Loven Draft

Loven Draft
Ungkapan Serius Secara Mendadak



Keesokan harinya, Yana dan Kaihan melihat Febby yang berlarian mengejar ayam. Dia terlihat marah-marah, merasa dipermainkan dengan gerakan hewan berbulu yang gesit itu.


"Kenapa Kak?" tanya Kaila.


"Dia mencuri ayam goreng ku." jawab Febby.


"Sama saja dengan teman makan teman. Mereka 'kan sejenis ayam sama ayam." Kaihan berkacak pinggang.


"Iya sudah, ayo kita bantu Kak Febby." Kaila menarik lengan Kaihan.


Kaila dan Kaihan membantu menangkap ayam, malah dia berada di bawah kursi berlenggak-lenggok. Tangan Kaihan mau menangkap sayapnya, malah dia berhasil lewat sela kaki kursi.


"Hei tunggu, kembalikan ayamnya." teriak Kaila.


"Ah ayam itu, mengesalkan sekali." Febby tidak selera lagi untuk sarapan, karena ayam gorengnya sudah kotor.


"Iya sudah, Kakak sarapan dengan kami saja." Kaihan mengusulkan tawaran baiknya.


"Tidak, mana mungkin pergi ke sekolah." jawab Febby cepat. "Sudah-sudah, kalian pergi berdua saja sana." Mendorong keduanya agar cepat pergi, padahal Kaila masih sibuk menoleh ke belakang.


Tasya mempersilakan Asisten barunya, untuk masuk ke dalam rumah. Dia disuruh membereskan barangnya di dalam kamar. Lalu setelahnya ikut sarapan pagi bersama.


"Yana, Chaka, kenalin ini Bibi Firma, dia merupakan asisten baru kita." ucap Tasya.


"Iya Ma." jawab Yana dan Chaka, secara serentak. Mereka berdua saling pandang sejenak.


Chaka mengadakan acara pelelangan, dari jas yang dia menangkan waktu lelang. Harga tertinggi ini, sengaja dijualnya dengan keuntungan normal. Tujuannya hanya satu, memancing para penjahat itu keluar dari persembunyian. Yang menjadi hal utama adalah, membuat mereka mengakui kejahatan.


"Iya, bukanlah masalah. Lagipula, aku hanya menjalankan tugas dari tuan Devin." jawab Chaka.


"Begitu istimewa tuan Chaka, seperti mempunyai hubungan kerabat keluarga." Myatra tersenyum tak biasa, tidak tahu apa yang ada di pikirannya.


"Tidak, sebenarnya hanya mendapat sedikit kepercayaan." jawab Chaka.


Mengantar makan siang untuk Chaka, sepertinya memang rencana yang telah diatur mamanya. Yana hanya menuruti saja, dan berjalan masuk kantor. Yana mengetuk pintu, lalu Chaka membukanya.


"Kenapa kamu ke sini?" Chaka tidak menunjukkan raut wajah senang, padahal hatinya ingin melompat-lompat terbang ke angkasa.


"Kalau tidak senang iya sudah. Aku hanya disuruh mengantar makanan oleh Mama." jawab Yana.


Chaka mengambil rantang di tangan Yana, lalu menarik tubuhnya masuk ke dalam ruangan. Padahal baru saja berniat ingin pergi, namun dicegah oleh tindakan suaminya. Sekarang tangan kanan Chaka, berada di pinggang Yana.


"Apa kamu mau menjadi temanku secara sungguhan seumur hidup?" tanya Chaka, dengan raut wajah serius.


"Hmmm... aku tidak pernah terpikir sebelumnya. Seumur hidup itu terlalu lama, untuk kita berdua. Aku belum ada persiapan, untuk sampai ke tahap hubungan ini." jawab Yana.


"Kamu tidak terpikir karena tidak mau, bukan karena belum siap." ujar Chaka, dengan raut wajah kecewanya.


"Bukan begitu, tapi ...." jawaban Yana sudah terpotong oleh sahutan Chaka.


"Aku tahu maksudmu, maafkan aku. Ini mungkin salahku, terlalu mendadak mengutarakannya. Anggap saja, aku tidak pernah mengatakan kalimat tadi." Chaka menunduk, menerka perasaan Yana terhadapnya kosong.


"Bukan salahmu, bukan salahku juga. Seperti ini terlalu canggung, sudahlah jalani yang biasa saja dulu." jawab Yana.