Loven Draft

Loven Draft
Mulai Posesif



Menusuk-nusuk daging dalam piring menggunakan garpu, perlahan memasukkannya ke dalam mulut.


"Sayang, ini daging apa yang dimasak?" Yana menatap curiga.


"Tenang, ini boleh dimakan kok." Chaka nyengir senyum-senyum.


Yana senyum terhadap anak laki-laki yang baru lewat, karena dia tersenyum duluan. Chaka membunyikan sendok kuat, dengan cara menabrakkan ke piring keramik. Berulang kali dilakukan, hanya untuk menunjukkan rasa kesalnya.


"Kamu kenapa cemberut dadakan?" tanya Yana.


"Aku tidak suka, kalau kamu senyum sama laki-laki lain." jawab Chaka.


"Bukan tipe aku kali, dia masih berondong muda." Yana menopang dagu, senyum-senyum menatap suaminya.


Chaka colek saos, lalu menempelkannya ke bibir Yana. "Kamu belepotan saja, biar tidak ada yang tertarik padamu. Aku tidak suka kamu cari perhatian dengan yang lain."


"Senyum dikira cari perhatian, diam dikira sombong. Dasar manusia julid, serba salah. Sukanya mengomentari tindakan orang lain." Yana meraih gelas di atas meja, lalu minum sampai membasahi kerongkongan.


"Maaf istriku, harusnya aku tidak membuatmu kesal sekarang. Ini adalah bulan madu yang kita nantikan, semuanya harus spesial." Chaka menggenggam tangan Yana.


Chaka dan Yana kembali ke kamar, setelah beberapa langkah saja. Chaka mengikuti langkah kaki Yana, yang sedang menatap keramaian di bawah gedung.


"Aku sebenarnya peduli, cuma tidak menggunakan senter terang saja. Aku lebih nyaman, memperhatikan di kegelapan." ucap Chaka.


"Jangan sering begitu, lakukan terang-terangan saja. Nanti aku tidak dapat melihatmu, malah aku kira tuyul lagi sembunyi." Cekikikan tidak jelas.


Menjewer telinganya yang langsung memerah. "Lucu?"


"Hahah... lumayan. Lebih seru lagi, kalau bermain layangan."


"Baiklah, tunggu aku. Bakalan sedikit lama, aku mau menggoda banyak lelaki." Langsung berlari ke ruang ganti, membiarkan raut wajah Chaka cemberut tidak dibujuk.


Memperhatikan jari-jari kaki, lalu memberikan polesan berwarna jingga. Rasanya masih ada yang kurang, jika kuku berwarna putih. "Sudah cantik belum?" Mata indahnya menyapu sekeliling dalam sekejap.


"Sangat cantik, bidadari dari khayangan." puji Chaka.


Isruni membuka jendela ruang OSIS, agar mensuplai udara segar. Kaila sengaja mengangkat meja, membawanya ke ruangan. Isruni ingin mengusir Kaila pun tidak berhak, meski dia tidak suka dengan kehadirannya.


"Beb, kamu suapi aku iya." pinta Kaila, dengan nada dibuat-buat. "Kamu tahu 'kan aku susah makan tulang sapi." Membuka mulut lebar.


Kaihan meletakkan buku cetak sejenak, mulai mengangkat sendok ke arah Kaila. "Aaa... makan iya anak manja."


Kaila mengunyah makanan sambil tersenyum mengejek ke arah Isruni. "Terima kasih bebeb ku yang setia." Menguyel-uyel rambut Kaihan yang berdiri ke atas.


"Iya, tapi ada yang aneh. Aku kok tidak tahu iya, kalau kamu kesulitan makan tulang sapi." Kaihan bertanya-tanya sendiri.


"Nah, apakah aku ini masih pacarmu?" Bertanya dengan penuh canda.


Kaihan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, aku tidak bisa tanpa kamu." Yakin dengan yang diucapkannya.


"Nah, maka dari itu aku sengaja memberitahumu. Jangan sampai kamu ketinggalan informasi, tentang hal penting dari kekasih." Menggenggam tangan Kaihan, sengaja memanasi Isruni.


"Maaf, kali ini aku yang bersalah padamu." Kaihan tidak tahu maksud Kaila pamer kemesraan, di depan anggota OSIS yang lain.


"Nona Kaila, bisakah kamu keluar?" pinta Isruni terang-terangan.


Kaila menggenggam tangan Kaihan. "Dadah, aku akan keluar bersamanya." Melompat gembira, sambil menyeret dengan terburu-buru.