
Kaila mengambil makanan di baskom ruang tamu. Datang-datang sudah menggerutu, tidak jelas permasalahannya. Chaka heran, namun tidak ingin bertanya.
"Kenapa?" Yana tahu, dia sedang ada masalah.
"Kaihan tidak tahu cara menepati janji. Bisa-bisanya bersepeda berdua dengan Isruni. Kepala sekolah tidak tahu balas Budi, aku harus memberitahu Papa. Pecat saja mereka dari kehidupanku, jangan biarkan muncul kembali." Berbicara tanpa tahu titik koma.
"Hei, pelan-pelan bicaranya. Kamu itu sedang makan, nanti tersedak." Menepuk-nepuk pundak Kaila.
"Aku kecewa hiks..." Memasang raut wajah menangis, tapi tidak ada air mata. "Uhuk... uhuk..." Kaila tersedak.
"Baru saja diingatkan, sudah menjadi kenyataan." Yana memiringkan bibirnya ke kiri, tidak habis pikir dengan Kaila.
Tangan kanannya menuangkan air minum, lalu meneguk dengan cepat. Rasa tidak nyaman ada di hidungnya. Yana menatap prihatin sejak kedatangan Isruni, mengakibatkan Kaila tidak punya waktu bersama Kaihan.
Yana keluar dari kamar, dengan mengenakan baju pengantin. Semua tamu undangan menoleh ke arahnya, yang paling merasa terpesona adalah Chaka. Ronal datang juga ke acara resepsi pernikahan, meski sempat menggerutu seharian penuh.
Ibu-ibu komplek juga diundang, bahkan teman-teman seperjuangan Devin saat menempuh pendidikan ikut serta, rekan-rekan kerja di kantor pun ikut mengucapkan selamat, semua terlihat bahagia kecuali Ronal. Gosip-gosip dari tiap mulut terdengar jelas, di telinga orang yang berseliweran.
"Pengantin perempuannya cantik, anak orang kaya lagi."
"Tapi, kok yang laki-laki tidak jelas asal-usulnya."
"Apa dia dipungut untuk dijadikan menantu."
"Hih, mana mau keturunan konglomerat sejagat punya menantu pungut."
"Jangan asal bicara, bisa-bisa kepala kita dipenggal pengawalnya."
"Kenyataan begitu, opa dan omanya memiliki rumah sangat luas. Namun karena masalah keluarga, mereka tidak menempati tempat tinggal bagai istana lagi."
"Sekarang dengar-dengar dijadikan destinasi wisata. Bahkan pengawal yang dulu, disuruh bekerja di sana. Sangat disayangkan, mengapa tidak aku saja yang sewa."
Chaka menggandeng tangan Yana, menuju ke kursi pengantin. Pembawa acara memberikan sambutan, lalu para tamu menikmati hiburan sederhana. Tasya dan Devin masih memegang microphone, untuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan.
"Ayo silakan disantap jamuannya, sambil menikmati tampilan seni beladiri, dari para pengawal keluarga besar Sebastian." ucap Devin.
"Hari ini hari bahagia, jangan ada yang tidak makan." timpal Tasya, sambil menunjukkan deretan giginya.
”Yana buru-buru mengadakan resepsi, apa karena aku menyatakan perasaan?” batin Ronal bertanya-tanya.
Semua orang bertepuk tangan, saat batu berhasil dipecahkan dengan tangan. Semakin ada yang heboh, saat pertarungan sengit dimulai. Seseorang berhasil menjatuhkan lawan, hingga wajahnya menabrak lantai. Kaila diam di pojokan sengaja menyendiri, sambil menusuk agar-agar yang tidak juga dimakan. Tiba-tiba sebuah sendok mengangkat agar-agar, yang sudah tidak karuan bentuknya.
Kaihan melahap dengan perlahan. "Jangan biarkan makanan mubazir, untuk aku saja."
Kaila beranjak dari duduknya, mukanya tidak senyum menatap lawan bicara. "Kamu tidak usah berlagak peduli, bahkan hatiku lebih hancur dari agar ini. Lebih jahat seseorang yang cuek pada janjinya, demi berboncengan bersama perempuan lain." Berlari meninggalkan Kaihan.
Setelah selesai acara, sekarang Chaka dan Yana berduaan di kamar. Ada pembicaraan tentang pekerjaan, yang ingin dibahas bersama suaminya.
"Chaka, sebenarnya aku kasian dengan Ronal. Hatinya mungkin merasa sedih, karena gagal kerjasama dengan tuan Bayoli." Yana curhat.
"Tidak gagal kok, aku berhasil membujuk tuan Bayoli. Dia setuju untuk kerjasama dengan perusahaan miliknya." jawab Chaka.
"Semudah itu?" Yana tidak berkedip, masih tidak percaya.
"Iya, siapa dulu aku!" jawab Chaka bangga.