
Polisi berdatangan ke lokasi mobil Chaka masuk ke jurang. Diduga pengemudi meninggal, dan berita mulai masuk televisi. Yana panik dan histeris, ketika mendengar berita duka tersebut.
"Suamiku, mengapa dia pergi secepat ini?" Yana mengusap air matanya.
"Yana, kamu yang sabar iya. Teruslah berdoa, bahwa berita yang kita dengar salah." Tasya mengusap punggung anaknya.
"Biar lebih jelas, bagaimana bila kita kunjungi rumah sakitnya." Kaila mengusulkan idenya.
"Iya, lebih cepat lebih baik." Tasya menyetujui saran tersebut.
Akhirnya semua pergi ke rumah sakit yang dimaksud. Di sana ramai orang, yang tidak kenal dengan Yana. Mereka sepertinya banyak dari kalangan desa terpencil, yang menunggu keluarga sedang sakit.
"Cepat ke kamar mayat." Yana berjalan dengan terburu-buru.
Sesampainya di kamar mayat, Yana melihat jasad atas nama Chaka Alexander. "Kasian sekali, kamu harus pergi secepat ini. Banyak mimpi yang belum menjadi nyata, aku ingin menghabiskannya denganmu sayang."
"Apa ini benar Kak Chaka? Aku hampir tidak percaya." Kaila memelototi jasad yang sudah hangus terbakar itu.
"Sepertinya, dia bukan Chaka. Ada yang aneh dengan tubuhnya, tidak mirip sama dia." Yana menghentikan tangisannya, meneliti setiap lekuk jari-jarinya.
Yana pergi ke pemakaman, setelah jenazah usai disalatkan. Yana merasa ada yang memperhatikannya, lalu kedua matanya melihat ke arah pohon.
Yana menoleh dengan cepat. "Harusnya ada orang, namun mengapa kosong?" Yana bingung, karena tidak ada siapapun.
"Mungkin, ini hanya perasaan kamu saja." jawab Febby.
Orang dari kejauhan menurunkan kacamatanya, sambil tersenyum dengan bahagia. Berhasil menyingkirkan Chaka, merupakan kebahagiaan tersendiri. Mereka ingin merayakannya, tanpa diketahui siapun.
"Yana, Yana, suami tidak berguna itu mengapa harus ditangisi." Melangkahkan kaki pergi untuk melapor, pada orang yang memerintahkan.
"Apa Kakak begitu lapar, sampai membeli makanan sebanyak ini?" tanya Kaila.
"Kakak ingin bergadang, sambil kumpul bersama Febby dan kamu. Kita akan makan kuaci, dengan kulitnya yang asing. Menurutku, meski kecil rasanya sangat renyah." jawab Yana.
"Pengawal Kak Chaka kemana iya, kok tidak ada juga?" Kaila mencari Chaka dalam ilusinya.
"Pengawalnya mungkin tidak terselamatkan juga." jawab Yana.
Pria berjubah tertawa kuat, karena berhasil membunuh Chaka. Mereka bersantai minum air bir, untuk merayakan keberhasilan. Kali ini dia bisa sedikit lengah, meski keinginan membunuh detektif Melvi belum terlaksana.
"Dia seperti sengaja menghilang, secara khusus mengosongkan rumah." ujarnya.
"Benar bos, tidak tahu apa rencananya." jawab salah satu orang, yang menjadi pesuruhnya.
"Bukankah dia sejak awal sudah mengelabuhi kita? Sengaja menutup kasus kematian orangtuanya, namun mencari detektif Melvi diam-diam." Meneguk lebih banyak air bir, hingga kepalanya pusing.
"Kali ini harus lebih waspada, memastikan yang meninggal adalah dia." jawab laki-laki rambut kuncir kuda.
"Tapi pemakamannya sudah dilaksanakan, tidak mungkin diperiksa diam-diam." ujar sang bos.
Menuang air bir ke gelas besar. "Nah iya, orang mati nanti gentayangan kalau diganggu."
"Pepatah lama segera tinggalkan." Pria berjubah itu akhirnya ambruk kepala, pada badan meja.
"Sudah lemas, jangan minum lagi. Bos pulang saja, segera istirahat." Paling pengertian sendiri, sampai ingin membantu bos berjalan.
Bayangan Chaka masih melintasi kepala bosnya, tidak tahu mengapa berita kematian itu terdapat keraguan besar.