
Keesokan harinya, Yana memasangkan dasi pada leher Chaka. Dia terus tersenyum tulus, pandangan matanya berbinar-binar.
"Bahagia sekali istriku, lihat apa si?" Sudah tahu, masih ingin diakui.
"Lihat makhluk tertampan di muka bumi." jawab Yana.
"Tunjuk dong makhluknya yang mana." rayu Chaka.
"Makhluknya tidak kelihatan, halus sekali." Menjawab sambil cekikikan.
"Sayang, aku bukan setan loh." Chaka menjewer kedua telinga Yana.
"Iya tahu kok, mana ada setan yang tampan seperti ini." Mulai memuji suaminya lagi.
Chaka menggendong Yana sambil tertawa-tawa, dan ekspresi tersebut lenyap seketika saat ponsel berbunyi. Pesan teror muncul lagi, ancaman yang tidak peduli hukum negara.
"Sayang, kamu terlihat sangat resah. Aku ingin tahu, siapa yang mengirim pesan padamu." ujar Yana.
"Hanya orang tidak penting." jawab Chaka, berusaha menyembunyikan.
"Jangan bohong lagi, bukankah Artha sudah menceritakannya saat di rumah sakit. Dia bilang kamu diteror, dengan nomor tidak dikenal." Yana ingat dialog yang terjadi saat itu.
"Iya sayang, aku akan jujur sama kamu. Aku memang diteror, tapi aku tidak takut. Hanya ancaman dari seorang pecundang, dan dia bilang ingin membunuhmu." jawab Chaka.
Keesokan harinya, Chaka membawa detektif Melvi ke tempat yang lebih aman. Hari itu juga mereka akan menemui pembunuh orangtua Chaka. Chaka akan menjadikan pria itu saksi untuk membuka sidang, terhadap kasus orangtuanya yang sudah ditutup.
Chaka sengaja mengintrogasi "Siapa yang menyuruh kamu?"
"Aku sudah mengakuinya, masih ditanya dua kali hahah...." Berbicara sambil tertawa.
"Tidak mungkin, seseorang membunuh hanya karena ingin. Lebih baik mengakuinya, daripada kamu menerima hukuman lebih berat." ancam Chaka.
Chaka memilih meninggalkan pria itu, dan pergi bersama Yana. Menenangkan diri yang penat, apa lagi baru selesai resepsi pernikahan. Mereka butuh lebih banyak waktu berdua, agar bisa berbicara dengan bebas.
"Sayang, kamu ingin bulan madu di mana?" tanya Chaka.
"Tidak tahu, belum sempat terpikirkan." jawab Yana.
Yana dan Chaka singgah ke pantai, membeli es Dogan yang dijual oleh pedagang sekitar. Yana memperhatikan air yang bergerak, menerjang batu-batuan di sekelilingnya. Yana bersandar pada pundak Chaka, tempat ternyaman yang sekarang menjadi prioritas.
"Rekan hatiku, maukah kamu hidup denganku dengan cara setia?" Chaka menggenggam telapak tangan dan jari Yana.
"Iya, aku bersedia menjadi rekan hati seumur hidup." Yana semakin mempererat pegangannya.
Senja mulai menampakkan keelokannya, Febby pergi menemui teman kencannya. Dia sempat iseng awalnya, menggunakan aplikasi pencari jodoh yang dibuat oleh Artha. Tidak tahu mengapa, dia yang cuek mau bertemu dengan yang tidak dikenal.
Duduk di kursi sambil minum air jus jeruk. "Kemana iya, orang yang mengajakku bertemu tidak muncul."
Seseorang duduk membelakangi Febby. "Kemana iya perempuan yang mengobrol denganku itu. Mana tidak ada foto wajahnya lagi, jadi 'kan tidak tahu. Terlalu banyak orang di sini, sulit untuk menebak."
Artha memesan makanan, sambil menunggu teman makannya datang menemani. Febby dan Artha menoleh ke belakang secara bersamaan. Febby tersenyum begitupun dengan Artha, dan sekarang memilih posisi berhadapan wajah.
"Kamu menunggu siapa?" tanya Artha.
"Aku menunggu teman kencan ku, kamu sendiri?" Febby bertanya balik.
"Sama saja, aku menunggu seseorang. Tapi, dari tadi tidak mengabari." ujar Artha.
"Kamu coba hubungi saja, dengan begitu tidak menunggu lagi." Febby memberikan saran.