
Binazir merasa kelelahan berpikir, memilih beristirahat di taman belakang kampus. Tiba-tiba datang Bayu membawa bunga, dan mendekatkan ke Binazir. Air mata mulai mengalir, sampai dia bersin berulang kali.
"Binazir, aku tahu kamu terharu. Sungguh aku tidak tahu, mengapa aku bisa sehebat ini menaklukkan hati perempuan." ucap Bayu bangga.
"Aku... hacim!" Binazir menggosok hidungnya, belum sempat menjelaskan terkait alergi.
Bayu memejamkan mata sambil memajukan bibirnya, lalu Binazir melepaskan kaos kakinya secepat kilat. Binazir menggantungnya tepat di hadapan wajah Bayu, hingga hidungnya bergoyang karena mencium aroma tidak sedap.
"Hmmm... apa ini? Mengapa baunya kecut." Bayu sibuk mengibaskan udara.
"Ayo tebak, apa yang ada di depanmu." Binazir menahan tawa, terus saja tersenyum.
Bayu membuka mata, dan menjauhkan sedikit kepalanya. "Binazir, mengapa kamu kejam padaku."
"Sorry Bayu, akhir-akhir ini aku kambuh, ingin jail sama orang lain."
Bruk!
Bayu ambruk ke tanah beton, dan dia sengaja kejang-kejang. Tindakan dibuat-buat Bayu, membuat semua orang menontonnya. "Hahah..." Suara tawa banyak orang yang lewat.
"Kamu tega Binazir! Melakukan hal ini, sama saja mengeluarkan jantungku secara paksa." Bayu memegangi rongga dadanya.
"Alay! Kamu tidak akan mati hanya karena aroma kaos kaki." jawab Binazir.
Bayu memejamkan matanya, lalu Binazir berlari setelah memasang kaos kakinya kembali. Binazir menabrak Dhisa secara tidak sengaja, dan mendapati tatapan tidak suka. Dhisa membersihkan lengannya yang tidak kotor, lalu pergi begitu saja.
"Dhisa, persahabatan lebih penting daripada memiliki pacar. Mengapa kamu marah padaku sampai selama ini." ujar Binazir.
"Kamu bisa berkata seperti itu, karena bukan aku yang mengambil Dayu. Kalau dia dan aku jadian, kamu pasti menangis." jawab Dhisa.
"Iya, aku memang tetap akan sedih meskipun aku tidak bisa marah denganmu." Binazir berterus-terang.
"Sama saja, berarti tidak jauh berbeda denganku. Lebih baik, sekarang kamu menjauh dariku." Dhisa melangkahkan kakinya, menjauhi Binazir yang mematung.
Di pondok kecil tepi danau, Dayu dan Binazir duduk berdua. Bosan juga pulang dari kampus ke kosan, apalagi situasinya sudah tidak seperti biasanya.
"Bina, aku sudah membantumu. Tadi aku minta dosen Yiming memberikan tugas, agar tidak perhitungan penilaian saat semester." ujar Dayu.
"Hah? tugas apa?" Binazir belum mengerti.
"Aku memintanya memberikan soal-soal Matematika paling sulit. Bahkan, rumus sudah pasti hafal di luar kepala." Dayu tersenyum ke arah Binazir.
"Kamu gila iya, menyuruh aku menghafal rumus Matematika? Belum lagi soal sebanyak itu, bagaimana bisa cepat. Ini mau membantu, atau mempersulit." gerutu Binazir.
"Aku ingin dosen memaklumi tingkah kamu, yang tampak keterlaluan. Dia memberikan toleransi, asalkan kamu mengerjakan tugas hafalan ini."
"Sudahlah, aku paham sifatmu. Bila ada pelajaran yang tidak kamu sukai, pasti kamu membuat kerusuhan di kelas."
"Hahah... Wkwkwk...." Hanya bisa tertawa, karena alasannya diketahui. "Aku benci dunia Matematika." Menghentikan tawanya.
"Oh iya, semalam anniversary kedua orangtuaku. Benar-benar bahagia, karena kamu ada." ungkap Dayu.
Binazir tersenyum. "Aku juga ikut senang, karena bisa memberikan kejutan untuk Tante Bimoli." jawabnya.
”Oh tidak, jangan sampai Dayu mengutarakan perasaan sekarang. Aku belum siap, nanti jantungku bisa copot." Binazir berbicara dalam batin, sambil menarik nafas lalu hembuskan.
Dayu heran melihatnya melakukan berulang kali. "Kamu kenapa, sesak nafas?"
"Ah tidak, aku hanya latihan relaksasi seperti ucapan temanku." Binazir nyengir, tersenyum salah tingkah.
Pulang dari sana, malah bertemu Yakult. Binazir senang, sedangkan Dayu tidak sama sekali.
"Eh Yakult!" sapa Binazir ramah.
"Eh Binazir!" jawab Yakult.
"Ada yang ingin aku bicarakan." ujar Binazir.
"Ayo, kita cari tempat untuk bicara empat mata." ajak Yakult, mengusir Dayu secara halus.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan iya." Dayu melihat dengan tatapan tajam, ke arah Yakult.
"Itu urusan aku dan dia, artinya menjadi urusan kita. Tentu saja, tidak ada hubungan denganmu." jawab Yakult.
"Ucapan itu hanya bisa dipakai, untuk orang sepertiku dan dia." Dayu segera pergi menjauh, malas meladeninya lebih panjang.
"Oh terserah kamu." jawab Yakult.
Yakult pergi dengan cepat, menarik lengan Binazir dengan genggaman yang erat. Dayu merasa jengkel, setiap bertemu Yakult. Bukan hanya saingan dalam cabang olahraga, namun juga saingan dalam cinta.
Binazir melihat Dayu yang sudah menjauh dari mereka. "Yakult, terima kasih sudah mengembalikan pita milikku. Maaf sampai harus merepotkan, karena membuatmu mengantarnya ke kosan." ucapnya.
"Tidak apa-apa, aku senang bisa menolongmu." jawab Yakult.
Aurin membuka tirai gorden, lalu melihat Dayu mengantar Binazir sampai depan pintu. Aurin membuka mulut lebar, berusaha menghalangi Dhisa yang hendak membuka pintu.
"Awas, ada tawon!" Aurin mendorong Dhisa mundur.
"Mana tawonnya." Dhisa was-was, wajahnya terlihat ketakutan.