Loven Draft

Loven Draft
Bulan Madu



Kuncup merah muda telah bertengger di atas gunung, menantang tangan Chaka memetiknya dengan ganas. Chaka mengulum dan mengunyah pelan tanpa keraguan. Manis sekali bunga segar itu, sudah dibalur dengan perawatan. Kumbang jantan ini tidak pernah menyerah, untuk sampai di puncak kehangatan. Dua bunga merah ranum ditarik-tarik ke atas, sesekali meremas gunung bulat kenyal itu.


Salah satu anggota tubuh Chaka mengeras, lalu tidak tahan memasuki goa sempit. Sengaja bersemayam, menikmati purnama jurang surga. Menusuk semakin lebih jauh, sampai berdenyut-denyut mengapit ketegangan. Yana membuka mulut, menikmati setiap gerakan. Chaka tergoda dengan bibir istrinya, mendekat lalu mencium. Rangsangan yang diberikan suaminya, mungkin menumbuhkan benih baru.


Chaka bagaikan kumbang jantan, yang terus saja menyentuh titik sensitif. Maju mundur dengan lihai, tanpa merasa bosan. Dia malah menikmati perjalanan, dalam goa sempit yang mulus. Bunga sudah cukup mengeras, karena permainan mulut kumbang. Goa terus bergoyang, sampai mengeluarkan aliran air putih pekat. Yana lemas, saat Chaka ambruk di sampingnya.


"Bagaimana sayang?" Chaka memastikan perasaan istrinya.


"Enak banget." jawab Yana, sambil senyum.


Yana memeluk tubuh Chaka, membiarkan kepala sang istri di dalam dekapan lengannya. Keesokan harinya menatap pemandangan laut kota Seoul, dari kaca jendela. Benar-benar menakjubkan, begitulah gumaman Chaka. Rasa ketagihan ada di hati Chaka, ingin membuat istrinya lembur lebih lama.


"Sayang, kamu gendong aku dong." pinta Chaka.


"Tidak kebalik tuh." jawab Yana.


"Jangan menggemaskan begitu, aku jadi lapar." Chaka melihat wajah Yana dengan lama.


Yana mulai salah tingkah. "Jangan lapar, ini belum waktunya. Simpan tenaga, untuk kita bekerja nanti."


"Iya sudah, temani aku sarapan di restoran lantai bawah. Aku yang gendong kamu dengan syarat, punggungku dihadiahkan sahabat bulat kenyal." Chaka melirik belahan dada Yana.



Yana melirik ke arah Chaka, dengan raut wajah biasa saja. Tidak senyum, tetapi tidak juga cemberut. Yana sedikit membungkukkan badan, lalu menepuk tubuh bagian belakang. "Kamu naiklah ke punggung, karena aku tidak mau menuruti syarat kamu."


Chaka cekikikan, lalu mengapit jari jempol dan telunjuk secara bersamaan. "Baiklah, aku yang akan dimanja."



"Maafkan aku sayang, tadi niatku hanya bercanda." Chaka menyelipkan rambut Yana, yang terurai ke depan.


"Aku tidak mau maafin, kamu keterlaluan." Yana marah dibuat-buat, semakin menggemaskan.


Chaka menggendongnya sampai ke ruangan bawah, padahal Yana malu dilihat banyak orang. Yana menepuk-nepuk dada Chaka, berbisik lirih untuk mengingatkan.


"Jangan anggap dunia milik berdua, aku malu. Cepat lepaskan!" Auto ngamuk-ngamuk dalam gendongan.


"Shhtt... diamlah sayang, sebentar lagi sampai." Chaka melihat kursi, dan meja yang kosong.


Mereka duduk bersampingan, lalu pelayan menghampiri. Membawakan buku menu, lalu Chaka menunjuk makanan yang dia suka. Pelayan pergi, setelah mencatat apa yang ingin dimakan mereka.


"Sayang, kamu kenapa memilih hotel ini?" tanya Yana.


"Aku terbiasa perjalanan bisnis menginap di sini." jawab Chaka.


"Hmmm... gitu iya." Yana menggerakkan bibirnya, sambil mata menatap sekeliling.


"Apa kamu tidak suka, sampai bereaksi begitu?" Chaka heran saja. "Kalau tidak menarik, kita bisa pindah tempat."


"Suka, aku suka sekali." Yana menjawab cepat, memasang raut wajah senyum.