Loven Draft

Loven Draft
Acara Pelelangan



Sesampainya di acara pelelangan, Chaka mengobrol dengan rekan kerjanya. Bahkan ada para pejabat petinggi negara, yang sering Yana lihat di televisi.


"Eh Chaka, aku mau ke toilet dulu." Yana berpamitan.


"Iya, segera kembali bisa sudah selesai." jawabnya.


"Memangnya siapa yang akan bertelur dalam toilet." Berbisik lirih, lalu segera pergi.


"Ada-ada saja." Chaka menatap punggung Yana, yang sudah berjalan menjauh beberapa centimeter.


Yana melihat seseorang mengendap-endap mencurigakan, mengenakan kacamata hitam dan kain penutup wajah. Yana mengikutinya secara diam-diam, hingga sampai ke lantai atas. Pria itu masuk ke dalam ruangan, dan Yana menguping di balik pintu.


"Ini acara pelelangan barang ilegal, jangan sampai ada yang tahu."


"Iya, aman. Semua orang sedang berada di bawah."


Mereka berbincang tentang semua hal yang pernah dilakukan. Yana berhasil merekam pembicaraan mereka, lalu menyimpannya dalam memori setelah berhasil. Saat hendak pergi, kakinya tidak sengaja menabrak tong sampah. Dua orang dalam ruangan itu terkejut, takut ada orang lain yang menguping pembicaraan.


"Suara apa itu?" tanya pria baju merah.


"Ntahlah, biar aku periksa untuk memastikan keamanan." jawab pria berpenutup kain.


Memegang gagang pintu lalu menariknya, namun tidak ada siapa-siapa. Rasa penasaran tetap membuatnya ingin memeriksa, nekat berlari sampai menuruni anak tangga. Tapi, Yana sudah melarikan diri terlebih dulu.


"Haduh, mana sepatuku ketinggalan lagi. Bagaimana ini?" Yana ingin kembali mengambilnya malah tidak sempat, dan memilih berlari saja.


Chaka diam-diam mengambil sepatunya, saat Yana sudah pergi. Chaka diam-diam melewati ruangan lain, lalu membuka pintu. Dia melihat Yana lewat, lalu segera menariknya masuk ke dalam. Yana terkejut dan hampir memukulnya, mengira bahwa Chaka adalah pria tadi.


Chaka memberikan sepatu Yana. "Kamu ceroboh sekali meninggalkan sepatumu di tangga. Bagaimana bila mereka berhasil mengetahuinya." Melihat Yana, mengartikannya sebagai manusia yang ceroboh.


"Kamu," Yana menunjuk Chaka. "Jangan besar kepala, tanpa pertolonganmu juga bisa menyelamatkan diri."


"Sudahlah, jangan gengsi disaat seperti ini. Ayo ikut berdansa, biar mereka tidak mencurigai mu." Chaka menarik tangan Yana.


Chaka dan Yana berjalan ke tengah-tengah tamu undangan. Mereka berdua berdansa dengan pelan, karena Chaka perlu mengajari istrinya. Yana keliru menginjak kaki Chaka, karena tidak paham gerakannya.


"Aduh, sakit sekali kakiku. Terasa tertimpa induk gajah, seperti itulah kira-kira." Chaka meringis, namun tetap melakukan gerakan dansa.


"Kamu ini bagaimana si, kamu yang mengajak malah marah-marah. Sudah tahu aku tidak bisa dansa." jawab Yana.


Beberapa menit menari, akhirnya mereka selesai juga. Acara pelelangan dimulai, dengan mengeluarkan sebuah kotak besar.


"Semua tamu yang hadir, tuan Baskoro mempunyai barang jas langka. Jas kuno ini sudah sulit ditemui, namun sudah dicampurkan dengan desain modis. Harga dilelangkan satu juta, silakan diperebutkan untuk mengenang barang sejarah."


Beberapa tamu penting tunjuk tangan, menawarkan harga yang pantas. Tidak juga ada yang mau mengalah, terus menyebutkan nominal penawaran. Sampai pada akhirnya, Chaka angkat tangan. Dia memberikan nominal harga enam puluh juta, yang membuat semua orang tercengang.


"Ada yang berani memberikan nominal di atas harga tuan itu?" tanya tuan Baskoro, berbaju merah.


"Tidak, terlalu tinggi. Berikan saja padanya." Seseorang di kursi pojokan bersuara, sudah menyerah memperebutkan barang kuno tersebut.


Chaka maju ke depan, karena memenangkan acara pelelangan. Dia berjabat tangan dengan tuan Baskoro. Sementara Yana melihat dari bawah sambil cemberut, tidak menyukai tuan Baskoro yang kejahatannya sudah terendus.