
Sudah tengah malam, masih saja perut dilanda kesakitan. Ini semua karena kebanyakan minum kopi.
"Sayang, maafkan aku iya." Yana mengoleskan minyak angin pada perut Chaka.
"Lain kali, kamu jangan seperti itu lagi." jawab Chaka lembut.
Chaka mengklarifikasi berita yang beredar di internet, akhir-akhir ini sangat meresahkan. Semakin banyak saja yang memperluas berita hoak tersebut. Wartawan berebut melemparkan pertanyaan, dan tidak segan saling mendorong.
"Aku masih hidup, mana mungkin istriku menikah lagi." ujar Chaka.
"Namun, mengapa selama ini memilih sembunyi." Para wartawan ingin tahu, dengan alasan yang dilakukan pebisnis muda tersebut.
"Melawan musuh yang keji, tidak harus selalu jelas." ucap Chaka.
"Maksudnya, tuan Chaka punya musuh besar iya." Pria muda berkacamata penasaran.
Chaka terdiam, malas menjelaskan lebih panjang lagi. Dia segera merangkul pundak Yana, mengajaknya masuk ke dalam. Para satpam kantor melarang wartawan, untuk memasuki perusahaan Alexander.
Tidak lama kemudian, sekretaris kantor datang. Dia memberikan pesanan makanan yang Chaka mau. Yana melihat sebuah kotak, yang bertuliskan mie kuah terpedas.
"Sayang, kamu makan mie apa?" tanya Yana.
"Aku makan mie kuah." jawab Chaka.
Yana heran melihat piring Chaka. "Mana kuahnya?"
"Kuahnya tidak ada heheh..." Chaka terkekeh. "Memang sengaja minta pesanan dikeringkan ." jawabnya.
"Mau disuapi!" Yana membuka mulut.
Chaka mengangkat sendok yang berisi mie, lalu menyuapinya. "Bagaimana, enak 'kan?" Mengelap bibir Yana dengan jari telunjuknya.
Selesai makan, keduanya beristirahat dengan tenang. Mereka saling bekerjasama, menghadapai antusiasnya bidikan kamera. Tangan Yana lihai dalam melakukan gerakan memencet, sehingga sudah puluhan foto dalam satu menit.
"Iya dong, aku 'kan mengikuti kamu. Kebiasaan mengunyah yang buruk, hingga lidah jadi seperti ini." jawab Chaka.
"Lidahku kecil, apa yang salah denganku. Kamu pintar melemparkan kesalahan pada istri. Aku tidak akan memberikan diriku padamu, malam ini kamu tidur di karpet bawah." titah Yana.
"Iya, aku yang salah. Kamu istri merajuk, harus cepat dibujuk." Chaka mengalah.
"Aku suka sekali melakukan ini, rasanya sangat bahagia. Wajahmu yang tidak ikhlas tertindas, akan menjadi kenangan dalam memori." Yana tersenyum mengembang lebar.
"Iya sudah, kalau kamu bahagia aku ikut senang. Lakukanlah setiap merasa penat, agar kamu bisa lebih merasa segar. Aku tidak masalah, kalau dijadikan pelampiasan." jawab Chaka.
Setelah dibebaskan dari hukuman ikatan gantung, mereka berdua menjaga jarak. Ayah dan ibu Febby memperhatikan dengan seksama, tidak ingin mereka pura-pura untuk mendapat sebuah kebebasan.
"Ayah, Ibu, kami ingin pergi makan di luaran. Kalian mau titip apa?" tanya Febby.
"Tidak titip apapun, karena Ibu yang akan pergi sendiri." Menjawab sambil tersenyum, bermaksud ingin mengawasi.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya berhasil sampai ke tujuan. Tiba-tiba ada anak kecil, yang menoleh ke arah Artha.
"Hai Om!" panggilnya.
"Siapa yang mengakui kalian ponakan ku." Artha menjawab ketus, lalu memilih kursi duduk.
"Umurku ini masih 25, sering sekali dipanggil Om. Menikah saja belum, menyebalkan sekali."
"Sudahlah, daripada dipanggil Sang Pencipta." Febby sempatnya bercanda.
Ibu Febby melihat ke arah mereka. "Ingat pesan Ayah, kalian berdua jangan melakukan hal melanggar lagi."
"Iya ibuku yang cantik." Febby menjawab, sambil menahan kesal.
Chaka menerima pesan audio, yang dikirimkan oleh Kaila. Dia memutar rekaman tersebut, untuk memastikan isinya. Memang benar suara asli Isruni, saat menyatakan hal yang terjadi.