
Yana segera berlari, melangkahkan kakinya menjauh. Tidak mempedulikan Chaka, yang mengomel tidak tentu arah. Menurut Yana, yang paling penting sudah memberi alasan. Meskipun sebenarnya tidak perlu repot-repot, karena hanya pernikahan terpaksa.
”Jangan kira aku tidak tahu, kalau kamu diam-diam bertemu pria.” batin Chaka.
Kaila dan Kaihan baru sampai rumah, dan Chaka melihat ke arah mereka. Keduanya begitu akur, meski hubungan mereka sangat konyol.
"Eh bocah-bocah kasmaran, sini kalian berdua!" Chaka mengayunkan tangannya.
"Ada apa Kak?" tanya keduanya, hampir bersamaan.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Chaka.
"Baru satu tahun." jawab Kaihan.
"Siapa yang suka duluan?" tanya Chaka.
"Hih, Kak Chaka kepo banget dah." ledek Kaila.
"Sudahlah, jangan banyak protes! Cepat katakan dengan jujur." ujar Chaka, sedikit memaksa.
"Kami berdua sama-sama suka, karena kompak dalam membuat kerusuhan. Bahkan kami terkenal 2 K." jawab Kaila.
"Memangnya untuk apa Kakak menanyakan hubungan kami?" tanya Kaihan penasaran.
"Aku ingin kau mengajari, sebuah trik mengawasi perempuan secara diam-diam." jawab Chaka.
"Hahah... hahah..." Keduanya malah tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu, aku benar-benar serius." jawab Chaka.
Kaihan mulai membisikkan kalimat-kalimat, untuk antisipasi pasangan selingkuh. Chaka bergumam-gumam, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maksudmu, harus terus mengawasinya gitu?" tanya Chaka.
"Iya, namun kalau gengsi tidak usah diperlihatkan." jawab Kaihan.
"Baiklah, aku akan menggunakan teropong yang sangat besar." Chaka merentangkan kedua tangannya.
Kaihan mendorongnya, agar bergeser sedikit. "Besar si besar Kak, tapi tidak perlu sampai nusuk lubang hidungku juga."
Chaka menoleh ke arah Kaihan, lalu menjauhkan tangannya. Dia sibuk meniupnya, karena tidak ingin ada kotoran menempel.
"Apa kau tahu? Saat lagi enak makan mie, lalu mangkukmu dimasukin cicak." Chaka segera berlari tunggang langgang.
Kaihan dan Kaila saling memandang satu sama lain, dengan tatapan yang heran. Lalu keduanya mengangkat pundak ke atas.
"Apa yang sedang dipikirkannya, kenapa dia berbicara seperti itu?" tanya Kaihan.
"Mungkin, dia memiliki pengalaman buruk." jawab Kaila.
"Kamu pernah mendengar, cerita tentang Kak Chaka?" tanya Kaihan.
"Tidak si, tapi aku coba tanya Kak Artha saja deh." jawab Kaila.
"Kak Artha siapa tuh?" tanya Kaihan penasaran.
"Dia adalah sepupu Kak Chaka. Aku juga pernah melihatnya, waktu acara pernikahan Kak Yana dan Kak Chaka." jawab Kaila.
Matahari menyingsing dengan percaya diri, tanpa merasa malu pada dunia. Si cantik Yana tengah membuka jendela, lalu menyipitkan kedua bola mata. Terasa silau pantulan sinar terangnya tersebut.
Tleot! Tleot!
Ponsel Yana berbunyi, lalu dia segera menggeser tanda berwarna hijau.
"Halo sayang, kau sedang apa?" tanya Febby.
"Aku sedang duduk nih." jawab Yana.
"Sudah siap belum? Aku mau ke rumahmu." ujar Febby.
"Belum sayang, aku masih saja baru mau mandi." jawab Yana.
"Iya sudah, cepat mandi sana." titah Febby.
"Iya, dadah sayang!" jawab Yana.
Sambungan telepon genggam terputus, dan Yana segera meraih handuk yang menggantung. Setelah usai membersihkan diri, dia sengaja memberi umpan kelinci kesayangannya.
"Kelinci, apa kau tidak bosan makan wartel terus." Yana mengusap bulunya yang lembut.
Kelinci diam saja, tidak dapat menjawab pertanyaan majikannya. Dia hanya tahu makan saja, sambil memandang sekelilingnya.