Loven Draft

Loven Draft
Kue Kering



Esok harinya, Dayu dan Bayu keluar dari apartemen. Tiba-tiba ada pria paruh baya melepas helem, dia adalah bapak Wiloyo.


"Ada paket dari Ibu Bimoli." ujarnya.


"Terima kasih, ini ambil sisanya untuk bonus." jawab Dayu ramah.


"Sama-sama, kembali kasih." Bapak Wiloyo mengambil uang yang diberikan Dayu.


Setelah kepergian bapak Wiloyo, Dayu dan Bayu membuka paket. Bayu membaca isi surat dari ibunya, lalu menangis terharu.


"Dia merestui hubunganku dengan Binazir." ujar Bayu.


Dayu merampas surat di tangan Bayu, lalu membacanya. "Kamu salah sangka, ini hanya kue kering yang disuruh Ibu memberikannya. Dia menyukai Binazir, bukan berarti menyuruhmu berpacaran." Dayu geleng-geleng kepala.


Bayu ambruk ke tanah. "Sudah aku korbankan segalanya, lalu kamu berpaling ke arah lain. Oh... sungguh terlalu kamu Binazir, tolong bangunkan aku hingga sadar." Memejamkan mata, seakan pingsan sungguhan.


"Bayu, kamu setiap ingin pingsan selalu membaca puisi. Sangat keren!" Dayu mengacungkan dua jempolnya, tepat di depan wajah Bayu.


Dayu dan Bayu pergi ke kelas administrasi, lalu menghampiri meja belajar Binazir. Dayu dan Bayu serentak memegang pundaknya.


"Hei bangun, mengapa di kelas tidur." ujar Dayu.


"Iya, di sini bukan ruang kasur." timpal Bayu.


Binazir mengucek matanya, dan kembali melihat dunia dengan jelas. "Aku menghafal rumus matematika semalaman, wajar saja seperti sekarang."


"Makan dulu, biar kamu kembali bersemangat." Dayu membuka kotak makanan.


Binazir melihat kue kering kesukaannya. "Hmmm... Ibu kalian sungguh baik, andai aku masih punya Mommy." jawabnya.


Binazir mengambil dengan terburu-buru, lalu menyuapi Dayu. Bayu sibuk membuka mulut, ingin dapat bagian disuapi. Binazir menyuapi keduanya, lalu bergantian ke mulut sendiri.


Belty dan Whika ikut nimbrung, duduk didekat Binazir. Mereka dapat tawaran untuk makan kue juga, lalu makan dengan lahap.


"Ini enak sekali." Binazir mengangkat tangan ke atas udara, memajukan lengan bajunya sedikit ke atas.


"Hmmm... mengapa tidak berkunjung ke kelas?" tanya Whika.


"Tidak ada temannya, Aurin dan Dhisa sedang pergi." jawab Binazir.


"Apa mereka pergi tidak mengajak kamu?" selidik Dhisa.


"Tidak, aku sedang tertidur pulas." jawab Binazir singkat.


"Pasti bukan itu alasan utamanya, karena mereka sedang marah padamu." Whika menduga-duga saja.


Saat kelas pelajaran sudah kosong, Binazir keluar dari kelas administrasi. Aurin melihat Bayu yang tidur di atas kursi, lalu mengajak Binazir untuk memoles lipstik di wajahnya.


"Kita melukis di wajah laki-laki gila itu yuk." ajak Aurin.


"Aku tidak mau ah, nanti dia marah." jawab Binazir.


"Sekali saja, please!" Aurin memohon, seraya mengatupkan telapak tangan.


"Baiklah." Binazir mendekat ke arah kursi, lalu membantu Aurin memoles pipi Bayu dengan lipstik.


Tak lama kemudian Bayu berteriak, saat melihat cermin. "Aaaa...! Siapa yang telah melakukan ini."


Dayu dan Binazir berjalan membelakangi banyak orang, menuju ke parkiran mobil. Mereka akan pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri, yang telah dipenuhi peluh akibat kegiatan menguras tenaga.


"Aku benci bahasa Inggris, mengapa harus menjadi bahasa persatuan dunia." keluh Binazir.


"Iya kali, bahasa tubuhku ke kamu jadi bahasa persatuan dunia, bisa ketahuan dong, isi hatiku yang sebenarnya." Dayu bergumam, dengan jawaban lirihnya.


"Apa?" Binazir mendekat ke arah Dayu.


"Tidak apa-apa." Dayu senyum semanis kurma.


Binazir tercengang, melihat Bayu memanjat punggung Dayu. Sekarang dia digendong, seperti anak sendiri. Binazir geleng-geleng kepala, melihat kelakuan si Bayu.


"Kakak, mengapa kamu tinggi. Mengapa kamu juga jenius, aku selalu saja dibandingkan denganmu. Kala itu semua guru memujimu, dan aku dibilang hanya pajangan kelas."


"Adik, semua orang punya kelebihan dan kekurangan." jawab Dayu.


"Aku rasa Binazir pantas menutupi kekuranganku. Kalau dia bersamamu, kalian akan menjadi empat sehat lima sempurna." Bayu merayu Dayu, sambil mengusap ingus di bajunya.


Binazir bergidik ngeri. "Ini anak terbuat dari tanah racikan kali, otaknya agak eror bicara ngelantur." Mengomel di belakang, sambil menguping pembicaraan.


Dayu yang bersifat dewasa, mencerna kalimat sebelum diucapkan. "Bayu, kamu harus berlatih. Banyak hal yang kamu inginkan, terkadang tidak bisa direalisasikan."


Sekelompok orang datang, lalu meminta foto bersama Dayu. Bayu menangis terharu, saat dirinya juga ikut terciduk kamera. Apalagi ada cabai yang menyangkut di gigi.


"Terima kasih, akhirnya kalian mengaku menjadi penggemar terbaikku." Bayu tersenyum.


"Kamu salah paham, kami hanya ingin foto bareng dengan Dayu." Seseorang mendorong Bayu hingga jatuh.


Mereka berdesak-desakan, ingin foto dengan atlet terkenal tersebut. Tidak enggan dorong-dorongan, hingga ada yang terinjak telapak kakinya. Binazir membantu Bayu berdiri, dengan tatapan tidak suka pada kerumunan.