Loven Draft

Loven Draft
Racun Pada Makanan



Mangkuk dibawa pada pelayan restoran, dan dilaporkan kelalaian bos pada usahanya. Bagaimana mungkin racun, bisa dituang ke dalam makanan Chaka.


"Kalau kalian tidak bekerjasama dalam pemeriksaan, maka restoran ini akan ditutup." ancam salah satu pengawal.


"Ini terlalu tidak sopan, bagaimana mungkin memeriksa identitas pribadi karyawati." jawab salah satu pelayan, mewakili suara.


"Lebih tidak sopan menolak pemeriksaan, sementara kasus ini termasuk tindak kejahatan. Bagaimana pembeli akan percaya, dengan pelayanan restoran ini." Berpangku tangan.


"Aku tetap menolak, jika tak sungkan temui bos sendiri." jawab pelayan itu, dengan seenaknya menolak.


Yana juga tidak jadi makan, hanya menatap kepulan asap yang meninggi. "Kok bisa seperti ini? Apa ada yang mau membunuhmu."


"Sudah sering terjadi, tak aneh dilihat mata." jawab Chaka.


"Kenapa kamu tidak cerita hal berbahaya seperti ini?" Yana memegang tangan Chaka.


"Saat itu kita tidak sedekat ini, belum resmi membatalkan kontrak pernikahan." jawab Chaka, dengan jujur.


"Lain kali katakan dengan terus terang. Sekarang, aku sudah bukan orang lain." Yana tersenyum menunduk malu.


"Baiklah, sekarang kita rekan satu hati." Chaka melihat Yana, dengan pandangan hati berbunga-bunga.


Saat pulang ke rumah, Yana melihat Kaila yang murung. Dia menopang dagu, sambil menusuk-nusuk ikan dengan sendok garpu.


"Kenapa tidak makan? Memikirkan apa kamu?" tanya Yana lembut.


"Kak, di sekolahku kedatangan siswi baru. Dia tiba-tiba jadi ketua OSIS, lalu Kaihan disuruh mendampinginya. Aku merasa aneh sekali dan sangat tidak setuju, bahkan teman-teman sekelas ku juga. Tapi kami protes tiada guna, kepala sekolah tak merubah keputusan." jawab Kaila.


Yana menepuk pundak Kaila. "Kamu khawatir Kaihan didekati dengan siswi itu 'kan?"


"Loh, kok kamu bisa tahu, kalau kami sudah membatalkan kontrak pernikahan?" Yana menyipitkan mata curiga, menduga Kaila menguping.


"Memang berita besar dunia mana, yang bisa lewat dari pendengaran Kaila pintar." jawabnya bangga, sambil melepaskan pelukannya.


Bugh!


Detektif Melvi menerima pukulan berkali-kali, dari pria berjubah hitam. Dia memaksa Melvi mengatakan hasil penyelidikan, dan memintanya sembunyikan kebenaran tentang pembunuhan.


"Hah, aku tak akan berkhianat dengan sia-sia." ucap detektif Melvi.


"Tenang saja, aku akan membayar mu." jawabnya, memancing Melvi buka bicara.


"Aku rasa, sekarang ini hanya keluarga Sebastian konglomerat sejagat. Lalu, untuk apa bekerjasama dengan orang lain. Tentu, tidak akan menguntungkan bagiku." ujar detektif Melvi.


"Kamu berani-beraninya tegas, disaat nyawamu terancam seperti ini. Kamu sepertinya ingin aku berbuat kasar dengan sukarela." Memainkan gagang besi di tangannya, lalu memukul pundak Melvi dengan kuat.


Bugh!


Sakit sekali rasanya, tapi tak menggetarkan hati untuk membuka mulut. Pria berjubah hitam ini terus melakukan pukulan pada perut, sampai darah keluar dari mulut dan hidung detektif Melvi.


Ronal menelepon Yana, untuk bertemu investor pendiri bioskop. Dia berencana bekerjasama, untuk membuat film kartun. Yana yang akan mengisi suara, bersama dengan Ronal.


"Ini investor dari bioskop paling terkenal itu 'kan? Setiap film barunya selalu laris." Yana memastikan sekali lagi.


"Iya, langsung saja bertemu dia. Namanya Bayoli, sudah lama mengenalnya. Waktu itu, dia pernah berjasa pada perusahaan ku." jawab Ronal.