Loven Draft

Loven Draft
Menyukai Laki-Laki Yang Sama



Belty dan Whika berjalan disekitar kampus sambil bercerita, lalu melihat Binazir berdiri depan pintu aula. Mereka berlari menghampiri Binazir.


Whika menyuapi temannya dengan es krim. "Kamu mengapa mengomel sendiri di sini."


"Aku kesal dengan dosen Sheshy yang masuk ke kelas, menyuruh revisi saja sampai teriak-teriak. Mengapa harus banting meja, tapi tidak sekalian ditelan." Binazir cemberut.


"Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. Jangan lupa untuk tidak tegang, nanti sulit mengeluarkannya." ucap Belty.


Binazir tercengang. "Kamu kira melahirkan."


"Meditasi untuk mencapai relaksasi juga diperlukan. Tidak hanya berlaku untuk Ibu hamil saja." ujar Belty.


"Iya, iya, aku akan mencobanya." Binazir mulai melakukan apa yang disarankan temannya.


Dayu tiba-tiba muncul di hadapan Binazir, namun mendapat reaksi buang muka. Dayu mengeluarkan kalung bayi hiu, yang tersembunyi dalam baju kaosnya.


"Coba kamu lihat ini, dan aku pastikan kamu menyesal jika tidak mengetahuinya." ujar Dayu.


Binazir menoleh ke arahnya, dengan reaksi terkejut. "Dayu, mengapa kamu memiliki kalung ini juga."


"Aku adalah Dayu teman masa kecilmu. Jika kamu ingin aku mengganti kalung yang sudah rusak, biar aku berikan saja milikku." tawar Dayu.


"Tidak perlu, aku senang bertemu denganmu." jawab Binazir.


Dayu tersenyum ke arahnya, dan Binazir pun begitu. Yakult baru muncul, namun melihat Binazir yang berpelukan dengan Dayu.


"Hmmm... kemarin dia tampak benci pada Dayu, sekarang mengapa bisa seperti Romeo dan Juliet." Yakult bergumam-gumam sendiri.


Yakult yang ingin memberikan kado mengurungkan niatnya, sampai membalikkan badannya. Ternyata ada Aurin yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Ini untukku?" Aurin melihat kado yang terangkat di udara, mengarah dengan lurus pada dirinya.


"Hmmm... ini untuk ...." ucapan Yakult sudah dipotong Aurin lebih dulu.


Aurin langsung merampas kadonya. "Aku tahu, ini untukku. Terima kasih, karena kamu telah bersedia membelikannya."


Yakult melihat Aurin yang gembira, sambil melangkahkan kaki. "Eh tunggu!"


”Ah perempuan ini, mengganggu saja. Siapa bilang, bahwa aku memberikannya untukmu.” batin Yakult.


Aurin masuk kelas dengan berbunga-bunga. "Lihat, aku diberi hadiah oleh Yakult." Sengaja memperlihatkan pada Dhisa.


"Melihat dari watak atlet satu itu, dia sangat dingin. Mana mungkin tanpa pendekatan, dia memberikan hadiah untukmu. Kamu pasti salah paham!" jawab Dhisa.


"Terserah kamu deh, kalau tetap ngotot. Jangan salahkan aku, bila kamu sakit hati karenanya." jawab Dhisa.


Binazir masuk kelas senyum-senyum sendiri, bahkan tidak segan tertawa. Teman-teman sekelasnya mengira Binazir sudah mulai gila.


"Hei, kamu gila skripsi sampai bersikap konyol begitu." ujar laki-laki di pojokan.


"Woy Anton, kamu jangan berbicara dengan nada tinggi. Terlalu lantang hanya akan terlihat menggunakan gas berlebihan." Binazir tersenyum, sambil mengedipkan mata.


Anton segera pergi, sedangkan Binazir melompat kegirangan. Dia berhamburan memeluk Aurin, lalu bergantian dengan Dhisa.


"Ada apa si, kamu seperti orang yang sedang kasmaran." ujar Aurin.


"Benar, aku baru saja bertemu teman masa kecil." jawab Binazir.


"Ya Tuhan, ternyata satu kampus dengan kita. Mengapa hal seperti ini tidak disadari, padahal sudah lama bersama." Dhisa heboh.


"Bukan sudah lama, namun karena dia mahasiswa pindahan. Namanya Dayu Anjasranu Rahardian, atlet baru itu loh."


Seketika senyum Dhisa memudar. "Kamu tidak menyukainya 'kan?"


"Dhisa, aku sudah lama menantikannya." Binazir jujur saja.


"Binazir, sudah 6 tahun lamanya setiap ada pertandingan terjun payung, aku selalu menyaksikan Dayu di televisi. Bahkan aku mengikuti sosial medianya, meski dia tidak tahu siapa aku. Kamu tahu 'kan, seberapa besar harapan aku ingin bertemu dengannya. Harapan itu, sama seperti harapan kamu menanti teman masa kecil datang kembali." Dhisa meneteskan air matanya.


"Dhisa, Bina tidak salah dalam hal ini." sahut Aurin.


"Kamu tidak tahu Aurin, andai kamu bisa merasakan sekali saja. Jika Dayu adalah Yakult, apa kamu masih bisa berkata demikian." jawab Dhisa.


Binazir terdiam, dia tahu sahabatnya sangat kecewa. Mengapa orang itu harus Dayu, bukan orang lain saja pikirnya.


"Dhisa, bukan maksud aku ingin membela Bina. Tapi, cinta memang tidak dapat dipaksakan." Aurin berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Cinta bisa tumbuh seiring waktu bersama." jawab Dhisa.


Dhisa segera keluar dari kelas, namun malah menabrak Belty dan Whika. Mereka berdua membawa jagung manis, yang sudah terbungkus rapi dalam gelas plastik. Baru saja mau menyapa, Dhisa sudah pergi.


"Eh, tumben dia menangis." ujar Belty.


"Jangan-jangan, mereka bertengkar." Whika menjawab, sesuai dugaan saja.


Mereka segera masuk ke dalam kelas, untuk mendapatkan sedikit informasi. Namun nihil hasilnya, Binazir dan Aurin tidak buka suara. Sepanjang proses interogasi, hanya menggelengkan kepala.