Loven Draft

Loven Draft
Serunya Kebersamaan



Bayu menyetir mobil sambil berlenggak-lenggok, membuat Binazir ingin memukul kepalanya pakai sepatu. Suara klakson mobil-mobil di belakang, terdengar berulang kali. Pengemudi sudah marah sejak tadi, karena Bayu mengganggu pengguna jalan yang lain.


"Harusnya kamu mati saja, waktu pertandingan terjun payung." gerutu Binazir.


"Binazir, tarik ucapan kamu. Aku mendadak sangat sakit, ingin memuntahkan makanan yang baru aku telan." Bayu mengigit tisu, lalu bergerak mengambil ponsel, tidak lupa juga mic.


"Bayu, jangan mulai lagi deh." Dayu berpangku tangan.


🎵🎶Kalau saja kodok tidak mendengkur, membangunkan sang putri, pasti masih ada kesempatan, aku hanya pria muda malang, punya Kakak sangat rakus...🎶🎵


Bayu bernyanyi, sambil memukul botol. Ponselnya sudah tergores, masih saja dijadikan alat untuk berbuat ulah.


🎵🎶 Andai aku punya taring, ingin aku koyak hati sang Kakak, pasti aku serahkan pada singa betina, aku tidak setuju bila disaingi, aku sudah lelah mengalah, ingin memiliki cinta yang utuh🎶🎵


🎵🎶Bumi runtuh, badai datang, seakan tahu dukaku, kupu-kupu ikut bersedih merasa iba, ada pria muda keren patut dikasiani, seluruh bidadari langit turun membujuk wanita yang aku cinta🎶🎵


"Ekspresi Bayu bagai hantu kepala bulat." Binazir cemberut, ingin menghardiknya berulang kali.


"Sabar sayang." Dayu mengusap pundak Binazir.


"Sekarang aku meragukan, apa benar dia adikmu? Jawab dengan jujur, kamu pungut di mana?" Berteriak di ujung kalimat.


"Dia memang seperti itu, tapi sebenarnya baik kok. Dia hanya tidak ingin kalah dengan kakaknya saja." Dayu memberitahu sifat asli Bayu.


🎶Drum ingin berbunyi merdu, untuk membantuku mengutarakan cinta. 📣


Kalau saja aku bisa, aku ingin mengangkatnya ke atas awan. 🎶🎵


Bayu terus bernyanyi, meski Dayu dan Binazir menutup telinga. Suaranya cempreng, dan tidak peduli sekitar. Dayu dan Bayu protes tidak dipedulikan, bahkan sekarang menyetir dengan volume tinggi. Angsa-angsa pinggir jalan ilfeel, bukannya terpesona melihat Bayu pecicilan.


Sesampainya di apartemen, Binazir mengelus dada karena baru melewati hal menegangkan. Jantungnya terasa ingin copot, dari tempat asalnya.


"Aku tidak mau bila kamu yang menyetir mobil lagi." teriak Binazir.


"Maafkan aku Bina, cemburu dapat menyebabkan dampak buruk." jawabnya.


Mereka masuk ke dalam ruangan, dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Dayu memeriksa isi kulkas, bersamaan dengan Bayu yang intip-intip.


"Mari kita buat suasana panas." ajak Dayu.


Binazir membulatkan kedua bola matanya, sambil menyilang kan tangan di dada. "Jangan berbuat kurang ajar, atau aku beri kalian pelajaran."


"Aku hanya ingin mengajakmu makan, mengapa berpikir terlalu jauh." jawab Dayu.


Mengepalkan tangan setinggi dada. "Hampir saja kena tinjuan."


"Nah... kalau seperti ini sifatmu, aku kira kamu membiarkan otakmu jalan-jalan." Bayu tersenyum menyebalkan.


"Sorry, harusnya aku tidak spontan." Bayu senyum, sampai memperlihatkan giginya.


Dayu memasak mie lidi dicampur sosis, daging ayam goreng, dan juga tepung kriuk. Binazir memperhatikannya dengan seksama, namun tidak mengerti juga.


"Apa yang kamu buat, seperti resep baru." ujar Binazir.


"Iya, ini makanan resep ala chef Dayu." jawabnya, sambil tersenyum.


Bayu mencium aroma sedap dari piring, yang dibawa oleh Binazir. Dayu ada di belakangnya, membawa nampan berisi gelas. Mereka duduk bersama di kursi sofa, berhadapan dengan Bayu yang bagian sendirian.


"Binazir, sedikit feminim dong, jangan seperti itu kalau makan." Dayu melirik kaki Binazir yang ada di atas meja.


"Ini yang disebut apa adanya." Binazir senyum.


"Feminim woy, feminim!" Bayu menahan tawa, tidak tahu apa yang lucu.


Binazir dengan ekspresi dibuat-buat imut, lalu menurunkan kaki ke bawah. Binazir mengatupkan telapak tangannya, dan mencengkeram lutut. "Aku sudah feminim, jangan hakimi aku Kakak." Tersenyum menyebalkan ke arah mereka berdua.


Aurin melihat Binazir pulang diantar Dayu, lalu pintu segera dibuka. Binazir melambaikan tangannya, sambil terus menatap mobil Dayu yang hendak berbelok.


"Binazir!" panggil Aurin.


"Iya." jawab Binazir lirih.


"Malam ini kita hanya tidur berdua, karena Dhisa menginap di kosan Belty dan Whika." ujar Aurin.


"Tidak masalah, ada aku yang menemani kamu." Binazir menepuk-nepuk pipi Aurin.


Sementara di sisi lain.


"Bayu, lebih baik kamu fokus belajar terlebih dulu. Bagaimana pun juga, Binazir hanya ingin bersamaku." Dayu mencoba berbicara, meminta adiknya menyerah pada sesuatu yang percuma.


"Kak Dayu, kamu itu cuma Kakak dua menit." Mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan. "Setelah kelahiran Kakak, baru aku lahir. Selisih sedikit saja, namun bila bersedia mengalah aku hargai seumur hidup." Bayu tersenyum semanis belimbing, campur gula dan kecap.


Dayu menutup rapat mulutnya sejenak, lalu berjalan kaku bagai zombie. Bayu melihat badan Dayu yang tinggi, sudah meninggalkan Bayu yang berwajah balita imut.


"Kakak dua menit, mengalah lah padaku."


"Tidak bisa." Dayu melangkahkan kakinya.


"Sukses karir itu butuh kerja keras, apalagi dengan sukses cinta pasti butuh usaha." ujar Bayu.


"Sukses itu tidak dari kerja keras sepenuhnya, namun karena keberuntungan disaat yang tepat." ujar Dayu.