Loven Draft

Loven Draft
Traktir Seblak



Hasil pemeriksaan yang keluar mengejutkan, karena terdapat campuran ikan buntal pada bahan kue. Benar-benar diperhalus caranya, dan ntah siapa yang berani melakukannya.


"Hei nona kecil, apa kamu yang melakukannya?" Ketua pengawal mencengkeram kerah baju Isruni.


"Aku juga tidak tahu, mana mungkin mau membunuh Kak Chaka. Aku yang mengundangnya, ingin sekali bertemu. Lalu melakukan hal berbahaya begitu besar, apa itu masuk akal?" Isruni melirik kerah bajunya yang ditarik, mulai perlahan mengendur.


"Aku lepaskan kali ini, namun awas jika suatu hari aku temui kamu terlibat." Mengancam sambil tunjuk-tunjuk.


"Kasar sekali menjadi laki-laki, pantas untuk melajang seumur hidup." Berani mengatainya, setelah orangnya pergi jauh.


"Ingat baik-baik, namanya ketua pengawal Belko." Kaihan memperkenalkan identitas tanpa diminta.


Insiden tersebut benar-benar memuakkan, membuat Chaka mengajak Kaihan pulang. Tanpa banyak basa-basi, Chaka mengeluarkan diri sendiri dari situasi rumit.


"Kak, maaf atas kejadian tadi." ucap Kaihan.


Chaka fokus menyetir mobil. "Tidak apa-apa, bukan salahmu kok."


Kaihan membenarkan sabuk pengaman. "Sepertinya banyak yang mengincar Kak Chaka, berhati-hati iya bila di luaran." Mengingatkan.


"Iya Kaihan, terima kasih." jawabnya.


Sampai ke rumah, malah melihat Yana dan Kaila lempar-lemparan bantal. Boneka lumba-lumba terlempar ke wajah Chaka, hingga matanya terasa pedih lalu mengeluarkan cairan.


"Sayang, maafkan aku." Yana mendekat dengan cepat.


"Sudah, sudah, biar aku basuh di kamar mandi." Chaka berjalan meraba-raba sekitarnya.


Yana mematung sejenak, lalu melirik ke arah Kaila. "Ini karena kamu Adik genit, ngapain kamu minta izin mau lamaran." Berkacak pinggang.


"Lagipula bukan sekarang, mengapa Kakak yang kebakaran kumis." Kaila ikut berkacak pinggang.


"Ya sudah, berhenti ngomongin aku." jawab Kaila, santai tanpa dosa.


Esok hari, Kaila berjalan sambil menendangi rumput. Di sekolah juga, dia banting tong sampah.


"Mama tadi pagi cemberut saja, gara-gara malam kemarin aku minta izin. Lagipula cuma tunangan, siapa yang mau menikah muda." Berbicara dengan dirinya sendiri.


"Beb Kaila, Isruni berbaik hati traktir." ucap Kaihan.


"Kalau begitu, aku ikut." Kaila bergelayut manja, pada lengan Kaihan.


Sampai di sebuah kedai, malah Kaila sibuk. Bukannya segera memesan makanan, matanya menyapu sekeliling. Kaila memperhatikan anak kecil yang sedang mengamen, lalu memberikan beberapa lembar uang dalam dompetnya. Sisi baik Kaila, yang selalu dikagumi Kaihan diam-diam. Isruni ikut menabur recehan hingga berbunyi, dalam wadah kaleng pengamen tersebut.


Kaila berpangku tangan. "Kamu kalau rajin berbuat seperti ini, semakin tambah cantik loh. Namun ingat, masih tetap cantikan aku." Mengedipkan mata, dengan senyum menyebalkan.


"Baik, kita sekarang berteman." Isruni mengalah saja, seperti tidak ada tenaga untuk berdebat lagi.


Kaila melompat dadakan, mengejutkan Isruni saja. "Jangan-jangan kamu kehabisan otot, karena jatuh sakit kemarin." Menutup mulutnya, setelah bicara sembarangan.


"Tidak, aku hanya bosan berdebat. Lagipula, apa masalah kita di masa lampau." jawab Isruni.


Kaila memilih satu tempat duduk, menikmati seblak pedas tersebut. Tangan kanannya menyuapi Kaihan dengan telaten. Isruni penasaran, mengapa mereka bisa sedekat itu.


"Sejak kapan kalian jadian?" Isruni meniup kuah udang yang masih panas.


"Tanggal dua belas, bulan dua belas." jawab Kaihan.


"Sudah berapa tahun?" Ingin menyelidiki lebih dalam.


"Ini rahasia kami berdua, cukup terima undangan tunangan." Kaila tersenyum mengejek ke arah Isruni, bangga mengakui Kaihan miliknya.