Loven Draft

Loven Draft
Belko Teraniaya, Chaka Ditemukan



Chaka tidak tenang, melihat artikel berseliweran. Memang akhir-akhir ini, Yana sering dekat dengan Ronal. Jadi kemungkinan saja, bahwa Yana akan menikah dengannya. Apalagi status Yana sekarang janda, di mata banyak orang yang memandang.


"Pengawal Belko, aku mengutus kamu untuk mengawasi Ronal." titah Chaka.


"Baik tuan Chaka." jawabnya.


"Satu hal lagi, tanya langsung ke Yana tentang berita yang beredar di internet." Chaka meminta semua informasi yang diinginkannya, tidak ada yang terlewat satupun juga.


"Bisa saja, asalkan tuan Chaka beri uang beli rokok." Pengawal Belko berani-beraninya menawar.


Yana mengajak Kaila pergi ke villa tempat pengawal Belko tinggal. Dia membawa teropong, untuk mengawasi dari jarak jauh.


"Kita harus memergoki Chaka keluar dari villa itu." ujar Yana.


"Kalau Pengawal Belko ada si, kalau Kak Chaka mungkin tidak bertemu." jawab Kaila menebak.


Pengawal Belko keluar dari villa, bersamaan dengan kehadiran Yana dan Kaila. Baru saja mau mengawasi diam-diam, mereka malah gagal merealisasikan tindakan.


"Nona Yana tidak menyerah juga, untuk mencari tuan Chaka?" tanya Belko.


"Tidak, aku masih bersedia mencari tahu." Yana tersenyum. "Kaila, cepat ringkus pengawal Belko. Ayo kita sekap di dalam villa. Hari ini harus menginap untuk memastikan, apa Chaka ada di dalam." ajak Yana.


"Siap laksanakan." Kaila meninju kepala Belko, sambil tertawa lantang.


Yana masuk ke dalam, setelah menutup mulut Belko dengan lem isolasi. Dengan santainya Chaka keluar ruangan, karena mendengar suara pintu terbuka. Saat Chaka celingak-celinguk, dia heran melihat Belko yang teraniaya.


"Hah, siapa yang melakukan ini padamu?" Chaka meletakkan piring agar-agar di meja.


Yana dan Kaila muncul, dengan santai berpangku tangan. "Dua wanita cantik ini berhasil mengatasinya." Menjawab serentak.


"Sayang, maafkan aku." rayu Chaka.


Chaka memeluk pinggangnya dari belakang, lalu mencium pelipisnya. "Aku minta maaf, tidak seharusnya berbohong."


"Tidak mau, kamu harus dihukum." jawab Yana tegas.


"Katakan, bagaimana aku harus menebus kesalahan?" Rayu Chaka.


"Jangan menegurku selama seminggu. Kamu juga dilarang bermesraan, dalam bentuk apapun." Yana mengutarakan maksudnya.


"Aku bisa menjelaskannya, aku sedang menyelidiki Ronal. Dia terlibat kejahatan juga, bahkan Isruni itu adik yang disembunyikan."


"Oh hanya itu, aku juga tahu. Ronal itu tidak buta, aku hanya mengikuti taktiknya." jawab Yana.


Chaka membalikkan badan Yana, lalu mencium bibirnya. Kaila dan pengawal Belko berputar-putar badan, berpura-pura tidak melihat. Tapi jari-jari mereka masih ada sela, untuk sekadar mengintip suami istri melepas rindu.


"Sayang, aku cinta sama kamu. Setiap saat aku mengawasi pergerakan dirimu. Aku menghilang sementara, namun tidak selamanya kok." Chaka menggenggam tangan Yana.


"Kamu mengapa tidak punya malu, sudah aku bilang waktunya seminggu. Tolong diamkan aku, beri waktu untuk berpikir." jawab Yana.


"Apa yang mau dipikirkan, semua sudah jelas. Alasanku juga masuk akal." bantah Chaka.


Yana menatap kedua bola mata suaminya. "Iya sudah, terserah kamu saja. Intinya aku kecewa, sudah menangis tersedu-sedu tapi ditipu. Setidaknya, kamu bisa jujur sejak awal." Yana tidak terima.


Artha dan Febby menggosok gigi menghadap cermin, lalu tertawa-tawa karena lucu. Tidak sadar Febby tertelan odol hingga kerongkongan. Tangannya buru-buru meraih gayung, lalu berkumur dengan cepat.


"Hmmm... pahit sekali, uwek rasanya pedas." Febby kesal sendiri.


Artha berkumur juga. "Ini semua salahmu yang ceroboh. Aku jadi keliru, menelan odol yang bukan makanan." gerutunya lirih.