
Yana pergi bersama Ronal, namun ada Febby juga. Artha pun satu mobil dengan mereka, namun hanya diam saja. Sedikitpun tidak mau menyapa, teringat pertengkaran waktu lalu.
"Ronal, kemarin aku pergi ke pabrik gas dekat hutan Mongonola. Ini semua karena pesan singkat, yang menyatakan Chaka masih hidup. Sampai ke sana aku masuk gudang nomor 6, lalu tidak ada siapapun. Setelah itu mendengar keributan, dan suara mobil polisi." ujar Yana.
"Hah? Mereka ditangkap polisi?" Ronal terkejut, mendengar penuturan Yana.
"Kenapa kamu tampak terkejut?" Yana jadi merasa aneh.
"Tidak, bukan seperti itu Yana. Ak... aku heran saja, mengapa baru sekarang bisa terjebak. Apa jangan-jangan, ini trik tipu muslihat." Berbicara terbata-bata, terlihat gugup.
Yana pergi ke studio rekaman, untuk menyelesaikan dialog peran kartun dan anime. Setelah satu jam di dalam ruangan, akhirnya selesai juga rekaman film Menikah Denganmu Takdirku.
"Lega sekali, ayo kita makan-makan." ajak Febby.
"Iya sayangku." Yana merangkul pundak Febby.
Febby melihat ke arah Artha. "Ayo cepat jalan, mengapa kamu diam saja?"
"Aku merasa risih, jika ada orang lain selain kita bertiga." Menyindir orang di sebelah Yana.
"Tidak usah khawatir, aku mau pergi saja." Ronal menggerakkan tongkatnya.
"Ronal, kamu tidak usah langsung pergi. Tetap di sini saja, lagipula omongan Artha tidak cocok dimasukkan ke hati." rayu Yana, berusaha mencegah pergi.
"Tidak apa-apa, aku ada urusan juga." ujar Ronal.
"Iya sudah, hati-hati di jalan." Yana membiarkan Ronal pergi, setelah tahu alasannya.
Dalam perjalanan Yana melihat boneka beruang lucu, sedang berjoget-joget di tempat yang tertata rapi. Yana mendekat ke arahnya, mengajak foto bersama. Artha yang menjadi fotografer serba salah, karena Febby selalu protes dengan hasilnya.
"Aku mau ulang lagi, pokoknya sampai bagus." ujar Febby.
"Iya sudah, ayo ulang." ajak Yana.
Cekrek!
Suara jepretan dari kamera Artha, dan seseorang dalam boneka tersenyum. Siapa lagi bila bukan Chaka, yang merasa rindu dengan istrinya. Dia memeluk Yana dari belakang, lalu Artha juga membidiknya.
"Aku tidak nyaman, jika orang lain memelukku. Tolong lepaskan sekarang juga, terlebih jika kamu laki-laki." pinta Yana.
Ingin rasanya dia berkata-kata, untuk sekadar memeluk lebih lama. Namun tangan itu mengalah juga, memilih untuk melepaskan dengan cepat. "Maaf nona, tidak seharusnya aku lancang." jawabnya, dengan suara lirih.
Boneka itu segera berlari, bersamaan dengan boneka di sebelahnya. Keduanya berlari terbirit-birit, dan Yana hendak mengejarnya namun dicegah Febby.
"Biarkan saja, lagipula foto kita sudah banyak." Febby menarik lengan Yana.
"Suara itu familiar, dia adalah Chaka. Buktinya, aku tidak pingsan saat disentuh." jawab Yana.
"Iya sudah, kita makan saja. Ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucap Artha.
"Baiklah, ayo pergi." Yana mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Yana pergi ke restoran dengan Febby, dan juga Artha yang masuk ke dalam buru-buru. Artha mendekati Yana, lalu berbicara sambil menunduk.
"Aku punya firasat, kalau Chaka masih hidup." ujar Artha.
"Nah, benar 'kan kalau tadi itu Chaka." jawab Yana.
"Tidak, boneka tadi belum tentu dia. Tapi tidak tahu juga, karena orangnya berada di dalam." Artha memperhatikan sekeliling, seolah maling saja.
"Suaranya pun mirip sama dia. Namun kenapa harus pura-pura tidak mengenali istrinya." jawab Yana.
"Dia pasti punya rencana besar." ujar Artha.
"Kalau benar masih hidup, aku akan sangat marah." Yana meletakkan ponsel di meja.