
Yana mendapati banyak artikel di internet, yang menyatakan bahwa dia akan menikah dengan Ronal. Yana tidak terima, karena itu tidak benar adanya.
"Siapa yang mengekspos berita palsu ini, benar-benar tidak mengandalkan pikiran." gerutu Yana.
Tasya membawa boneka imut kesayangannya. "Ini ada motif sengaja, mungkin saja pelakunya orang terdekat."
"Mungkin juga orang iseng, supaya dia cepat viral." sahut Kaila.
"Nah, bisa jadi." jawab Yana.
Febby & Artha mengendap-endap untuk bertemu, namun dikejutkan dengan ayah Febby yang tidur di lantai. Dia menggunakan sarung, sebagai selimut pelindung. Jaraknya tidak jauh, dari dua kamar yang ditinggali Febby dan Artha.
Ayah menyodorkan sapu. "Berani iya kalian bertemu diam-diam?"
"Maaf Ayah, aku hanya mau minum." Febby beralasan.
"Aku mau ke toilet Ayah." Artha melihat dengan ngeri, lalu langsung pergi.
"Hei tunggu, jangan kabur kalian." Ayahnya melihat Febby yang berlari juga.
Febby memikirkan cara di dalam dapur, untuk masuk kamar tanpa melewati ayahnya. Bila seperti ini, dia tidak akan bisa tidur. Hari sudah semakin larut, membuat kedua matanya mengantuk.
"Aku rasanya ingin tergeletak di sini. Sangat mengantuk, tidak tahan lagi." Febby menggelengkan kepala, sambil memukul mulutnya yang menguap.
Tangan Febby bertumpu di dinding seperti cicak, berjalan mengawasi pergerakan ayahnya. Artha juga baru keluar dari toilet, dan melambaikan tangan ke arah Febby.
"Cuit...! cuit...!" Artha bersiul.
Febby meletakkan jari telunjuk di bibir. "Shhtt diam... nanti kita ketahuan."
Tiba-tiba datang satu orang lagi, tidur sambil berjalan mengambil air minum. Artha merasa terhibur, mempunyai calon mertua kocak. Ibunya Febby mengedipkan mata sayu, memastikan penglihatannya tidak salah.
"Mengapa kalian berduaan ha?" Melotot ke arah Artha.
Puk!
Puk!
Tepukan ibu malah pelan sekali, menyentuh pundak kekar Artha. Intonasinya saja yang tinggi, mengejutkan orang lain mendadak. Saat ibunya pergi, Febby dan Artha berpegangan tangan. Mereka baru saja mendekatkan wajah, lalu ayah Febby muncul di tengah-tengah.
"Aaa...!" Artha dan Febby menjerit secara bersamaan.
Mata Ayah Febby memerah, lalu jarinya mengangkat kulit kelopak mata. Artha dan Febby lari bersamaan, sampai-sampai menabrak tiang tembok.
"Mereka ngapain si, malam-malam menjadi hantu." Febby mengelus dadanya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Mungkin saja, Ayah kamu berjaga pos ronda dalam rumah." Artha si paling positif, padahal tidak seperti itu.
"Dia itu memang sengaja, tidak biasanya melakukan hal aneh. Kalau Ibu aku sudah tahu, bahwa kebiasaannya tidur berjalan." Febby bercerita sedikit tentang keluarganya.
"Meskipun pisah kamar, mungkin dia tidak percaya laki-laki asing menginap." Artha menduga-duga.
Keesokan paginya, Yana memasak telur setengah matang. Dia ingin menjaga asupan makanan dengan baik. Sarapan hari itu ditemani oleh Kaila, Tasya, dan Devin.
"Aku senang tinggal dengan kalian, kalau tidak aku bakalan kesepian." ujar Yana.
"Jangan sungkan, rumah ini sampai kapanpun milikmu." jawab Tasya.
"Iya Kak, tetap tinggal di sini saja. Aku ingin melihat ponakan sampai lahir." Kaila melarangnya.
"Bibi yang baik, belum lahir sudah menantikan kehadirannya." Yana mengelus lembut perutnya sendiri. "Anak Mama makannya jangan gas full iya, nanti kamu tersedak di dalam. Mama mungkin tidak tahu, jadi tidak beri minum." Berbicara sendiri.
"Kalau Kak Chaka masih hidup, pasti dia bahagia." ungkap Kaila.
"Jangan disebutkan lagi, dia masih betah sembunyi." Yana merasa sebal.