
Ronal meraba-raba kertas undangan pernikahan, yang sekarang tengah membuat gempar publik. Semua awak media seolah mengekspos berita hari bahagia itu. Ronal meremas kertas, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Seorang asisten rumah tangga memungutnya, lalu memasukkan dalam tong sampah. Padahal baru tadi pagi, kertas itu diantar.
"Tuan, itu undangan pernikahan Chaka dan anak keturunan konglomerat sejagat." Masih juga berani memberitahu, tidak takut dicekik apa.
"Aku juga tahu, tidak perlu disebutkan lagi. Lebih baik Bibi keluar dari sini." bentak Ronal.
"Ba... baik tuan." Merasa ngeri, membuat perempuan itu bersuara terbata-bata.
"Panggilkan para pengawal ke sini." Masih bersuara dengan teriak-teriak.
Pembantu itu berlari memanggil para pengawal, tanpa banyak tanya lagi. Tidak berani basa-basi, melihat tuan rumah bagaikan petir menggelegar.
"Ada apa tuan?"
"Sini mendekatlah, aku ingin bicara penting." Ronal berbisik.
Artha diam-diam merasa kagum pada Febby. Memandangi tangannya yang lihai, membantu dekorasi hari istimewa sahabatnya. Artha dan Febby berebut pintu masuk, saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Petir menyambar dengan kuat, terdengar mengerikan. Jendela-jendela mulai ditutup rapat, menggeser dengan cepat tirai.
"Eh, kalian berdua kenapa seperti anak kecil?" Yana tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
"Dia ini laki-laki, tapi tidak mau mengalah." Febby menyikut perut Artha.
Artha mundur, membiarkan Febby masuk duluan. Yana menyuruh mereka duduk di kursi ruang tamu, karena dia berniat mengambil handuk. Tidak lama kemudian, keluar dari kamar.
"Cepat lap kepalamu, biasanya sudah terpercik air hujan bisa demam." Yana memberikan handuk.
"Jangan sungkan, kamu sudah repot-repot. Padahal sudah banyak orang, yang menyiapkan resepsi pernikahan." ujar Yana.
"Tidak, mereka pasti kurang paham. Hanya aku yang paling tahu, kesukaan kamu." Febby tersenyum bangga.
Yana dan Febby, sibuk periksa makanan di dapur. Febby diajak mencicipi kue-kue, dan Chaka berbicara serius dengan Artha. Sesekali mata Artha memandang ayam semur, campuran saos tiram pada kuahnya.
"Eh, aku jadi ingat dengan Paman dan Bibi. Dulu kita berebut makanan, lalu pada akhirnya kamu selalu mengalah. Kamu yang dimarahi sampai mempertanyakan statusmu, sebagai anak kandung atau bukan. Aku rindu masa kecil, dan saat dewasa mereka tidak bisa menyaksikan pernikahanmu. Ini semua karena pembunuh itu, kita jadi kehilangan mereka." Artha merasa sedih, setiap kali bernostalgia.
"Artha, mereka masih hidup di dalam hatiku. Aku yakin mereka ingin aku hidup dengan baik, meskipun sedih aku harus bangkit. Ada lembaran baru bersama Yana, membuat hati yang patah bersatu kembali. Aku mulai menemukan bahagia, saat dia selalu di sampingku." jawab Chaka, merasa terharu.
"Paman dan Bibi memang tidak salah menjodohkan." puji Artha.
"Tentu saja, dia adalah anak dari sahabat mamaku." Chaka mengingat perkataan lampau, yang seakan masih berdenging sekarang.
Yana mendekat ke arah Chaka dan Artha, bersama dengan Febby yang membawa baskom. Artha geleng-geleng kepala sambil tertawa, dia bahagia didekat Febby.
"Kamu mau merampok makanan di rumah sahabatmu?" tanya Artha.
"Tidak, ini hanya mencicipi." jawab Febby.
Artha mencomot makanan yang digigit Febby. "Sepeti ini namanya makan, sedangkan mencicipi itu sedikit."
"Eh, kamu tidak sopan. Ambil saja di dalam baskom, masih bisa aku maklumi." Febby mengerucutkan bibirnya.