Loven Draft

Loven Draft
Berkelahi



Waktu istirahat tiba, setelah melihat pertandingan terjun payung yang mendebarkan. Persaingan sengit antara Dayu dan Yakult, telah membuat semua penonton berkeringat sepanjang menyaksikannya. Aurin mengeluarkan banyak makanan, bahkan sampai membawa pisang rebus, dan sosis panggang.


"Minimarket berjalan kamu?" Cubit-cubit pipi kuat.


"Aduh, aduh. Jangan galak padaku, sakit sekali cubitanmu." Aurin mengusap-usap pipinya.


"Aku sangat gemas padamu, mengapa bisa mengetahui yang aku inginkan." Binazir sudah terbawa perasaan, terharu lebih dulu.


"Hah, yang kamu inginkan? Salah besar, ini seleraku." Aurin membuka bungkus pisang, yang ada di tangannya.


"Yah sangat disayangkan, aku kira memang diperlakukan istimewa." ujar Binazir lirih.


"Sabar, lain kali aku memperlakukan kamu secara khusus." Aurin merayu sahabatnya.


Ada seseorang yang tidur dengan menggunakan topi, terdengar suara dengkurannya yang kuat. Binazir sedang mencolek sosis dengan saos dan kecap, lalu melahap dengan perlahan.


"Eh, siapa yang tidur di sana." Tangannya mengusap kecap, yang menempel di sudut bibir.


"Oh, itu Bayu Manganila. Dia sudah terbiasa mengikuti atlet Dayu kemana pun." jawab Dhisa.


"Kamu hafal sekali tentang si Dayu itu." Binazir malas sekali menyebutkan namanya.


"Iya Bina, aku sudah bertahan menjadi penggemarnya selama enam tahun." jawab Dhisa.


"Lantas, dia pernah melihat kamu meski sedikit saja?" Binazir tersenyum menyebalkan, seperti sedang meledeknya.


"Tidak ada, kenal pun tidak." jawab Dhisa ketus.


"Hahah... hahah..." Aurin dan Binazir tertawa kompak.


Malam harinya, Aurin tidak bisa tidur lelap. Dia sibuk bergerak ke samping kanan dan kiri. Matanya mengintip dari balik bantal guling, lalu tertawa di balik selimut. Wajah Binazir tampak lucu, karena serius menghadap laptop. Aurin membuka selimutnya, sambil nyengir. Sengaja menunda beberapa menit, baru berencana mengajak bicara.


"Bina, kamu tidurlah denganku." rayu Aurin.


"No, aku sedang mengerjakan skripsi administrasi." Masih tidak menoleh ke arah lawan bicara.


"Bagaimana bila aku bayar empat ratus lima puluh juta, pasti kamu tertarik 'kan dengan penawaran ini?" Aurin mengedipkan mata.


"Sorry, aku tidak semurah itu. Dibayar lima ratus juta baru lebih menguntungkan."


"Hmmm... Bina, kamu mata duitan."


"Benar sekali, di dalam mataku hanya terpancar uang. Jika kamu berisik, uangnya akan menyerang kamu." Binazir tertawa, dengan penuturannya sendiri. "Hahah... Hahah..."


"Hentikan, tertawa kamu bisa membangunkan ketiga manusia yang tertidur." Aurin mengerucutkan bibir dibuat-buat imut.


Binazir menyentuh kedua pipi Aurin. "Teman berisik, aku punya tiga poin penting. Yang pertama, jika mereka bangun berpura-pura tidur. Yang kedua, jangan bergerak meski dipaksa. Yang ketiga, rahasiakan bila yang tertawa lantang sebenarnya aku."


Keesokan harinya Binazir berjalan hendak menuju ke kelasnya, tanpa sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Binazir tidak sengaja menumpahkan air es blender, ke arah Yakult yang sedang lewat.


"Eh, kamu si kalung pecah itu 'kan?" tanyanya.


"Eh, sini biar aku ikat tali sepatumu." tawar Yakult.


"Jangan repot-repot, aku bisa mengikatnya sendiri." Binazir menolak secara halus.


"Nanti kamu jatuh lagi, aku baru merasa direpotkan." Yakult tersenyum dengan tulus.


"Eh iya maaf, tadi telah mengotori jas kamu." jawab Binazir.


"Tidak apa-apa. Perkenalkan nama aku Yakult Garuda Indomie."


"Hmmm... namanya familiar mudah dihafal." Binazir keceplosan.


"Hah? Kamu bilang aku pasaran?" tanya Yakult.


"Heheh... tidak, maksudnya namaku familiar. Perkenalkan aku Binazir Aqella Michelle." Binazir tersenyum ciri khasnya.


Sedang enak-enaknya berbincang, datang Dayu yang menghilangkan selera dalam hatinya. Binazir segera pergi begitu saja, tanpa berpamitan dengan Yakult.


"Eh tunggu, aku mau minta maaf." ucap Dayu.


"Minta maaf? Kamu begitu mudah berbicara, tanpa tahu kalung itu sangat berarti." jawab Binazir.


"Biar aku ganti." tawar Dayu.


"Aku menolak diberi uang, berapa pun jumlah yang ditawarkan." jelas Binazir.


Dayu menarik lengan Binazir, agar dia tidak pergi. Terkesan memaksa untuk didengarkan, sehingga Yakult tidak suka melihatnya.


"Jangan kasar sama perempuan." ujar Yakult.


"Jangan ikut campur urusan kami." jawab Dayu.


"Dia tidak suka, maka harusnya dilepaskan." Yakult membela Binazir.


"Sebelum dia mendengar yang ingin aku utarakan. Aku tidak akan mau melepasnya." jawab Dayu tegas.


Binazir meronta-ronta meminta dilepaskan, lalu Dayu tetap saja tidak mau. Yakult segera melayangkan tinjuan, tepat di bagian pipi Dayu yang mulus.


Bugh!


Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, lalu tangan Dayu memberikan pukulan balik. Kaki mereka saling menendang, hingga menjadi tontonan warga kampus. Banyak yang tidak tahu, apa penyebab perkelahian itu terjadi.


"Eh, mereka bertengkar karena pertandingan kemarin seri."


"Sepertinya mereka sama-sama tidak menerima kekalahan."


"Terlalu obsesi ingin lebih unggul secara tunggal."


"Aku menyukai keduanya, tidak rela mereka bermusuhan."