Loven Draft

Loven Draft
Detektif Melvi Menghilang



Chaka memasangkan sabuk pengaman untuk Yana, sebelum mengantarnya ke rumah Yana Creator. Mereka berdua saling pandang, dalam waktu yang tak sebentar. Yana menutupi mata dengan telapak tangannya.


”His, kenapa juga semalam aku gegabah dalam melakukannya. Lihatlah sekarang, harus cari cara menghindari kontak mata.” batin Yana menyalahkan diri sendiri, atas hal yang diperbuatnya.


Ponsel Chaka berdering kembali, lalu Chaka menggeser tanda berwarna hijau." Halo, siapa ini?"


"Maaf, apa benar ini tuan Chaka?" Suara orang yang menyahut dalam telepon.


"Iya benar, ada apa iya?" Jadi bingung sendiri.


"Begini tuan, aku asisten rumah tangga detektif Melvi. Aku hanya memberitahu, bahwa beliau sudah tidak pulang selama beberapa hari." Memberitahukan dengan serius.


"Baiklah, aku akan membantu mencarinya." ujar Chaka.


"Terima kasih tuan, aku matikan teleponnya." Sambungan telepon terputus, setelah berpamitan.


Yana bertanya apa yang terjadi, lalu Chaka menjelaskan apa yang dia ketahui. Yana merasa ada yang mengganjal, dari berita hilangnya detektif Melvi. Mungkin saja diculik, atau sengaja dibunuh, atau disingkirkan dengan cara lain, agar kematian orangtua Chaka tidak terkuak.


"Kalaupun dia pergi, pasti memberitahu kamu. Sedangkan dia sudah tahu, alasan kamu menunda pertemuan karena Kaila masuk rumah sakit." ucap Yana panjang dan lebar.


"Aku juga berpikir begitu." jawab Chaka.


Di sekolah SMP Kaila kedatangan siswi baru. bernama Isruni. Pagi ini, semua orang sibuk membicarakannya. Kaila dan Kaihan yang sedang melintas, tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut.


"Bebeb, kamu jangan jatuh cinta sama anak baru iya." Kaila mengedipkan mata bercanda.


"Aku masih bisa berpikir jernih, hubungan kita harus tetap bertahan." jawab Kaihan.


"Janji, kamu akan jadikan aku prioritas." Kaila menekuk jari kelingking.


Kaihan menautkan jari kelingkingnya dengan jari Kaila. "Iya, aku janji." jawabnya.


"Hebat sekali dia, baru pindah dapat jabatan."


"Tapi heran, mengapa kepala sekolah kita begitu baik hati."


"Tidak ada pemungutan suara, atas dasar apa memberikan gelar."


"Bukankah tindakan ini berlebihan, terkesan terburu-buru memberi penghargaan orang pilihan."


Kaila hanya mendengar mereka berdebat, ada yang kagum dan ada yang heran. Bilang disuap, bilang dia bagian keluarga kepala sekolah, dan lain sebagainya. Kaila awalnya acuh sambil membuka buku, lalu terkejut saat Kaihan disuruh berdiri didekat Isruni.


"Kalian semua harus tahu, bahwa mulai hari ini dan selanjutnya, Kaihan menjadi wakil ketua OSIS. Dia akan selalu mendampingi Isruni, selama menyelesaikan tugas jabatannya."


"Kami tidak setuju Pak, dia 'kan sering bolos." jawab siswi berambut kepang.


Chaka mengutus banyak orang, untuk menempel poster wajah detektif Melvi. Semakin banyak yang dikerahkan, peluang untuk menemukannya semakin besar.


"Kita makan di sana yuk, aku sudah lapar." ujar Chaka.


"Kamu biasanya juga jarang makan." jawab Yana.


"Kali ini berbaik hatilah, temani suamimu ini makan." Chaka menggandeng tangan Yana.


Yana tersenyum. "Baiklah suamiku." Merasa geli sendiri, mendengar ucapannya.


Kaki mereka sudah melangkah pada sebuah restoran, dan seseorang menyuruh pelayan memberikan racun. Mereka menyogok dengan uang, agar pelayan restoran mau bekerjasama. Tak berselang lama banyak laki-laki berpakaian seragam masuk, mencium aroma makanan yang dihidangkan pada meja Chaka.


"Tuan muda, kami akan memeriksa detail terlebih dulu."


"Silakan." jawab Chaka datar.