Loven Draft

Loven Draft
Pencopet



Binazir berjalan, sambil memegangi tas sandangnya. tiba-tiba, seorang pria muda menjambret tasnya. sementara Dayu sedang membaca surat pindahan, dari kampusnya di luar kota.


"Tolong! Tolong! Ada pencopet." teriak Binazir.


Dayu membantu mengejar dengan terburu-buru, padahal lagi asyik-asyiknya jalan santai sambil mendengarkan musik. Dayu berdiri tidak jauh dari pencopet, dan sengaja menyandung kakinya.


"Hei, awas kamu! jangan menghalangi jalanku." teriaknya.


"Aku tidak sengaja, maafkan aku." jawab Dayu santai.


"Sudahlah, cepat awas!" Mendorong tubuh Dayu, dengan tergesa-gesa.


Dayu tetap tidak mau bergerak, hingga pencopet murka padanya. "Jangan ikut campur, atau aku tusuk." Mengeluarkan pisau kecil.


Dayu tersenyum devil, lalu menendang pisau hingga jatuh. pencopet memberikan serangan memukul perutnya. Dayu mengelak, dan meninju wajah pencopet.


Bugh!


Tas Binazir terlempar, bersamaan dengan banyak orang menghampiri. pencopet kabur, namun tetap dikejar mahasiswa dan mahasiswi kampus.


"Ini tasnya." Dayu memberikannya.


"Terima kasih." jawab Binazir.


Bayu tersenyum sambil melambaikan tangan, dan membenarkan topi. Binazir malah melihat ke arah Dayu, namun Bayu merasa jadi objek penting. Binazir masuk kelas lalu minta cemilan, pada teman-teman sekelasnya. Aurin dan Dhisa melihat Binazir makan terburu-buru, lalu akhirnya dia tersedak. Binazir merampas botol minuman Aurin, sambil meneguknya dengan sedikit cepat.


"kamu kenapa Bina, pelan-pelan dong makannya." Aurin menyuruh duduk, dengan cara menarik tangannya.


"Aku sangat kesal, karena ada pencopet mengambil tasku." jawab Binazir.


"Oh, jadi yang kecopetan tadi kamu." Dhisa manggut-manggut.


"Iya, bersyukur ada yang menolong." Binazir menoleh ke arah Dhisa.


"Yang benar saja, di kampus ada pencopet." sahut Aurin.


Sesudah kesal, Binazir malah tertawa. "Hahah... aku juga tidak tahu, palingan sudah tertangkap oleh murid kampus."


"Keren kamu, masih bisa unjuk gigi disaat terkena musibah." Aurin mengacungkan dua jempolnya, yang sedang memegangi keripik kentang.


"Binazir gitu loh." Bercanda dengan ekspresi sedikit bangga.


Mereka melihat dosen masuk kelas, Binazir segera memasukkan plastik jajan ke bawah laci. Namun masih sempat-sempatnya, menjilati bumbu di tangannya.


"Binazir, kamu kenapa?" tanya dosen Sheshy.


"Alasan Binazir saja itu Bu, bilang saja habis makan enak." sahut anak laki-laki di pojokan.


"Ibu lebih percaya dengan Binazir." membalikkan badannya, lalu menoleh ke arah Binazir. "Tapi, alasan kamu memang tidak masuk akal." Matanya melihat tangan Binazir, yang merogoh laci meja.


"Ibu terlalu curiga, Binazir sudah bicara dengan jelas." Aurin sengaja membelanya.


"Benar Bu, kalau ada yang harus dicurigai laki-laki di pojokan. siapa tahu dia waria yang menyamar." Dhisa menimpali dengan konyol.


"Hahah... hahah..." Teman-teman sekelasnya pada tertawa.


"Sudah, sudah, jangan ribut. hari ini ibu akan menyuruh kalian memeriksa surel." Sheshy berpikir keras, untuk membawa kelas administrasi ke perusahaan terkenal.


"Baik Bu." jawab semuanya serentak.


Dhisa dengan cepat mengerjakan tugas, yang disuruh dosen. Binazir malah merana dengan skripsi dua Minggu lalu, belum diselesaikan juga. Binazir melihat dosen Sheshy mulai berbicara lagi, dia memaksa matanya yang kantuk untuk melotot.


"Semangat revisinya binazir!" Dhisa mengangkat telapak tangannya yang terkepal, sambil lempar love-love yang dibentuk sendiri.


Binazir menangkap bayangan love, lalu meletakkan di dadanya. "Kamu memang sahabat terbaikku. muach!" Mengerucutkan bibirnya.


Binazir keluar dari kelas, menghilangkan penat di kepala. dia ingin beristirahat sejenak, untuk menyegarkan otak. tiba-tiba muncul bayu, sambil membawa sisir. Bayu memberikan bunga untuk Binazir, lalu tersenyum sambil membenarkan dasinya. Bayu tebar pesona dengan membenarkan rambut, padahal sudah terlihat rapi.


"Perempuan cantik, terimalah bunga lambang pendekatan ini." ujarnya.


Binazir baru saja mau menolak, Bayu langsung menarik tangan Binazir. Bunga diletakkan paksa pada telapak tangannya, hingga tergenggam erat.


hacim!


Binazir bersin-bersin, karena alergi terhadap serbuk bunga kambuh. "Aduh, mengapa memberiku ini." Cairan sampai memenuhi kelopak matanya.


"Ya Tuhan, pahala apa yang telah aku perbuat. sampai-sampai ada perempuan menangis terharu." Bayu sudah bawa perasaan, ketika melihat Binazir mengeluarkan air mata.


"Aku bukan terharu." Binazir langsung pergi, tanpa melempar bunga.


"Hah, perempuan memang gengsi mengaku." membenarkan poni rambutnya. "Aku memang sudah diakui keren, oleh banyak perempuan."


Dayu masuk ke dalam perpustakaan, bersamaan dengan binazir. mereka tidak saling melihat, namun mengambil buku bersamaan. binazir dari lorong sebelah kanan, dan dayu dari lorong sebelah kiri.


"Siapa si yang menarik buku?" Binazir bertanya-tanya sendiri.


Akhirnya terjadi tarik menarik, karena dayu juga menginginkan buku tersebut. binazir mengerahkan sekuat tenaganya, sampai buku robek menjadi dua. dayu mengitari lemari, untuk melihat orang keras kepala tersebut.


"Kamu!" Dayu dan Binazir menunjuk bersamaan.