
Ronal merasa kesal, karena melihat tangannya diikat tali. Sepertinya tadi dia pingsan, karena pengaruh obat bius.
"Arrggh... aku gagal untuk mendapatkan kesempatan bertemu. Padahal, niatnya ingin jalan bersama." Ronal menggerutu sendiri.
Kaila melihat Yana yang baru saja pulang, sambil terus memandangi secarik kertas. Tidak lupa juga terompet, yang berada di tangan kirinya.
"Widih, apaan ini!" Kaila dengan isengnya, mengambil terompet di tangan Yana.
"Ini terompet cinta, masa kamu tidak tahu." jawab Yana.
"Ntahlah, aku tidak pernah melihat terompet berbentuk hati." ujar Kaila.
"Makanya, ajak Kaihan pergi kemana gitu. Masa, konglomerat tidak pernah lihat terompet yang unik." jawab Yana.
"Katanya, phobia terhadap laki-laki," Kaila mengungkit penyakit kakaknya.
"Sekarang, sudah mulai berkurang. Pintar iya si Ronal itu." puji Yana.
Febby dan Artha membaca data, yang mereka temukan di kantor kepala desa. Sudah mendapatkan izin, untuk masuk tentunya.
"Ternyata, sudah lama iya pernikahannya." ujar Febby.
"Iya, Nenek Narti dan Kakek Narto awet sekali." jawab Artha.
"Tapi, aku tidak ingin sekali wawancara dengan mereka." ucap Febby.
"Kamu jangan ingkar janji, aku sangat membutuhkan data mereka." jawab Artha.
"Bukannya tidak mau Artha, kedua orang tersebut sensitif. Urusan pribadi adalah privasi, karena mereka golongan orang introvert." jelas Febby.
"Tetap berusaha dong, jangan menyerah." jawab Artha.
Akhirnya Febby membantu Artha, menemani sampai ke rumah nenek dan kakek itu. Sesampainya di sana pintu dibuka, karena sudah diketuk oleh Febby dan Artha.
"Permisi Nek, Kakek, kami mau wawancara sedikit." ujar Febby.
"Boleh, asalkan bisa membantu aku menangkap belut di sawah." jawab nenek Narti.
"Serius Nek?" tanya Artha.
"Iya serius, mana mungkin bercanda." jawab nenek Narti.
"Tujuan kalian wawancara tentang pernikahanku untuk apa?" tanya nenek Narti.
"Hanya untuk mencari tahu si Nek, bukan soal untuk apanya." jawab Febby.
"Kalau seperti itu saja, tidak perlu aku beritahu." ujar nenek Narti.
"Jangan seperti itulah Nek. Sebenarnya aku dan dia adalah pasangan, dan kami ingin menikah. Namun karena merasa ragu, jadi mencari tahu pengalaman orang lain." jelas Artha, yang membuat mata Febby melotot seketika.
Artha hanya tersenyum, namun sebenarnya sedikit malu. Si nenek malah langsung semringah, dengan sandiwara Artha. Padahal tidak mengetahui saja, bahwa pernyataannya adalah kebohongan.
Yana memanggil Ronal, yang sedang olahraga pagi. Dia segera berjalan mendekat ke arahnya, sambil memegangi sapu lidi.
"Ronal, terima kasih iya buat malam kemarin." ujar Yana.
"Terima kasih buat apa, sedangkan aku tidak jadi menemui mu." jawab Ronal.
"Jadi, yang kemarin di pesta permen bukan kamu?" tanya Yana.
"Iya bukanlah, aku 'kan diculik." jawab Ronal.
"Jangan-jangan hantu malam lagi." Yana asal tebak.
"Hahah... bisa jadi." jawab Ronal, sambil tertawa.
Yana memukul pundak Ronal pelan. "Tidak lucu bercanda kamu, mana bisa begitu ditertawakan."
"Aku tidak terluka, jadi apa yang perlu disedihkan." jawab Ronal.
Mereka berdua kembali ke tenda, untuk sarapan pagi bersama. Kali ini, Kaila dan Kaihan sedang makan mie gelas.
"Tawari Kakak dong!" pinta Ronal.
"Kakak 'kan buta, mengapa tahu kalau kami sedang makan." jawab Kaila.
"Kakak dengar suara mulut kalian yang mengunyah." ucap Ronal.
"Oh gitu iya." jawab Kaila.