Loven Draft

Loven Draft
Detektif Melvi



Artha menggunakan teropong besar, mencari pasangan paling serasi. Febby berencana mengajak Artha, untuk mewawancarai pasangan yang sedang membeli gulali.


"Eh, apa mereka bisa dijadikan testimoni juga?" tanya Febby, sambil menunjuk target.


"Bisa, kalau mereka mengikuti program aplikasi yang aku jalankan." jawab Artha.


"Caranya?" tanya Febby.


"Mereka harus ikut kencan langgeng." jawab Artha.


"Iya sudah, ayo kita mulai bereaksi." ajak Febby.


"Ayo, cepat lari." jawab Artha.


Mereka terbirit-birit, sampai menyenggol Kaila. Kaihan terkejut melihat siapa yang datang, sudah membawa kamera syuting saja. Febby fokus sekali,


"Ternyata kalian, pasangan yang mau kami wawancarai. Dari tadi begitu romantisnya, sampai membuat air liurku ingin menetes." Febby tunjuk-tunjuk, masih tercengang.


"Mengapa begitu herannya? Bukankah kami berdua memang selalu romantis." jawab Kaila.


"Tapi, ini jam sekolah. Apa kalian bolos?" selidik Febby.


Kaila nyengir, sambil menggaruk kepalanya. "Nah, bisa dikatakan begitu."


Kaila dan Kaihan mereka bawa ke suatu tempat, di mana acara kencan langgeng didirikan oleh Artha. Kaihan membersihkan sisa gulali, di sudut bibir Kaila.


"Lihat, apa yang terlintas di pikiran saat kalian menatap laut yang luas tersebut? Cepat jawab secara bersamaan, tidak boleh curang." ujar Artha menggesa-gesa.


"Hmmm... aku melihat pemandangan pohon-pohon yang besar." jawab Kaila dan Kaihan secara bersamaan.


Plok! Puk!


Setelah wawancara mengenai makanan kesukaan, warna kesukaan, hal yang disukai, tanggal lahir, model baju yang disukai, mereka semakin yakin kalau Kaila dan Kaihan memang cocok. Mereka berdua mau dijadikan testimoni, untuk mengajak para pengguna yang ingin mencoba aplikasi cari jodoh.


"Aku melihat gemericik air." ujar Febby.


"Kamu tidak diizinkan mengemukakan pendapat. Ini khusus yang menjalin hubungan saja, kalau mau mencoba cari pasangan sana." jawab Artha.


Kaila dan Kaihan bermain speed boat berdua, tertawa kuat di tengah gemuruh air laut. Hari jenuh terasa lenyap di hati Kaila, selama ada Kaihan dirinya lumayan terhibur.


"Kaihan, aku cinta kamu." Memajukan bibirnya, memberikan ciuman jarak jauh.


"Iya, aku cinta kamu juga." Kaihan tersenyum ke arah Kaila.


Tiba-tiba, ombak deras menyapu pasir di tepi laut. Ombak menghempas bebatuan besar, lalu setelahnya menerjang speed boat Kaila. Kaihan mulai merasa panik, saat Kaila terseret ombak.


Detektif muda menemui Chaka di kantor, semua karyawati dibuat tercengang. Siapa, siapa, begitu suara semua orang bertanya. Sepanjang koridor pria muda itu, terus menjadi pusat perhatian. Bahkan sampai tubuhnya menghilang di balik pintu ruangan Chaka.


"Silakan duduk, selamat bekerjasama Melvi." ucap Chaka.


Duduk dengan bersilang, bertumpu pada paha sebelah kiri. "Iya, sudah diselidiki secara jelas. Musibah yang menimpa orangtuamu murni pembunuhan. Aku sudah menyelidikinya, dengan sangat-sangat rinci."


"Mengapa kamu bisa menyimpulkan secepat itu?" Chaka tak habis pikir, apa yang telah terjadi.


"Bukti kuat siapa dalangnya belum terkuak, namun sedikit petunjuk arah ditemukan. Dari bentuk bekas cakaran di tangan, menandakan tangan mereka sempat diseret secara paksa." jelas Melvi.


Chaka meremas kertas tapi yang ada di mejanya. "Aku tidak akan membiarkan pelakunya lolos."


"Tenang saja, aku sudah menemukan tempat tinggal pelaku. Aku juga sudah menjalin kerjasama dengan beberapa polisi. Esok lusa, kita sudah bisa meringkusnya." jawab Melvi.