Loven Draft

Loven Draft
Pesta Permen



Kaila dan Kaihan menghampiri Yana, dan melihat mereka secara bersamaan.


"Nanti malam kita pergi ke pesta permen yuk!" ajak Ronal.


"Boleh, boleh." jawab Yana, yang langsung menyetujui.


"Ikut dong Kak!" pinta Kaila.


"Tidak boleh, ini khusus untuk kami saja." jawab Ronal.


Rasa lapar telah melanda, dan ikan panggang telah ada dengan sendirinya. Yana dan Kaila tercengang, ketika melihat lauk enak di tenda.


"Apa ada ojek pengantar makanan yang kesasar?" tanya Kaila.


"Masa si, kok aneh banget iya." jawab Yana.


"Itu yang membuat aku heran. Bisa-bisanya ada makanan di sini." ujar Kaila.


"Mungkin, ada tukang masak yang kelupaan." jawab Yana.


"Harusnya si tidak mungkin, pasti sengaja ingin memberi kita." Kaila sudah merobek daging ayam tersebut.


"Iya sudah, kita makan saja. Lagi pula berada di dalam tenda kita." jawab Yana.


Baru saja sendok ingin memasukkan makanan ke dalam mulut Yana, namun terdengar suara Ronal di luar. Dia sibuk memanggil Yana dan Kaila, karena membawakan udang goreng sambal.


"Wah, ini enak sekali!" Kaila melompat-lompat.


"Iya, untuk Kak Yana." jawab Ronal.


Kaila yang berada di luar tenda, mengintip sedikit melihat ke arah Yana. Kaila memperlihatkan toples udang, sambil tertawa tidak jelas.


"Kakak pasti sudah kenyang hahah... Buat aku saja iya ini." Kaila tersenyum.


"Iya, makan saja untukmu." jawab Yana.


"Hih Kaila, aku ingin Kakak kamu mencicipi masakan ku." ujar Ronal.


Kaila dengan cepat memakan udang, yang sudah tidak hangat lagi. Harap maklum, Ronal memasaknya di waktu subuh.


"Kamu rakus sekali, tidak memikirkan yang masak." ujar Yana.


"Masak itu bukan perkara sulit, asal tidak terlalu melebihi kapasitas." jawab Kaila, dengan santai.


Yana masih menikmati makanan misterius tadi. "Tapi kamu 'kan bisa melihat sendiri, bahwa kondisi fisik Ronal bagaimana."


Kaila berhenti menjilati bumbu di Jari-jarinya. "Oh iya, dia sedang buta."


"Nah, itu kamu tahu." ujar Yana.


"Iya, aku 'kan bisa melihat jelas kondisinya. Namun udang ini sudah diberi untuk kita, apa salahnya bila dihabiskan." jawab Kaila.


Chaka menggantikan posisi menjadi Ronal, dengan menggunakan topeng. Yana menunggu kedatangan Ronal, sambil memandangi jam tangannya. Tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh Chaka, dan mereka berlarian sepanjang jembatan. Yana bingung dengan tindakan pria, yang sekarang mengajaknya berlari.


”Kok aku deg-degan seperti ini iya.” batin Yana.


"Lepaskan aku Ronal, aku tidak mau kontak fisik dengan laki-laki." Yana sibuk menghempaskan tangannya.


Chaka berhenti sejenak, lalu melihat Yana sambil menggelengkan kepalanya. Itu adalah isyarat bahwa mengatakan tidak, tanpa mau mengeluarkan suara.


"Kenapa kamu bertindak seperti ini?" tanya Yana.


Chaka melanjutkan lagi perjalanan, namun sekarang lebih ekstrim. Menggunakan cara romantis yaitu menggendong Yana, lalu setelahnya melayang bagai super Hero. Yana dapat merasakan setiap desiran angin yang berhembus.


"Ronal, kamu tidak sopan sekali si! Berani-beraninya menggendong aku tanpa izin." Yana memukul-mukul dada Chaka, sibuk meminta untuk dilepaskan.


Di dalam pesta permen, Yana melihat banyak keindahan. Tangannya bisa memilih terompet cinta, yang akan menunjukkan permen sejati.


"Kamu dapat permen nomor berapa?" tanya Yana.


Chaka hanya mengisyaratkan dengan jari-jarinya. Yana tersenyum bahagia, dan tidak tahu sebabnya. Dia membuka bungkus permen, dan mengunyah isi dalamnya yang berwarna hijau.