
Yana segera melepaskan sepatunya, saat baru sampai ke rumah. Jalan mengendap-endap juga, tetap ketahuan oleh Tasya. Terdengar jari-jari mamanya berbunyi dengan sengaja, mendekat sambil membawa sapu ijuk.
"Kaila, kamu jangan seperti ember bocor iya. Diam-diam saja, kalau Chaka masih hidup." ucap Yana.
"Iya Kak, aman kok." Menutup bibir dengan jari telunjuk, sambil menundukkan kepala.
"Hei, apa yang kalian rahasiakan dari Mama?" Tasya mendelik ke arah mereka.
Kaila menoleh sambil melotot, membuat Tasya refleks memukulnya dengan sapu ijuk. Kaila malah tertawa-tawa mendadak, merasakan pukulan sapunya yang lirih.
"Tidak ada Ma, kami hanya sedang membahas makanan lobak Tiongkok." Yana mulai beralasan.
"Jangan berbohong loh sama orangtua, nanti kalian disambar petir." Tasya menakuti mereka, dengan raut wajah dibuat-buat.
"Tidak Ma, yang Kakak katakan benar."
"Cabai rawit ikut-ikutan juga untuk bohong." Tasya melirik ke arah Kaila.
"Heheh... aku serius Ma." jawab Kaila.
"Wajah Kakak kamu berubah, menjadi lebih terlihat segar. Sudah hilang iya sedihnya?" selidik Tasya.
"Masih Ma, tapi ada batasannya juga. Sedih terlalu lama tidak menyelesaikan masalah." jawab Yana.
Tasya tetap tidak percaya, apapun alasan yang dibawa dia tetap mengetahui. Raut wajah Yana dapat membohongi banyak orang, tapi tidak dengan mama sendiri.
"Kalian pasti lelah, ayo makan saja." ajak Tasya.
"Sudah kenyang, biar Kaila saja." Yana menyelamatkan diri sendiri, memilih berlari meninggalkan Kaila.
Bruk!
Tiba-tiba kepalanya dilempar boneka. "Sudah puas menertawakan aku?"
Yana menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka, senyum dengan salah tingkah. "Eh nona manis, kamu sudah kembali. Ayo duduklah bersamaku, hari ini pasti lelah. Biar Kakak pijat, kamu mungkin ketagihan." Mengalihkan topik, dengan jawaban yang tidak sesuai pertanyaan.
Kaila merebahkan tubuhnya, bergantian dengan Yana yang duduk. "Kakak, apa kamu tahu bahwa aku bingung memilih baju. Aku ingin malam di London menjadi asyik, dengan penampilan baru memukau." ujarnya.
"Kamu jangan bilang, kalau mau keluar malam bersama Kaihan." Yana menduga saja, takut mereka melampaui batas.
"Aku tidak akan mengecewakan Mama, aku tetap menjaga diri dengan baik."
"Kakak percaya, namun mata laki-laki jahat. Kamu saja yang tidak tahu, kalau mereka ganas." Yana mencakar udara, menakuti adiknya saja.
"Benarkah? Tapi Kaihan tidak seperti itu." Kaila tetap membelanya.
Malam hari, Devin baru pulang dari perusahaan. Dia memang kerepotan, karena mengurus perusahaan Alexander. Namun tidak mengapa, itu semua demi masa depan Yana. Bagaimanapun Devin tidak akan miskin, menanggung hidup anak dan cucunya. Tapi, perusahaan besar yang terbengkalai, juga perlu dikasihani.
"Papa, ayo makan malam terlebih dulu." Tasya membantu melepaskan jas, dan mengambil tas kantornya.
"Terima kasih Mama, pasti masak dengan cinta enak." Devin bersemangat membuka mata lebar.
"Kaila, Mama minta kamu bantu cuci selada saja." titah Tasya.
"Siap laksanakan titah dari ratu." Kaila memberanikan penghormatan, sampai angkat tangan di pelipisnya.
Yana geleng-geleng kepala, membuka pesan dari Chaka. Kali ini sudah senyum-senyum, karena stiker jungkir balik yang dikirim Chaka.
Yana melihat Chaka mengirim fotonya, yang sedang mengorek hidung. "Ada-ada saja, lucu banget si." Tangannya sengaja memperbesar ukuran layar.
Kaila sengaja memercikan seledri yang baru dicuci, pada layar ponsel Yana. "Hahah..." Tertawa melihat Yana terkejut.