
Saat Artha menelepon, ponsel Febby berbunyi. Febby menjawab telepon, dan Artha mendengar suara Febby di speaker ponselnya.
"Febby, jadi perempuan itu kamu?" Artha tercengang tak percaya.
"Lah, kok kamu orangnya?" Febby tidak menyangka, hal tersebut akan terjadi.
"Aku jelaskan, aku hanya mencoba karya yang aku buat. Aplikasi ini aku yang mendirikan, jadi harus tahu kecocokannya sampai di tahap apa." ucap Artha.
"Iya, aku juga ingin mencobanya. Bukankah, sekarang kita menjadi rekan kerjasama." jawab Febby.
Artha dan Febby makan berdua, di satu meja yang sama. Febby tertunduk malu, begitupula dengan Artha.
"Kamu suka jus?" Bertanya, tapi jadi canggung.
"Iya, kamu suka kopi?" Bertanya balik, reaksi tidak seperti biasanya.
"Tidak juga, sekarang kita mulai makan." Artha berusaha mempercepat waktu.
"Ummm... iya." Febby melahap jelly bersama nasi, karena terlalu gugup.
"Bukankah itu makanan penutup, rasa buah bisa dijadikan cuci mulut." Artha nyengir heran.
"Iya, harusnya begitu." jawab Febby.
Yana menyisir bulu-bulu halus milik marmut kesayangannya. Sekarang dia bisa bermain-main kembali. Dari kemarin sibuk mengurus konten videonya, lalu mempersiapkan acara.
"Akhirnya ada waktu bersama kamu, maaf jika akhir-akhir ini kurang perhatian. Aku begitu sibuk, terpaksa membiarkanmu kesepian dalam kandang." Yana mencubit-cubit pipi mungilnya.
Tiba-tiba telinga marmut dijewer dari belakang, Chaka ikut senang melihat binatang tersebut. "Apa yang kamu suka, aku jadi tertarik untuk mengikutinya."
"Hahah... ketularan." Yana tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya.
Chaka memberikan sebuah tiket pada Yana. "Aku mau mengajak kamu pergi ke bioskop. Menonton film apa saja yang seru."
"Hmmm... aku suka dengan trailer film terbaru. Meski baru iklan untuk promosi saja, sudah terlihat menarik. Pasti durasi panjangnya lebih menyeramkan. Ini tentang kuntilanak ketiban jenggot gendruwo." jelas Yana, dengan mata berbinar-binar.
Siang harinya, Yana pergi ke rumah Creator. Dia sudah memborong banyak tiket menonton, dan diberikannya pada Febby.
"Eh, kok datang-datang kasih tiket nonton ke aku?" tanya Febby.
"Mau tidak? Temani aku dan Chaka menonton." rayu Yana.
"Boleh saja si, tapi siapa pasanganku?" Febby malas menjadi obat nyamuk, yang berkeliling lalu habis dengan sendirinya.
"Ajak Artha saja, kalian berdua tampak serasi." Yana mengusulkan idenya.
Baru saja namanya disebut, Artha sudah muncul tanpa diundang. Artha tersenyum ke arah Febby sambil malu-malu, sebenarnya mau dekat.
"Febby, aku mau kamu menjadi pacarku. Sudah lama aku memiliki perasaan, sejak awal berjumpa pada pernikahan Chaka dan Yana." ucap Artha.
"Harusnya jangan dikatakan sekarang, kurang romantis sekali di emperan begini. Minimal ada persiapan, atau bunga khusus." Febby bukannya menjawab, malah sibuk dengan cara Artha yang tidak membuat kejutan.
Bersamaan dengan itu pedagang sayur lewat, lalu Artha segera berlari ke arahnya. Dia membeli bunga brokoli, dan duduk bersimpuh dengan kaki kanan menyentuh lantai. Kaki kiri posisinya lebih tinggi, lalu genggaman brokoli di atasnya.
"Terimalah aku menjadi kekasihmu, karena pernyataan ini benar-benar tulus. Jangan melihat dari rupa bunga brokoli, namun lihatlah raut wajahku yang serius." Menyatakan dengan sepenuh hati.
Menerima bunga brokoli sambil meremas kesal. "Iya aku terima, ayo masuk ke dalam saja. Kamu sudah mempermalukan aku, mau diletakkan di mana wajah ini."
Ibu-ibu komplek lewat sambil mencibir cara Artha. Membanding-bandingkan berita pernikahan terbesar, yang ada di koran pagi ini. Jelas saja Yana tidak enak, karena pernikahannya menerima sorotan heboh tanpa diminta.