Loven Draft

Loven Draft
Adu Mulut



Chaka sudah berlalu dari hadapannya, lalu mata Yana menatap punggung pria itu. Terus saja dilakukan, sampai Chaka menghilang dari pandangan mata.


"Eh, kamu lihat apaan?" Febby memperhatikan Yana, dari layar ponselnya.


"Bukan apa-apa, aku matikan dulu." jawab Yana.


Keesokan harinya, saat yang tepat untuk menata diri. Mempersiapkan langkah-langkah kecil, untuk menuju sekolah Kaila. Namun Yana malah masih tidur nyenyak, sampai Ronal sudah datang ke rumah.


"Mencari siapa?" Chaka menatap serius.


"Mencari Yana Ananta." jawab Ronal.


"Mengapa mencari istri orang, apa karena tidak laku?" sindir Chaka.


"Pertanyaan tidak bermutu, mohon ditarik kembali." Ronal sindir balik.


"Aku tidak akan menarik ucapanku, untuk manusia bermuka dua." Chaka sejak awal sudah tidak suka dengan Ronal.


"Kelihatannya anda terlalu posesif, kasian Yana menjadi istri dari orang seperti anda." jawab Ronal, dengan santai.


Yana tiba-tiba muncul, lalu mempersilakan Ronal untuk duduk. Kaila sudah selesai Bersiap-siap, dan Yana menyuruh Ronal menunggu.


"Ronal, kamu tunggu di sini iya. Aku mau mandi dulu." ujar Yana.


"Iya Yana." jawab Ronal lembut.


"Sekali lagi maaf, karena membuatmu menunggu." ujar Yana.


"Iya, tidak apa-apa kok." jawab Ronal.


Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi di dalam bus. Terlebih lagi si Ronal, yang suaranya lumayan bagus. Dia mencari perhatian Yana, supaya perempuan itu menoleh.


"Cinta adalah rasa yang paling tulus, dari hati turun ke mata. Dari mata, meresap ke tulang." Ronal tersenyum ke arah Yana, sambil terus menyuarakan liriknya.


"Kaila, ih kebiasaan tidak sopan." Yana menjewer telinganya.


"Biarin saja, dia juga tidak sopan. Ngapain ikut istri orang pergi, yang lagi jauh dari suami." bantah Kaila.


"Kaila, dia itu sangat tahu diri. Namun Kakak yang memintanya untuk menemani." jelas Yana.


"Bela terus Kak, muak aku mendengarnya." jawab Kaila.


"Biasa saja kali, tidak perlu ngegas ngomongnya." ucap Yana.


"Mana bisa ngegas, mulutku bukan motor." bantah Kaila lagi.


Sementara di sisi lain, ada Febby yang jalan santai. Sesekali pandangannya menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun di sana.


"Perasaan ada yang mengikuti aku deh. Pasti dia sedang sembunyi, seperti cerita pada film mafia." Febby bergumam sendiri.


Febby segera berlari kencang, lalu bersembunyi di balik drum. Tiba-tiba saja terdengar suara nafas terengah-engah. Ternyata oh ternyata, orang tersebut adalah Artha.


"Cepat sekali larinya, kemana dia?" Artha bertanya-tanya sendiri, dengan telapak tangan bertumpu pada lutut.


Febby berhasil mengejutkan Artha, yang masih mengatur pernafasan. "Duar! Hayo ketahuan buntuti aku, dasar pria mesum!"


"Lagi-lagi kamu menuduhku pria mesum. Aku ini ada keperluan, karena butuh bantuan. Tapi kamu tenang saja, tidak gratis kok. Aku akan memberi imbalan, asalkan kamu bersedia." jelas Artha.


"Apa yang bisa kamu berikan, sehingga bisa aku pertimbangkan?" Febby menatap segala sisi wajah Artha.


"Aku akan memberimu uang, kalau kamu menyelidiki perkembangan hubungan Kakek Narto." Artha menyebutkan hal, yang sedang diincarnya.


"Maksudnya, aku harus cari tahu urusan orang lain gitu? Buat apa mewawancarai masa muda mereka berdua? Kakek Narto dan Nenek Narti bisa menjalin hubungan, karena jodoh." jawab Febby, yang dasar tidak mau ribet.