
Bintang-bintang berjatuhan dengan indah, terlihat cahaya yang berjalan seperti rute kereta. Meteor alami tersebut, jarang-jarang sukarela mengendus udara bebas.
"Lihat deh, yang itu keren." Kaila tersenyum, sampai menampakkan deretan giginya.
"Iya Kaila, dia menjadi saksi indah hubungan kita." jawab Kaihan.
"Tidak boleh, dia adalah saksi cinta kami berdua." sahut Chaka.
"Tidak bisa begitu Kakak, aku yang menyebutkannya lebih dulu." jawab Kaihan.
"Kaihan, bagaimanapun hubungan kami adalah resmi secara hukum. Menurutmu, siapa yang lebih pantas untuk didukung?" Yana mengedipkan matanya.
Kaila berusaha membela pacarnya. "Kakak, sistem dunia tidak menghalangi prinsip. Kalian berdua tidak boleh menindas remaja kecil seperti kami, karena ingin memenangkan meteor bersama."
Yana tersenyum. "Justru kalian remaja kecil, tidak tahu apa itu cinta sejati. Cinta bukan hanya soal perasaan saling memberikan waktu, namun cinta juga perihal tanggungjawab sampai akhir."
"Benar yang dibilang Kakak Yana. Melihat dari waktu sekarang ini, kalian belum bisa dikatakan cinta sejati." Chaka merangkul pundak Yana.
Kaila melihat mereka bermesraan dengan bebas. "Sudahlah kita mengalah saja, pada kenyataannya mereka memang bebas melakukan apapun."
"Mereka 'kan sudah menikah." jawab Kaihan.
"Kalau sudah lulus SMA, kamu menikah saja denganku. Seperti itu juga bagus, kita bisa masuk kategori hubungan resmi." ujar Kaila.
"Cinta sejati adalah kebebasan dalam melakukan sesuatu. Kalau terkekang dengan niat sendiri, akhirnya beberapa manusia kadang memilih mundur." jelas Kaihan.
"Aku ingin menikah, bukan karena ucapan mereka malam ini. Hanya saja, memilikimu lebih cepat lebih baik." ungkap Kaila.
"Kita perlu kuliah, mungkin saja aku akan mendapatkan pekerjaan layak. Menikah itu harus sanggup mencari nafkah, dengan berbagai cara." jelas Kaihan.
Tasya dan Devin mengajak Yana dan Chaka pergi ke perumahan elit, di salah satu kota ramai penduduk tersebut. Yana melihat cahaya matahari yang berjalan, ke arah pipinya yang merona. Chaka dengan cepat menutupi dengan jaket.
"Sekarang, kalian bisa memilih salah satu di antara banyak rumah." ucap Tasya.
"Kamu senang, Mama dan Papa juga senang. Jangan bilang terima kasih lagi." Tasya menggandeng tangan putrinya, yang sudah menjadi istri orang.
"Kalian memang orangtua yang sempurna." jawab Yana.
Beberapa menit mereka mempertimbangkan musyawarah bersama. Akhirnya sepakat membeli rumah yang lumayan besar, dan juga minimalis. Tasya menghubungi penjualnya, agar memberikan sertifikat penjualan pada Chaka. Setelah urusan selesai Chaka menemani Yana, untuk mendaftar kelas ibu hamil.
"Ini formulirnya, silakan diisi." ujar petugas.
Yana mengambil formulir pendaftaran. "Iya, terima kasih."
Beberapa menit sudah selesai, tinggal menunggu kartu peserta dicetak. Chaka mengantar Yana, singgah ke sebuah toko aksesoris. Yana memilih pita marmut, yang akan diberikan pada Bubu.
"Saat kita pindah rumah, aku tidak ingin dia hilang." ujar Yana.
"Baiklah, bagus juga caramu." jawab Chaka.
Pulang dari mengantar Yana, malah ban mobil Chaka kempes di jalan. Mereka berdua turun dari mobil, dan Yana membawa belanjaan keluar.
"Sayang, nanti kamu keram lagi. Biar aku yang membawakan belanjaan kamu." ucap Chaka.
"Tidak apa-apa sayang, ini cuma aneka kue kering." jawab Yana.
Chaka langsung merampasnya, bersamaan dengan itu mobil singgah. Chaka melihat Artha keluar dari mobil barunya, lalu bercermin di depan kaca spion terlebih dulu.
"Kalian kenapa?" tanya Artha.
"Mobil kami mogok." jawab Yana.
Febby yang masih di dalam mobil tersenyum. "Ayo, naik mobilku saja."
"Iya Febby." jawab Yana.