
Saat memasuki pintu lift ingin berduaan, malah masuk banyak orang. Febby dan Artha merasa terganggu, karena gagal lagi. Padahal ingin melanjutkan aksi yang tertunda, saat memancing di kampung halaman.
"Mengganggu saja." bisik Artha.
"Kita belum beruntung, maka coba lain kali." jawab Febby.
Chaka, Devin, Pengawal Belko dan beberapa pengawal lainnya berdiskusi di ruang tamu. Mereka memikirkan cara, untuk mencari Yana.
"Eh, aku memantau dermaga ada laporan dari pekerja. Katanya ada pria asing membeli nasi bungkus, lalu membawanya ke gudang sekitar. Berdasarkan informasi, ciri-ciri fisik yang disebutkan mirip dengan nona Yana." ujar Belko.
"Dia sengaja ingin membuat kita terkecoh." jawab Chaka.
"Mungkin, dengan meletakkan mobil di sana, tuan akan mengira itu jebakan. Jadi kita segera pergi, tanpa memeriksa lebih detail."
"Hari ini tidak boleh lepas, kita harus segera menangkapnya." jawab Chaka.
Pemeriksaan dilakukan oleh pengawal di dermaga, dan tidak ada tanda-tanda yang mengganjal. Chaka membuka gudang nomor 44, melihat sekeliling tidak ada siapapun juga.
"Ayo kita periksa tempat lain." ajak Devin.
"Baiklah." jawab Chaka.
Saat menutup pintu, Chaka mendengar suara. Dia mempunyai firasat, bahwa istrinya berada di belakang tumpukan barang. Gudang seluas itu, namun susunan barang terlalu maju ke depan. Devin melihat Chaka yang termenung saja, tidak tahu apa yang dipikirkannya.
"Chaka, kenapa kamu melongo. Ayo kita cari istri kamu sekarang." ajak Devin.
"Iya Pa." jawab Chaka.
Mereka berjalan hingga ke pinggir dermaga, dan Devin melihat rantai pembatas yang putus. Ditambah lagi ada pecahan kaca mobil, dia mengira putrinya masuk ke dalam laut. Devin segera melompat ke dalam air.
Devin nekat masuk ke dalam air, membuat Chaka terkejut akan tindakannya. Tanpa sebuah aba-aba dan pemikiran panjang, dia langsung melakukan hal gegabah. Chaka melihat ke arah pinggir dermaga, ada sebuah pecahan kaca mobil.
”Ronal pasti sengaja ingin membuat semua orang terkecoh. Mungkin saja dia sekarang berada, di gudang dermaga nomor 44.” batin Chaka menduganya.
Chaka segera mengajak para pengawal kembali ke gudang dermaga 44. Bersamaan dengan itu, Ronal berdiri di depan pintu. Dia segera menarik Yana untuk kembali bersembunyi, mengurungkan niat yang ingin berpindah tempat.
”Tampaknya ada suara mendekat ke arah sini, padahal tadi sudah diperiksa.” batin Ronal.
Yana sengaja menabrak karung pupuk, hingga menimbulkan suara kuat. Ronal benar-benar murka, lalu menampar pipi Yana. Chaka diam-diam menembak dari belakang, hingga Ronal tewas di tempat.
Chaka melihat Yana hendak terjatuh ke lantai, dan dia segera menangkap tubuh istrinya. "Sayang, kamu tidak apa-apa 'kan? Ayo bangunlah!"
Sementara di sisi lain, Febby gelisah dengan keadaan Yana. Meskipun tidak ikut serta, namun doa selalu tercurah dalam hati.
"Kakak, cepat awas!" Kaila berteriak, lalu menggeser Febby dari posisinya.
"Apaan si! Aku lagi memberi marmut makan." jawab Febby.
"Mulai aktif iya Bun, begitu iya marmut nya, lihat makan wartel dengan lahap. Tidak ingat untuk berbagi padaku." Kaila tertawa, gemas melihat anak marmut dalam kandang.
"Kamu makan wartel pasti diberi tepung, dia tidak perlu digoreng pun bersedia melahapnya." jawab Febby, membanding-bandingkan.
"Mengapa Kakak yang cerewet ini menggantikan peran Kak Yana?" tanya Kaila.
"Selama dia tidak ada, aku akan mengurus peliharaan kesayangannya." jawab Febby.