobrak pintu dengan kuat. Dia sudah tidak sabar lagi antrian, dengan pria super bersih satu ini. Kalau mandi saja lama sekali, tidak tahu dia ngapain. Mungkin saja membuat bangunan kolam renang, begitu gumaman kecil Yana yang menggerutu.