
Pencarian Kaila dilakukan oleh tim SAR, saat ombak sudah berhenti menerjang deras. Dengan terburu-buru dibawa ke rumah sakit terdekat, saat tubuhnya sudah ditemukan di pinggiran laut.
Dokter Afri keluar dari ruangan Kaila dirawat, menemui Devin dengan tatapan menunduk. Dia takut kena amukan juga, karena reaksi Devin sedang garang.
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Devin.
"Dia sekarang masih tidak sadarkan diri, kelihatannya dia sempat kesulitan bernafas." jawab dokter Afri, dengan jujur.
Devin mencengkeram kerah baju Afri. "Jadi, putriku akan terus pingsan?" Memelototi orang yang kini jadi pelampiasan.
"Aku tidak mengatakan begitu tuan Devin." jawab dokter Afri.
"Jangan bertele-tele, katakan inti pokoknya." titah Devin.
"Dia sudah aku berikan pengobatan terbaik, di rumah sakit ini." jawab Afri.
Perlahan cengkeraman tangan Devin mengendur. Dia bisa sedikit menarik nafas lega, lalu menghembuskan dengan santai.
Devin menatap tajam ke arah Kaihan. "Kalau kamu mendekati putriku hanya membawa pengaruh buruk, tinggalkan saja dia."
"Maafkan aku Om." jawab Kaihan.
"Hobi kamu ini sudah membahayakan putriku, lain kali bermain speed boat kamu sendiri saja. Bisa-bisanya kalian membolos, lalu pergi ke laut." ujar Tasya.
"Pa, jangan terlalu keras. Ini juga kesalahan Kaila, tidak sepenuhnya salah Kaihan." Tasya berusaha melerai amukan suaminya, yang sudah terlihat menggebu-gebu.
"Kamu masih bisa membelanya, bagaimana bila dia tidak tertolong." Devin berpangku tangan.
"Selalu saja ada takdir baik, selagi Tuhan mengizinkan jalannya terarah pada manusia." jelas Tasya.
Esok harinya Yana dan Ronal jalan berdua, sekalian menjenguk Kaila lagi. Chaka merasa tidak dianggap, jadi dia cari-cari masalah. Chaka sudah sampai ke rumah sakit, setelah mendahului mobil Yana. Ronal berjalan dan Chaka menghadangnya, namun Ronal terlihat mengelak.
Chaka menyentuh tangan Yana, dan kali ini sangat aneh. Yana tidak pingsan, hanya mengelak saja. Gugup, namun berani menghempaskan tangan Chaka.
"Eh, phobia kamu terhadap sentuhan sudah menghilang." Chaka tersenyum, dia merasa senang.
"Tidak, aku rasa hanya denganmu." jawab Yana.
"Nanti kita jalan lagi yuk." ajak Ronal.
"Iya, aku ingin memancing." jawab Yana.
Chaka menggenggam telapak tangan Yana lagi, lalu menariknya masuk ke dalam rumah sakit. Devin dan Tasya melihat Kaila, yang baru saja membuka kedua matanya.
"Aku di mana?" Kaila menatap langit-langit kamar.
"Kamu di rumah sakit sayang, kamu sempat pingsan." jawab Tasya.
"Di mana Kaihan?" tanya Kaila, memperhatikan sekeliling.
"Dia sudah pergi dari kemarin, dan tidak berani memunculkan batang hidungnya lagi." jelas Devin.
Pintu kamar pasien terbuka, Yana masuk ke dalam bersama Chaka. Ronal juga mengikuti di belakang, dan meletakkan keranjang buah di meja.
"Di sini khusus anggota keluarga, aku harap yang tidak berkepentingan jangan lama-lama." sindir Chaka, berusaha mengusir yang dianggap saingannya.
"Kamu keberatan iya ada aku? Tenang saja, aku tidak lama di ruangan ini. Aku segera jalan dengan Yana." jawab Ronal.
Tasya menekan pundak Devin, dan menyuruhnya mendekatkan telinga. "Menurutku, Chaka dan Yana bagus seperti ini. Dengan adanya kedekatan Ronal dan Yana, akan membuka ruang cemburu."
Devin hanya manggut-manggut. "Yeah, kamu benar juga. Lama-kelamaan, Chaka akan merasa tersingkir.